Sore itu langka—Renjana mengambil cuti. Dalam ingatan Alga, ini pertama kalinya.
Mereka berdua menyetir ke sebuah panti rehabilitasi di pinggir kota, gedung putih bersih dengan taman kecil. Di salah satu kamarnya, Kavi—adik Renjana—duduk di kursi roda dekat jendela, tapi kali ini ada perbedaan yang Alga tak pernah lihat sebelumnya: pipinya berisi, matanya jernih, dan ada warna di wajahnya yang dulu selalu pucat.
"Kakak!" Kavi tersenyum lebar saat Renjana masuk.
Penyakit kronis Kavi tak sembuh total—tak akan pernah, jujurnya. Tapi setelah dipindahkan ke perawatan yang layak, dengan obat-obatan yang akhirnya tak diputus oleh tekanan sindikat, kondisinya stabil. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia tak lagi hidup dari satu krisis ke krisis berikutnya.
Alga menunggu di taman, memberi mereka ruang. Dari jendela ia melihat Renjana—Renjana yang wajahnya selalu datar, yang dingin di IGD, yang menyimpan dukanya seperti benteng—kini tertawa pelan bersama adiknya. Sesuatu di dada Alga menghangat.
Belakangan, di taman, Renjana duduk di samping Alga, memandang sore.
"Kau tahu kenapa aku bertahan di Bumi Sentosa selama itu?" tanya Renjana. "Padahal aku tahu apa yang terjadi di B2. Padahal aku tahu mereka membunuh Lara."
"Kavi," kata Alga pelan.
Renjana mengangguk. "Akses obatnya. BPJS-nya. Rujukannya. Semua bergantung pada rumah sakit itu. Kalau aku melawan terlalu keras, terlalu cepat, mereka tinggal memutus akses adikku—dan mereka pernah melakukannya. Kau ingat." Ia menatap tangannya. "Jadi aku jadi penjaga gerbang yang pengecut. Menyelamatkan siapa yang bisa kuselamatkan diam-diam, sambil membiarkan sistemnya berdiri, karena adikku menjadi sandera sistem itu."
"Itu bukan pengecut," kata Alga. "Itu manusia. Kamu menyelamatkan nyawa sambil menjaga adikmu. Berapa banyak orang yang bisa melakukan keduanya?"
Renjana diam lama. "Ketika kau datang," katanya akhirnya, "dokter internsip hari pertama, tangan gemetar, terlalu jujur untuk pura-pura tidak melihat—kau membuatku malu. Kau melakukan dalam satu hari apa yang kuhindari selama bertahun-tahun." Ia menoleh pada Alga, dan untuk pertama kalinya wajah datar itu sepenuhnya terbuka. "Tapi kau juga membuatku berani. Kalau anak hijau ini bisa melawan, kenapa aku tidak?"
"Kita berdua," kata Alga. "Aku nggak akan bisa tanpa kamu. Kamu yang ajari aku semuanya. Triase. RJP. Lima menit selisih hidup-mati. Cara membaca ruangan. Cara bertahan."
"Dan kau mengajariku," kata Renjana, "kenapa kita harus." Ia tersenyum—senyum sungguhan, langka, hangat. "Aku tetap di IGD. Sebagai konsulen. Kavi sudah stabil, aku tidak lagi disandera. Aku bisa menjaga gerbang—kali ini terang-terangan. Dan kali ini," ia memandang Alga, "aku tidak sendirian."
Mereka duduk dalam diam saat matahari turun di balik pepohonan. Di dalam, Kavi menyanyi pelan, suaranya melayang melalui jendela terbuka.
Alga teringat kalimat Renjana di hari pertamanya, kalimat dingin yang dulu menakutkannya: rumah sakit ini tidak butuh patung yang berdiri kaku menonton orang mati; rumah sakit ini butuh tangan.
Setahun kemudian, Alga akhirnya paham bahwa Renjana, sepanjang waktu, juga sedang berbicara pada dirinya sendiri.