Berita tentang komunitas pedagang yang membela startup kecil melawan gugatan perusahaan besar akhirnya sampai ke telinga seseorang yang sudah pernah menulis kisah mereka. Citra—jurnalis muda yang dulu menulis artikel viral "Mereka Menolak Satu Miliar Demi Warung di Gang Sempit"—membaca obrolan para pedagang di sela liputannya, dan instingnya yang terlatih langsung menyala.
Ia menghubungi Arman. "Mas Arman, ini Citra. Saya yang dulu nulis soal kalian. Saya denger ada yang aneh—Stok Pintar digugat soal hak cipta, sama perusahaan yang justru dulu kelihatannya niru kalian. Itu benar?"
Arman ragu sejenak. Berbicara dengan pers berarti membuka diri, dan ia masih berhati-hati setelah semua yang terjadi. Tapi ia teringat kata-kata Nadia: kekuatan Pak Wira ada di kegelapan. Maka ia memutuskan untuk membawa semuanya ke terang.
Mereka bertemu di kafe sederhana. Citra datang dengan buku catatan dan perekam, tapi yang paling mencolok darinya adalah matanya—tajam, penasaran, dan tidak mudah dibohongi. Arman bercerita dengan jujur, dan Nadia menambahkan dari sisinya. Mereka tidak melebih-lebihkan, tidak mendramatisir; mereka hanya menyusun urutan kejadian dengan apa adanya. Pak Wira menawarkan satu miliar dengan jebakan. Mereka menolak. Bayu dibeli, mencuri kode inti. StokJaya lahir dari kode itu. Sekarang StokJaya menggugat, memutarbalikkan kenyataan.
Citra mendengarkan tanpa banyak komentar, hanya sesekali bertanya untuk memastikan. Ketika Arman selesai, ia menutup buku catatannya dan diam sejenak.
"Mas, Mbak," katanya akhirnya, hati-hati, "saya jurnalis. Saya nggak bisa cuma nulis cerita kalian dari sisi kalian aja. Itu bukan jurnalisme, itu humas. Kalau saya nulis ini, saya harus selidiki sendiri. Saya harus cari bukti dari banyak sisi. Saya bahkan harus coba dengar sisi StokJaya dan orang Pak Wira. Kalian siap kalau penyelidikan saya nemu hal yang nggak enak?"
Arman menatapnya, lalu mengangguk. "Justru itu yang kami mau. Kami nggak butuh kamu bela kami. Kami butuh kamu cari kebenaran. Karena kalau kamu cari yang sebenernya, kebenaran itu ada di pihak kami."
Jawaban itu, anehnya, membuat Citra tersenyum. "Kalimat seperti itu yang bikin saya percaya orang. Orang yang bersalah biasanya minta dibela. Orang yang benar minta diselidiki."
Maka Citra mulai menggali. Tapi ia tidak menulis cerita yang sama dengan dulu—kisah haru dua anak muda yang menolak uang. Kali ini ia menyelidiki sesuatu yang lebih gelap dan lebih berbahaya: pola di balik StokJaya. Ia menelusuri siapa pendana sebenarnya, bagaimana perusahaan itu lahir begitu cepat dengan produk yang nyaris jadi dari awal, mengapa mereka membakar uang gila-gilaan lalu sekarang menggugat pesaing kecil alih-alih bersaing di pasar.
Dalam penyelidikannya, ia mulai menemukan keganjilan-keganjilan. Mantan karyawan StokJaya yang menolak bicara dengan ketakutan yang aneh. Jejak pendanaan yang berputar-putar untuk menyamarkan satu nama. Dan di pusat semua benang itu, samar tapi konsisten, satu sosok yang selalu menjaga jarak dari sorotan: Pak Wira.
"Orang ini menarik," kata Citra pada Arman lewat telepon beberapa hari kemudian. "Setiap kali saya gali, saya nemu dia ada di belakang, tapi selalu lewat lapisan-lapisan. Dia nggak pernah taruh namanya langsung di tempat yang bisa ngejebak dia. Dia lihai banget bersembunyi."
"Itu emang dia," kata Arman. "Dia selalu kasih madu, tapi nggak pernah ninggalin sidik jari di kailnya."
"Nah, justru itu yang bikin saya penasaran," kata Citra, dan dalam suaranya ada nada pemburu yang mencium jejak. "Karena orang yang terlalu hati-hati bersembunyi, biasanya punya sesuatu yang lebih besar buat disembunyiin. Saya akan terus gali, Mas. Bukan cuma buat kalian. Tapi karena saya nggak suka lihat orang kecil ditindas pakai cara curang, terus pelakunya senyum-senyum aman di balik uang."
Setelah telepon ditutup, Arman menatap Nadia. "Kita dapet sekutu baru."
"Bukan sekutu," koreksi Nadia. "Saksi. Saksi publik. Pak Wira bisa beli pengacara, bisa beli waktu, bisa coba beli Bayu. Tapi dia nggak bisa beli mata orang banyak yang udah mulai ngeliat. Itu yang dia takutin."
Di luar, malam turun perlahan, tapi untuk pertama kalinya, Arman merasa kegelapan tempat Pak Wira bersembunyi mulai retak oleh cahaya yang datang dari banyak arah sekaligus.