Pukul 23.14, ponsel Alga bergetar di meja kos. Satu pesan dari nomor tak dikenal: *Tidur nyenyak, Dok.* Ia belum sempat mengernyit ketika hidungnya menangkap sesuatu yang salah. Bensin.
Asap merembes dari bawah pintu, tipis dulu, lalu menebal seperti kabut yang tahu jalan. Alga menyambar tas berisi salinan kertas dan flashdisk cadangan, membungkus mulut dengan kaus, dan menendang jendela kamar. Kaca pecah. Ia jatuh ke lorong belakang dengan lutut berdarah, paru-paru menjerit, sementara di belakangnya api menjilat kasur tempat ia tidur lima menit lalu.
Lima menit. Selisih hidup dan mati selalu sependek itu.
Ia berdiri sempoyongan di tengah orang-orang yang berhamburan. Kos dua lantai itu terbakar dari kamarnya—hanya kamarnya yang lebih dulu menyala. Bukan kecelakaan listrik. Ini pesan, ditulis dengan api.
Ponselnya berdering. Renjana.
"Kos saya dibakar," kata Alga, suaranya parau oleh asap.
Hening sedetik di seberang. Lalu Renjana, datar tapi cepat, "Sekar tidak menjawab teleponnya sejak satu jam lalu. Dan server backup—Anindita bilang ada yang menyerang. Trafik aneh, percobaan masuk ribuan kali."
Tiga titik. Satu malam. Mereka tidak menyerang satu per satu. Mereka menyerang semua sekaligus, agar tak ada yang sempat menolong yang lain.
"Saya ke Harapan Kita," kata Alga.
"Jangan naik kendaraan sendirian," potong Renjana. "Saya jemput. Sepuluh menit."
Renjana datang dengan mobil tua, wajahnya seperti biasa—datar karena terlalu sering melihat malam buruk. Tapi tangannya di setir putih buku-buku jarinya. Mereka melaju menembus kota yang basah. Di tengah jalan, ponsel Alga menyala lagi. Sekar.
"Saya... saya tidak apa-apa," suara Sekar gemetar. "Mereka menjemput saya pakai mobil, bilang anak saya sakit di rumah sakit. Bohong. Mereka cuma... mereka cuma bicara. Bilang mereka tahu sekolah anak saya. Tahu jam pulangnya. Lalu menurunkan saya di pinggir tol." Ia menarik napas patah-patah. "Saya tidak mengkhianati kalian, Dok. Saya tidak bilang apa-apa."
"Saya tahu," kata Alga. "Tetap di tempat ramai. Kami jemput."
Mereka memungut Sekar di sebuah pom bensin, tubuhnya menggigil bukan karena dingin. Lalu ke Harapan Kita, di mana Anindita berdiri di ruang server kecil rumah sakit, layar laptop memantulkan wajahnya yang tegang.
"Servernya bertahan," kata Anindita. "Enkripsi Renjana yang menyelamatkan. Tapi mereka tahu di mana kita simpan. Itu yang menakutkan."
Di sudut ruangan, Bu Sulastri duduk dengan selimut, Nayla di sampingnya. Mereka tak bisa tidur sejak kabar tersebar.
Alga merosot ke kursi. Lutut berdarah, paru penuh asap, dan untuk pertama kalinya sejak hari pertamanya di IGD, ia merasa kalah sebelum perang selesai. Kos hangus. Sekar diteror. Server diserang. Dalam satu malam, mereka dipreteli sampai ke tulang.
"Renjana," kata Anindita tiba-tiba, suaranya berubah. "Kamu—"
Alga menoleh. Baru sekarang ia melihatnya: noda merah merembes di lengan baju Renjana, dari bahu turun ke siku. Renjana sejak tadi menyetir dengan satu tangan, tak mengeluh.
"Pecahan kaca," kata Renjana tenang, seolah membicarakan cuaca. "Mereka melempar batu ke jendela saya juga. Saat saya menyelamatkan ini." Ia mengangkat tas kulit lusuh—buku catatan kulit asli, daftar korban, satu-satunya bukti fisik yang tak tergantikan. Darahnya menetes ke lantai, tapi tangannya tak melepas tas itu.
"Duduk," perintah Anindita, sudah menyambar kotak jahitan. "Sekarang."
Renjana menurunkan diri ke kursi, akhirnya membiarkan wajahnya menampakkan nyeri. Ia menatap Alga lewat ruangan kecil yang penuh sesak oleh orang-orang yang ketakutan dan terluka.
"Mereka pikir malam ini kita habis," kata Renjana lirih.
Alga menatap buku kulit di pangkuan Renjana—diselamatkan dengan darah. Ia menelan asap dan kemarahan.
"Belum," jawabnya.
Tapi suaranya, bahkan di telinganya sendiri, terdengar seperti orang yang sedang meyakinkan dirinya, bukan menyatakan kebenaran.