Pemakaman digelar di pekuburan kecil di pinggir kota, di bawah pohon kamboja yang menggugurkan bunga putihnya ke tanah merah. Langit cerah—terlalu cerah, pikir Alga, untuk hari seperti ini.
Mereka semua datang. Renjana, Sekar, Anindita. Bu Sulastri dengan Nayla menuntunnya. dr. Hartono, yang kini berani menampakkan wajah. Bahkan beberapa keluarga korban—orang-orang yang tak pernah mengenal Gunawan, tapi tahu bahwa lelaki tua inilah yang membuka pintu keadilan bagi orang yang mereka cintai.
Anak Gunawan, lelaki muda yang belasan tahun lalu diselamatkan gratis oleh dr. Larasati saat masih kecil, berdiri di tepi liang dengan mata sembap. Ia memandang Alga.
"Bapak sering cerita soal dokter perempuan itu," katanya pelan. "Yang menolong saya waktu kecil tanpa minta bayaran. Bapak bilang utang nyawa itu nggak pernah lunas." Ia menarik napas. "Sekarang saya ngerti dia bayar pakai apa."
Alga tak bisa menjawab. Tenggorokannya tercekat.
Ketika tanah mulai ditimbun, Renjana melangkah ke tepi liang. Ia tak banyak bicara—tak pernah—tapi hari ini ia bicara, suaranya tenang menahan gemuruh.
"Dua puluh tahun dia menyapu lantai rumah sakit ini. Tak ada yang melihatnya. Tak ada yang ingat namanya." Renjana menatap gundukan tanah. "Tapi dia yang melihat segalanya. Dia yang menyimpan rahasia paling berat di gedung itu sendirian, ketakutan, bertahun-tahun. Dan ketika saatnya tiba, lelaki yang paling kecil di antara kita semua—dialah yang paling berani."
Renjana berhenti, dan untuk sesaat Alga tahu ia tak bicara hanya tentang Gunawan.
"Lara," kata Renjana lirih, nyaris hanya untuk dirinya sendiri. "Kau dengar? Kita menang. Bukan kita yang menang. Mereka. Orang-orang kecil yang kau bela." Ia menyeka matanya satu kali, lalu wajah datarnya kembali—tapi kini bukan datar karena terlalu sering melihat kematian. Datar seperti permukaan air yang akhirnya tenang.
Alga maju terakhir. Ia meletakkan setangkai kamboja di atas tanah merah. "Bapak menyelipkan kartu itu ke saya," bisiknya, "padahal Bapak tahu risikonya. Saya nggak akan lupa." Ia menelan ludah. "Terima kasih, Pak. Pengorbanan Bapak nggak sia-sia. Pengorbanan dr. Larasati juga nggak. Janji."
Di perjalanan pulang, Sekar berjalan di samping Alga. Wajahnya cemas.
"Kamu dengar kabar pagi ini?" tanyanya.
"Kabar apa?"
"Dinas Kesehatan." Sekar menelan ludah. "Setelah Damar dan Halimah ditangkap, izin operasional Bumi Sentosa ditinjau ulang. Ada wacana... rumah sakitnya ditutup. Dicabut izinnya. Permanen."
Alga berhenti melangkah. "Ditutup?"
"Empat ratus pegawai," kata Sekar pelan. "Perawat, dokter, petugas kebersihan—orang-orang jujur yang nggak tahu apa-apa soal stempel ungu. Mereka kehilangan pekerjaan. Dan pasien di seluruh wilayah timur kota—ke mana mereka berobat? Harapan Kita cuma punya dua belas tempat tidur IGD."
Alga memandang ke kejauhan, ke arah siluet gedung Bumi Sentosa yang menjulang di balik kota. Ia datang untuk menghancurkan kejahatan di dalam tembok itu. Ia tak pernah memikirkan bahwa tembok itu juga menaungi ribuan nyawa yang tak bersalah.
"Membongkar kejahatannya satu hal," gumam Renjana yang menyusul di belakang. "Tapi kalau rumah sakitnya mati, yang mati berikutnya adalah pasien-pasien yang nggak ada hubungannya dengan ini." Ia menatap Alga. "Pertanyaannya sekarang bukan bagaimana menjatuhkan mereka. Kita sudah melakukannya. Pertanyaannya: bagaimana kita menyelamatkan rumah sakit, bukan ikut menguburnya."