Semua mata di ujung IGD itu kini tertuju pada satu tandu kecil.
Pak Damar berdiri di samping para auditor, senyum tetap di wajahnya, tapi Alga melihat keringat tipis muncul di pelipisnya. Auditor perempuan berkacamata—pemimpin tim, Alga menebak—melangkah lebih dekat, matanya menyapu monitor, jalur infus, wajah pucat anak di tandu.
"Saya tanya, apa yang terjadi?" ulang Damar, kali ini suaranya lebih tegas, dengan nada yang seharusnya menyuruh semua orang kembali ke posisi masing-masing.
"Pasien syok septik, Pak Direktur," kata Alga, lantang dan jelas, sengaja agar penerjemah di sebelah auditor menangkap setiap kata. "Anak tujuh tahun. Tekanan darah turun, perfusi buruk, kesadaran menurun. Saya sedang menjalankan protokol resusitasi sepsis. Cairan, antibiotik dalam satu jam emas, pemantauan ketat."
Auditor perempuan itu memiringkan kepala. Dalam bahasa Inggris yang pelan, ia bertanya pada penerjemah, lalu penerjemah meneruskan pada Alga, "Beliau bertanya—tadi ada dokter lain yang akan memulangkan pasien ini. Beliau mendengar kata 'pulang'. Apakah benar?"
Hening sesaat yang terasa seperti jurang.
Alga menatap Wirya. Wirya menatap Damar. Damar menatap auditor, lalu pada lembar status di tangan Wirya—lembar yang kolom diagnosisnya sudah dicoret, sudah ditulis ulang menjadi "demam berdarah, rawat jalan".
"Itu—" Wirya tergagap. Jas putihnya yang tanpa noda tiba-tiba tampak seperti kostum yang kekecilan. "Itu diagnosis awal saya. Demam berdarah. Tapi—dr. Alga punya pandangan lain, dan—kami sedang berdiskusi—"
"Boleh saya lihat lembar status pasien?" kata auditor itu, lewat penerjemah. Tangannya terulur.
Waktu seakan melambat. Alga melihat tangan Wirya yang memegang lembar itu mulai gemetar—gemetar yang dulu ada di tangan Alga sendiri di hari pertama, kini berpindah ke tangan orang yang selama ini begitu yakin, begitu licin. Di lembar itu tertulis, hitam di atas putih, diagnosis sepsis yang dicoret dan diganti diagnosis ringan. Bukti pencoretan diagnosis, di tangan auditor internasional, di tengah pertunjukan akreditasi.
Damar bergerak lebih cepat. "Tentu saja boleh," katanya, mengambil lembar itu dari tangan Wirya dengan halus, "tapi izinkan saya jelaskan, di IGD memang biasa ada perbedaan pandangan diagnosis awal. Itu justru tanda sistem kami sehat—ada diskusi ilmiah, ada—"
"Pak Damar," potong Alga, suaranya menggetarkan ruangan. "Anak ini sekarat. Sekarang. Sementara kita bicara, tubuhnya melawan infeksi yang membanjiri darahnya. Saya nggak punya waktu untuk diskusi soal akreditasi." Ia berbalik ke tandu, menutup percakapan. "Sekar, tekanan darah?"
"Naik, Dok. Sembilan puluh per enam puluh setelah bolus kedua."
"Antibiotik?"
"Masuk. Kultur sudah diambil sebelumnya."
"Bagus. Lanjutkan, panggil PICU, anak ini perlu ICU anak malam ini." Alga membungkuk di atas Rendi, suaranya melembut. "Rendi, dengar Om ya. Om Alga. Kamu di sini, kamu nggak pulang. Kita bantu kamu napas, kita bantu kamu lawan demamnya. Tahan ya, jagoan."
Mata anak itu, yang setengah terpejam, bergerak sedikit ke arah suara Alga. Itu cukup. Itu hidup.
Para auditor menyaksikan semuanya. Mereka melihat satu dokter membela nyawa anak di hadapan direkturnya, di hadapan stempel ungu, di hadapan ancaman karier. Mereka melihat seorang dokter jaga yang gemetar memegang lembar status dengan diagnosis yang dicoret. Mereka melihat seorang direktur yang lebih sibuk menjaga citra daripada menyelamatkan anak di kaki mereka. Auditor perempuan itu tidak mengatakan apa-apa. Tapi ia mengeluarkan buku catatan kecil dari saku jasnya, dan menulis.
Itu satu titik. Satu titik kecil yang bukan biru, bukan rapi, bukan bagian dari pertunjukan. Satu coretan di tengah grafik yang sempurna.
Tiga puluh menit kemudian, Rendi distabilkan dan dibawa ke ICU anak—di rumah sakit ini, di bawah pengawasan ketat Sekar yang berjanji tak akan meninggalkannya semalaman. Tekanan darahnya membaik. Ia akan melewati malam. Ibunya menggenggam tangan Alga, menangis, mengucapkan terima kasih berkali-kali sampai Alga harus melepaskan dirinya dengan lembut.
Saat koridor mulai sepi, Pak Damar muncul di belakang Alga. Tanpa auditor. Tanpa senyum.
"Kamu pikir kamu menang malam ini," kata Damar, suaranya pelan, hampir lembut, dan justru karena itu lebih menakutkan dari teriakan. "Kamu menyelamatkan satu anak. Bagus. Mulia. Saya hampir kagum."
Alga berbalik menghadapinya. "Saya nggak menyelamatkan dia untuk menang, Pak. Saya menyelamatkan dia karena dia anak tujuh tahun yang mau es krim besok pagi."
Damar menatapnya lama, kepala perak itu sedikit miring, seperti menilai sesuatu yang tidak ia mengerti. Lalu sudut bibirnya naik—bukan senyum, lebih ke pengakuan dingin.
"Sampai sekarang saya kira kamu cuma anak idealis yang bisa ditakuti atau dibeli." Ia membenahi manset jasnya. "Saya keliru. Kamu yang pertama dalam bertahun-tahun yang tidak takut, dan tidak bisa dibeli." Ia berbalik untuk pergi, lalu berhenti. "Itu membuat kamu jauh lebih berbahaya. Dan jauh lebih mudah."
"Mudah?"
Damar tidak menjawab. Ia berjalan menjauh, langkahnya tenang, sepatunya tak bersuara di lantai yang baru dipel untuk para tamu.
Tapi Alga mendengar yang tak diucapkan. Sarung tangan sudah dilepas. Dari sini, tidak ada lagi peringatan. Tidak ada lagi gertakan lewat foto. Tidak ada lagi tawaran damai dengan secangkir kopi.
Perang terbuka telah dimulai.