Unit rehabilitasi medik RS Bumi Sentosa terletak di sayap timur, ruangan terang dengan barel paralel, matras, dan cermin sepanjang dinding. Alga datang ke sana di waktu istirahat siangnya, seperti yang ia lakukan tiap minggu selama setahun terakhir.
Bima sudah menunggunya, duduk di antara dua palang besi sejajar. Remaja itu—yang Alga rawat di hari pertamanya, korban kecelakaan motor dengan cedera tulang belakang, kaki yang lumpuh—kini berusia delapan belas, bahunya lebih lebar, rahangnya lebih tegas. Tapi senyumnya sama: bandel, penuh harap.
"Dok!" Bima nyengir. "Lihat ini. Lihat baik-baik."
Fisioterapis berdiri di sisinya, siaga tapi tak menyentuh. Bima mencengkeram palang besi dengan kedua tangan, lengannya menegang, dan perlahan—sangat perlahan—ia menarik dirinya berdiri. Kaki kanannya, yang setahun lalu sama sekali tak merespons, bergerak maju beberapa sentimeter, gemetar, lalu menjejak lantai.
Lalu kaki kiri.
Satu langkah. Dua. Tiga. Wajah Bima berkerut menahan usaha, keringat menetes, tapi ia terus melangkah—dengan alat bantu, dengan palang, dengan tubuh yang berjuang melawan kerusakan yang mungkin tak pernah pulih total. Tapi ia berjalan.
Alga berdiri membeku, dadanya penuh sesuatu yang nyaris membuatnya tak bisa bernapas.
Di ujung palang, Bima berhenti, terengah, lalu mengangkat wajah dan tertawa—tawa kemenangan murni seorang remaja. "Setahun, Dok," katanya. "Dokter bilang waktu itu jangan janji macam-macam, mungkin nggak akan bisa, mungkin bisa, tergantung kerja keras dan waktu. Inget?"
Alga ingat. Itu pelajaran Renjana: jangan jual harapan kosong, tapi jangan rampas harapan juga. Katakan kebenaran, lalu kerjakan.
"Saya inget," kata Alga, suaranya serak.
"Saya nggak nyerah," kata Bima. "Soalnya Dokter juga nggak nyerah sama saya. Hari pertama itu—" ia berhenti, menjadi serius sejenak. "Kata perawat, banyak yang masuk malam itu nggak ketolong. Tapi Dokter nungguin saya. Operasi saya, rehab saya, tiap minggu Dokter dateng. Padahal Dokter sibuk ngurusin... yang lain itu." Ia tahu, samar-samar, tentang apa yang Alga lalui setahun ini—semua orang tahu sekarang. "Makasih, Dok. Saya berdiri gara-gara Dokter nggak nganggep saya angka."
Kata itu—angka—menghantam Alga lebih keras dari yang Bima sadari.
Karena di sinilah seluruh ceritanya bermuara. Damar melihat pasien sebagai angka dalam laporan akreditasi: beberapa nyawa untuk ribuan, aritmetika dingin. Tapi Bima bukan angka. Bu Sulastri bukan angka. Gunawan, Larasati, Pak Solihin—tak satu pun dari mereka angka. Mereka adalah tangan yang digenggam, langkah yang ditunggu, nama yang diperjuangkan.
Alga menghampiri, dan saat Bima nyaris kehilangan keseimbangan di langkah keempat, ia mengulurkan tangan—tangan yang setahun lalu gemetar di ambang pintu kaca IGD, tangan yang kini mantap dan kuat. Bima menggenggamnya, menstabilkan diri, dan tersenyum.
"Pelan-pelan," kata Alga. "Nggak ada yang buru-buru. Kita punya waktu."
Bima melangkah lagi. Dan lagi. Menyusuri palang besi menuju cermin di ujung ruangan, tempat ia bisa melihat dirinya sendiri berdiri tegak untuk pertama kalinya dalam setahun.
Di luar jendela, sirene ambulans meninggi di kejauhan—IGD memanggil. Sebentar lagi Alga harus kembali ke gerbang, ke denting monitor, ke taruhan nyawa yang tak pernah berhenti. Tapi untuk satu menit ini, ia membiarkan dirinya berdiri di sini, memegang tangan seorang remaja yang belajar berjalan lagi.
Lingkaran yang dimulai di hari pertamanya—tangan yang menyelamatkan—menutup dengan lembut. Bukan dengan kemenangan tanpa luka. Dengan penyembuhan yang diperjuangkan, langkah demi langkah, satu nyawa pada satu waktu.