Mereka berkumpul di basement Harapan Kita pada Minggu malam, ketika rumah sakit paling sepi. Tujuh orang mengelilingi meja: Alga, Renjana, Anindita, Sekar, dan tiga sekutu yang masing-masing memegang satu jalur—AKP Bayu Saputra dari kepolisian, Ratna dari pers, dan, lewat sambungan video terenkripsi, seorang dokter senior independen yang dipercaya Anindita untuk jalur Kemenkes dan lembaga akreditasi.
Bayu memutar laptop, menampilkan ringkasan arsip Larasati yang sudah ia pelajari semalaman. Wajahnya, yang dulu skeptis, kini keras seperti baja.
"Saya minta maaf," katanya tiba-tiba, menatap Alga. "Berbulan-bulan lalu saya bilang ini cuma 'medis', sulit dipidanakan. Saya menuntut bukti niat." Ia mengetuk layar. "Ini bukti niat. Memo target mortalitas bertanda tangan. Rekaman rapat membahas kuota kematian. Ini bukan kelalaian. Ini pembunuhan berencana sistemik, ditambah korupsi dana hibah. Dan kasus rem mobil Renjana—forensik sudah konfirmasi sabotase, polanya identik dengan kasus dr. Larasati yang dulu ditutup."
"Berarti kita bisa buka ulang kematian Larasati," kata Renjana.
"Sudah saya ajukan. Diam-diam. Lewat satuan lintas wilayah, di luar lingkaran orang Damar." Bayu menatap berkeliling. "Tapi dengarkan saya baik-baik, karena ini menentukan hidup-mati. Begitu satu pintu terbuka, Damar dan Yayasan akan tahu. Mereka punya orang di kepolisian. Mereka punya pengacara yang bisa menahan proses berbulan-bulan. Mereka punya uang untuk menghilangkan barang bukti fisik dan menyuap saksi. Kalau kita gerak satu-satu, mereka punya waktu menutup pintu berikutnya sebelum kita sampai."
"Jadi semua serentak," kata Ratna, jurnalis itu, menyandarkan diri. Ia sudah mendengarkan tanpa bicara, mencatat. "Saya tayangkan investigasi. Pak Bayu eksekusi penangkapan. Tim dokter independen kirim laporan resmi ke Kemenkes dan tahan keputusan akreditasi. Semua dalam hitungan jam yang sama."
"Hitungan jam yang sama," ulang Bayu. "Publikasi jadi tameng. Begitu publik tahu, mereka tidak bisa menghilangkan kita diam-diam tanpa membuktikan kita benar. Begitu Kemenkes tahu, akreditasi tertahan—dana hibah tak cair—motif mereka runtuh. Begitu surat penangkapan keluar serentak dengan berita, mereka tak sempat kabur atau menghapus jejak."
Alga menatap papan tulis kecil tempat Anindita menggambar tiga garis, bertemu di satu titik bertanda tanggal.
"Auditor akreditasi internasional masih di kota," kata Anindita. "Mereka belum mengeluarkan keputusan. Itu jendela kita. Kalau lewat tanggal itu, akreditasi keluar, dana cair, dan semua jadi jauh lebih sulit dibatalkan."
"Berapa hari?" tanya Alga.
"Lima."
Lima hari. Lima—angka itu lagi. Selisih hidup dan mati selalu sependek itu.
"Satu hal," kata Sekar pelan dari sudut, suaranya masih membawa bekas malam ia diculik. "Kalau ada satu saja kebocoran di antara kita, semua gagal. Dan mereka tahu cara menemukan titik lemah. Mereka tahu anak saya. Mereka tahu adik Renjana. Mereka tahu orang tua Dokter Alga di kampung."
Ruangan sunyi.
"Karena itu," kata Renjana akhirnya, "mulai malam ini sampai hari publikasi, tidak ada yang sendirian. Tidak ada yang bicara di telepon. Tidak ada yang menyimpan rencana di mana pun yang bisa diakses. Semua di kepala. Semua di ruangan ini." Ia menatap satu per satu. "Lima hari. Kita pernah bertahan malam yang lebih buruk dari ini."
Bayu menutup laptop. "Satu hal lagi yang akan menutup semuanya," katanya. "Kalau Wirya mau bersaksi—kalau pelaksana langsung mengaku rantai komandonya—Damar tak punya tempat sembunyi. Rekaman dari ruang obat dulu cuma menyebut 'instruksi atasan'. Kita butuh dia menyebut nama. Di bawah sumpah."
Alga teringat wajah Wirya yang panik di depan auditor minggu lalu—dokter dengan jas selalu bersih yang mulai retak.
"Dia takut jadi tumbal," kata Alga pelan. "Itu celah kita."
"Lalu kita harus dorong dia melewati celah itu," kata Bayu, "sebelum lima hari habis."