Reza pulang dari kunjungan ke timur dengan dua hal: modul prediksi harga yang setengah jadi, dan satu pesan masuk di ponselnya yang ia tatap berjam-jam tanpa membalas.
Pesan itu dari seorang perekrut Garda.
Arman tidak tahu sampai beberapa hari kemudian. Yang ia tahu, Reza tiba-tiba berubah. Bukan seperti Bayu dulu—tidak datang terlambat, tidak mengerjakan kode asal-asalan. Justru sebaliknya. Reza bekerja lebih keras, lebih diam, dan ada sesuatu yang ditahannya di balik wajah lelahnya. Setiap kali Arman mendekat, Reza buru-buru mengunci layar.
Dan di situlah luka lama Arman mulai berdarah lagi.
Karena ia pernah melihat ini. Akun yang mengunduh kode dini hari. Pertanyaan-pertanyaan aneh. Wajah yang menghindar. Pengkhianatan Bayu, yang sudah bertahun-tahun ia kira sembuh, ternyata hanya tertidur, dan sekarang setiap gerak-gerik Reza membangunkannya.
Malam itu, Arman duduk sendiri di ruko, menatap log akses server. Jarinya melayang di atas keyboard. Ia bisa, dengan beberapa ketukan, memeriksa apa saja yang Reza unduh, kapan, dari mana. Ia bisa memasang batasan akses, mengunci kode inti, melakukan semua yang seharusnya ia lakukan dulu pada Bayu. Naluri lamanya—naluri orang yang pernah ditikam dari dalam—berteriak: kunci semuanya, curigai semua orang, jangan pernah lagi membuka pintu lebar-lebar.
Tapi ia berhenti. Tangannya menggantung di atas keyboard.
Karena ia teringat sesuatu yang Nadia pernah katakan, bertahun-tahun lalu, di lantai kos ketika ia hancur oleh pengkhianatan Bayu. Dia cuma bawa kodenya, Man. Dia nggak bawa kepala kamu. Dan ia teringat pula sesuatu yang lebih menyakitkan: bahwa luka Bayu membuatnya hampir menjadi orang yang berbeda. Orang yang mengontrol semuanya karena takut. Orang yang, kalau dibiarkan, akan membunuh perusahaannya sendiri dari dalam dengan kecurigaan, bukan oleh pengkhianatan.
Ia menutup laptop. Ia tidak akan mengintai. Ia akan bertanya.
Esok paginya, ketika Reza datang dengan mata kurang tidur, Arman mengajaknya keluar. Bukan ke ruang rapat, tapi ke warung kopi pinggir jalan dekat ruko, tempat yang lebih jujur daripada meja kerja.
"Za," kata Arman, langsung, tanpa basa-basi. "Garda nawarin kamu, ya?"
Reza terdiam, cangkir kopinya berhenti di udara. Wajahnya berubah—bukan rasa bersalah orang yang ketahuan, tapi lega orang yang akhirnya tidak perlu menyembunyikan beban. "Mas tahu dari mana?"
"Aku nggak tahu. Aku nebak dari muka kamu yang berubah." Arman menatapnya tenang. "Aku nggak ngecek log kamu, Za. Aku bisa, tapi aku nggak. Aku mau dengar dari kamu langsung."
Reza menunduk. "Gajinya tiga kali lipat, Mas. Mereka tawarin posisi senior. Kantor di menara itu. Asuransi keluarga." Ia tertawa pahit. "Ibu saya lagi sakit. Tiga kali lipat itu... banyak banget."
Arman merasakan dadanya berdenyut. Bukan marah. Tapi gema. Karena ini persis cerita Bayu—orang baik, butuh uang, ditawari raksasa. Dan untuk sesaat, ia menunggu kalimat yang dulu menghancurkannya: maaf, Man.
Tapi Reza mengangkat kepala, menatapnya lurus. "Tapi saya belum jawab, Mas. Dan saya nggak akan jawab sebelum ngomong sama Mas dulu. Itu bedanya saya sama—" Ia berhenti, tahu nama yang hampir ia sebut. "Itu bedanya saya sama yang dulu."