Kalimat Reza menggantung di antara dua cangkir kopi yang mendingin. Itu bedanya saya sama yang dulu. Reza tahu cerita Bayu—semua orang di tim tahu, walau jarang disebut—dan ia sengaja meletakkan dirinya di seberang bayangan itu.
Arman menatap engineer mudanya lama. Ada banyak hal yang bisa ia katakan. Ia bisa menaikkan gaji Reza, bersaing dengan angka Garda—tapi ia tahu mereka tidak akan pernah sanggup menyaingi tiga kali lipat. Ia bisa memohon, memainkan rasa bersalah, mengingatkan Reza pada loyalitas. Tapi semua itu adalah cara orang yang takut. Dan Arman sudah lelah jadi orang yang takut.
"Za," katanya akhirnya, pelan. "Aku nggak akan saingin angka Garda. Aku nggak bisa, dan aku nggak akan bohong soal itu. Kalau kamu pilih ke sana buat ibu kamu, aku nggak akan benci kamu. Beneran. Itu pilihan yang masuk akal, dan ibu kamu lebih penting dari perusahaan ini."
Reza mengerutkan dahi, tidak menyangka jawaban itu.
"Tapi aku mau kamu tahu satu hal sebelum mutusin," lanjut Arman. "Bukan soal gaji. Soal apa yang kamu bangun di sana versus di sini." Ia memutar cangkirnya pelan. "Di Garda, kamu bakal jadi satu dari ribuan engineer. Kamu ngerjain fitur Pintar Stok yang mungkin tahun depan dibuang karena nggak nguntungkan. Kode kamu bagus, tapi nggak ada yang akan tahu wajah pedagang yang kebantu sama kode itu. Di sini, kamu kenal Pak Haji. Kamu tahu fitur offline yang kamu bikin itu nyala di ponsel butut nenek di kampung yang sinyalnya ilang. Kamu nggak cuma nulis kode, Za. Kamu lihat ujungnya."
Reza diam, jarinya mengetuk meja.
"Aku nggak minta kamu milih kami karena kasihan," kata Arman. "Aku minta kamu milih dengan jujur. Tiga kali lipat gaji buat ibu kamu itu nyata, dan itu penting. Tapi kalau kamu pergi cuma buat angka dan dalam hati kamu lebih milih di sini, kamu bakal nyesel. Dan kalau kamu di sini cuma karena nggak enak, kamu juga bakal nyesel. Jadi jujur aja. Mana yang kamu mau? Aku ikut apa pun jawaban kamu."
Untuk pertama kalinya, Arman menyadari betapa berbedanya momen ini dengan Bayu. Dengan Bayu dulu, ia tidak pernah diberi kesempatan bicara; pengkhianatan itu datang lewat pesan singkat, sudah selesai sebelum ia tahu. Kali ini, ia memilih membuka pintu, bukan menguncinya. Mempercayai, walau pernah dikhianati. Dan ia tahu, ini bisa saja berakhir dengan luka yang sama. Tapi ia memilih risiko itu daripada menjadi orang yang tidak pernah lagi percaya siapa pun.
Reza menyeruput kopinya yang sudah dingin, lalu menatap Arman. "Mas tahu kenapa saya belum jawab Garda?"
Arman menggeleng.
"Karena pas saya baca tawaran mereka, hal pertama yang saya pikirin bukan gaji. Tapi modul prediksi harga yang belum kelar buat ibu penjual rempah di timur itu. Saya mikir, kalau saya pergi, siapa yang nerusin? Garda nggak akan pernah bikin fitur buat satu ibu penjual lada di pulau jauh. Pasarnya 'terlalu kecil'." Reza tersenyum tipis. "Dan saya sadar, saya udah peduli sama hal yang Garda nggak akan pernah peduli. Itu jawaban saya, Mas. Saya tinggal."
Arman menahan napas. "Ibu kamu—"
"Saya minta naik gaji yang wajar aja, sebisa perusahaan. Sisanya saya cari cara lain buat ibu. Tapi saya nggak mau jual peduli saya cuma buat angka." Reza mengulurkan tangan. "Dan saya hargai banget Mas nanya, bukan ngecek log saya diam-diam. Saya tahu Mas bisa. Mas nggak. Itu yang bikin saya mau tinggal."
Arman menjabat tangan itu, dan sesuatu di dalam dadanya yang sudah bertahun-tahun mengeras sejak Bayu, akhirnya melunak. Bukan karena Reza tinggal—walau itu melegakan. Tapi karena ia baru saja membuktikan pada dirinya sendiri bahwa luka lama tidak harus menentukan cara ia memperlakukan orang baru.
Ketika mereka kembali ke ruko, Nadia menatap wajah Arman, lalu wajah Reza, dan langsung tahu sesuatu telah berubah. Malam itu, ketika tim makan bersama dari satu nasi bungkus besar yang dibagi-bagi, Arman menyadari betapa berbedanya tim ini dengan dulu. Bukan karena tidak ada lagi risiko pengkhianatan—risiko itu selalu ada. Tapi karena ia akhirnya belajar memimpin dengan keterbukaan, bukan ketakutan. Dan tim yang dipimpin dengan kepercayaan, ia sadari, jauh lebih kuat daripada tim yang dipimpin dengan rantai.
"Kamu berubah, Man," bisik Nadia di sela makan, hanya untuk mereka berdua. "Dulu kamu pasti udah ngunci semua akses Reza."
"Dulu aku belum belajar," kata Arman. "Bayu ngajarin aku takut. Reza ngajarin aku percaya lagi." Ia menatap timnya yang tertawa di sekeliling nasi bungkus. "Aku nggak mau Bayu yang menang dengan bikin aku nggak bisa percaya siapa-siapa selamanya."