Amplop notaris berisi satu hal yang belum terbaca: kunci sandi flashdisk hitam itu, ditulis tangan Larasati di secarik kertas.
Bukan kunci angka. Sebuah kalimat. *Tanggal saya berhenti percaya bahwa mereka khilaf.*
"Apa artinya?" tanya Alga.
Renjana membaca dan membaca lagi, lalu wajahnya yang datar perlahan terbuka. "Ada satu hari," katanya. "Larasati pernah cerita. Hari pertama dia sadar ini bukan kelalaian—bukan dokter yang lelah salah diagnosis—tapi disengaja. Pasien stroke pertama yang dia lihat dicoret diagnosisnya. Dia ingat tanggalnya. Dia bilang itu hari kepercayaannya pada rumah sakit mati."
Mereka tak tahu tanggal pastinya. Tapi Larasati menulis kasus itu—di loker 13, kasus lengkap pertama yang mereka temukan. Anindita membuka salinan itu. Tanggal masuk pasien tercetak jelas di pojok status.
Renjana mengetiknya. Format tanggal-bulan-tahun, tanpa spasi.
Layar flashdisk terbuka.
Hening, lalu Anindita berbisik, "Astaga."
Folder demi folder terbentang. Larasati bukan sekadar mengumpulkan—ia mengarsipkan seperti dokter yang membangun rekam medis. *KASUS* berisi ratusan map digital, masing-masing: foto status asli berstempel ungu sebelum dicoret, diagnosis sebenarnya, tanggal pemulangan, dan—yang membuat dada Alga sesak—tanggal kematian di luar rumah sakit yang ia lacak satu per satu lewat catatan sipil. *REKAMAN* berisi file audio rapat, suara-suara yang membahas "ambang mortalitas" dan "kuota". *MEMO* berisi pindaian dokumen Yayasan, surat dana hibah, target angka yang harus dicapai sebelum audit.
Rantai utuh. Dari tangan Wirya yang mencoret, ke instruksi Damar, ke target Yayasan yang ditandatangani Bu Halimah. Pelaksana, dalang, dan dalang di atas dalang—semua terikat dalam satu arsip yang disusun oleh perempuan yang mati untuk membangunnya.
"Dia mengerjakan ini sendirian," kata Renjana, suaranya nyaris tak terdengar. Tangannya yang sehat menyentuh layar pelan, seolah menyentuh wajah seseorang. "Sendirian. Tanpa siapa pun tahu. Sampai mereka membunuhnya." Ia menelan sesuatu. "Saya kerja di sebelahnya dua tahun. Saya tidak tahu apa-apa. Dia melindungi saya dengan tidak memberitahu saya."
Alga meletakkan tangan di bahu Renjana yang sehat. Tak ada kata yang cukup.
Di folder terakhir, ada satu file bernama *UNTUK YANG MELANJUTKAN.* Renjana menggerakkan kursor ke sana, ragu.
"Belum," katanya, menarik tangannya. "Belum sekarang. Kalau saya buka itu sekarang, saya tidak akan sanggup mengerjakan sisanya hari ini."
Alga mengerti. Ada surat-surat yang harus menunggu sampai badai reda.
Mereka bekerja sepanjang hari, menyalin, mengindeks, membuat tiga cadangan terenkripsi di tiga lokasi berbeda—pelajaran yang sudah dibayar mahal dengan kos yang terbakar. Anindita menyusun ringkasan medis. Alga mencocokkan setiap kasus dengan buku kulit fisik—dan kali ini, setiap nama cocok. Buku kulit bukan lagi bukti yang bisa disangkal. Ia jadi peta yang merujuk pada arsip utuh dan sah.
Menjelang malam, Renjana menyandarkan punggung, lengannya yang digantung berdenyut.
"Kita punya semuanya," katanya. "Niat. Pelaksana. Dalang. Aliran dana. Pola statistik. Korban hidup. Saksi." Ia menatap Alga. "Selama ini mereka menang karena buktinya selalu setengah. Sekarang tidak."
"Sekarang kita tidak boleh gegabah," kata Alga, dan ia mendengar suara Renjana sendiri dari bulan-bulan lalu di mulutnya. "Kalau kita keluarkan ini sembarangan, mereka punya waktu menutupi, membakar yang fisik, menyuap yang bisa disuap. Harus serentak. Hukum, pers, dan jalur resmi—bersamaan. Satu pintu terbuka lebih cepat dari yang lain, semuanya gagal."
Renjana memandangnya lama. Lalu mengangguk, dan untuk pertama kalinya, ia menatap Alga bukan seperti mentor menatap murid, tapi seperti dokter menatap sesama dokter.
"Larasati pasti suka kamu," katanya pelan.