Sementara Citra menggali di permukaan dan Nadia membangun barisan pedagang, Reza menggali di tempat yang paling sunyi dan paling penting: ke dalam mesin, ke dalam masa lalu digital Arman yang nyaris terkubur.
Selama berhari-hari Reza memburu jejak server lama itu—server kecil yang dulu Arman sewa di masa-masa awal, lalu ia matikan saat keuangan habis. Petunjuk pertamanya adalah kuitansi pembayaran tua yang ditemukan Arman di laci. Dari sana Reza menelusuri nama penyedia layanan, mengirim email demi email, menelepon, menjelaskan situasi dengan sopan dan gigih, sampai akhirnya seorang staf di perusahaan penyedia server itu menjawab dengan kabar yang membuat Reza hampir melompat dari kursinya.
"Mas Arman!" Reza berlari menghampiri Arman yang sedang di sudut ruko mengurus berkas hukum. "Servernya! Datanya masih ada!"
Arman mengangkat kepala. "Masih ada? Aku matiin itu dua tahun lebih lalu."
"Iya, Mas matiin layanannya, tapi mereka punya kebijakan nyimpen cadangan beku selama beberapa waktu, dan karena akun Mas dulu sempet ada tagihan tertunggak yang baru beres, sistem mereka nahan arsipnya lebih lama dari biasa. Singkat cerita—" Reza menarik napas, "—cadangan server lama Mas masih utuh. Termasuk catatan aktivitasnya. Termasuk riwayat kapan setiap versi stokpintar_core dibuat, diubah, dijalankan. Semua dengan cap waktu yang nggak bisa diubah, karena dicatat sama sistem mereka, bukan sama Mas."
Arman berdiri pelan-pelan. Ia hampir tidak berani percaya. "Kamu yakin?"
"Aku udah lihat sebagiannya, Mas," kata Reza, matanya berkaca. "Ada catatan dari lebih dari dua tahun lalu—jauh sebelum StokJaya muncul. Catatan yang nunjukin mesin prediksi ini hidup, jalan, berkembang di tangan Mas Arman, di server Mas, di waktu yang nggak bisa dibantah. Ini... ini bukti yang kita cari, Mas. Ini cap waktu yang nggak bisa mereka lawan."
Arman menatap layar yang Reza tunjukkan. Di sana, dalam baris-baris catatan yang dingin dan teknis, terbentang seluruh sejarah karyanya—setiap malam begadang di kos tiga kali empat meter, setiap perbaikan, setiap versi mesin yang ia tulis dengan tangannya sendiri, jauh sebelum Bayu mencurinya, jauh sebelum StokJaya ada. Tanggal-tanggal itu tidak berbohong. Mereka tidak bisa disuap, tidak bisa diancam, tidak bisa ditunda. Mereka hanya menyatakan satu kebenaran sederhana: Arman yang pertama.
Ia memanggil Pak Gunawan malam itu juga. Pengacara muda itu datang ke ruko, membuka laptopnya, memeriksa data yang Reza tunjukkan dengan teliti, sesekali bertanya, sesekali mengangguk. Ketika ia selesai, ia menutup laptop pelan-pelan dan menatap Arman dengan ekspresi yang jarang ia tunjukkan—sesuatu yang mendekati gembira.
"Arman," katanya, "kamu tahu apa yang barusan Reza temukan?"
"Catatan server lama."
"Bukan cuma itu." Pak Gunawan mencondongkan badan. "Ini bukti yang dicatat oleh pihak ketiga yang netral—penyedia server. Mereka nggak punya kepentingan apa-apa di perkara ini. Catatan mereka mencatat waktu secara otomatis, dan nggak bisa kamu ubah belakangan. Di pengadilan, bukti seperti ini jauh lebih kuat daripada catatan di laptopmu sendiri. Ini menunjukkan stokpintar_core hidup di tanganmu lebih dari dua tahun lalu—jauh sebelum StokJaya bisa mengaku punya mesin serupa." Ia tersenyum. "Gugatan mereka berdiri di atas kebohongan bahwa mereka yang lebih dulu. Bukti ini menghancurkan fondasi itu."
Untuk sesaat, ruko kecil itu sunyi. Reza, Sinta, Nadia, Arman—semuanya menahan napas. Lalu Nadia tertawa, tawa yang setengah lega setengah haru, dan memeluk Reza erat-erat. "Za, kamu nyelametin kita."
Reza tersipu. "Aku cuma nggak nyerah aja, Mbak. Mas Arman dulu nyimpen semuanya, walaupun nggak rapi. Aku cuma nyusun ulang."
Tapi di tengah kelegaan itu, Pak Gunawan mengangkat tangan, menenangkan euforia yang terlalu cepat. "Tunggu dulu. Ini bukti yang kuat, tapi belum tentu cukup buat menang telak. Pihak StokJaya pasti akan menyerang keabsahannya—mereka akan bilang server bisa diakali, cadangan bisa direkayasa, dan macam-macam. Untuk benar-benar menutup celah, kita masih butuh satu hal lagi." Ia menatap Arman dengan serius. "Kita masih butuh manusia yang berani bersumpah. Bukti benda mati ini menunjukkan kapan kode lahir. Tapi cuma satu orang yang bisa bersaksi bahwa kode itu dicuri, dan ke mana ia dibawa."
Senyum di wajah Arman memudar sedikit. Ia tahu nama itu lagi, nama yang selalu kembali, nama yang baru beberapa hari lalu ia tinggalkan berdiri di depan pintu kontrakan sempit dengan sekaleng susu yang hampir kosong.
"Bayu," gumam Arman.
Pak Gunawan mengangguk. "Dengan bukti server ini di tangan kita, posisi kita jauh lebih kuat dari kemarin. Tapi kalau Bayu mau bersaksi jujur—membenarkan dari mana kode itu berasal—maka gugatan Pak Wira nggak cuma goyah. Ia runtuh total." Ia menutup laptopnya. "Pertanyaannya sekarang, Arman, bukan lagi apakah kamu bisa membuktikan kebenaran. Tapi apakah orang yang pernah mengkhianatimu punya cukup keberanian untuk akhirnya berkata jujur."
Arman menatap ke luar jendela ruko, ke gang gelap tempat lampu jalan menyala redup. Di suatu tempat di pinggiran kota, ia tahu, seorang lelaki sedang duduk di tepi kasur tipis, memegang sebuah amplop, menatap anaknya yang tidur, dan menimbang dua jalan yang sama-sama berat. Dan untuk pertama kalinya, nasib Stok Pintar—dan kebenaran itu sendiri—bergantung bukan pada kode atau uang, melainkan pada hati nurani orang yang dulu menghancurkannya.