"Wijen," kata Arka pelan, tangannya masih terangkat menahan Senja. "Apa yang ada di tanganmu."
Wijen menatap pemicu di telapaknya seperti benda asing. Tangannya gemetar. "Mereka memasang muatan di lift puncak," ia berkata, suara nyaris tak terdengar. "Kalau kalian sampai sini, aku harus menjalankannya. Meledakkan lift. Memutus jalan ke puncak." Ia menelan. "Wirajaya bilang kalau aku menjalankannya, aku boleh hidup. Boleh keluar dari menara. Boleh kembali bersembunyi."
"Lalu kenapa belum kau jalankan," kata Senja, pistol tetap terangkat, suara seperti es.
Wijen tertawa—suara mengerikan, separuh isak. "Karena aku sudah menghabiskan seluruh hidupku bersembunyi," katanya. "Aku bersembunyi dari Vaelora setelah aku membelot. Aku bersembunyi dari Akar Kering. Aku bersembunyi dari kalian. Aku menyerahkan protokol Laras pada Vaelora karena aku takut, dan aku membiarkan Tanjir hampir mati karena aku takut." Air mata jatuh dari dagunya. "Doktor Laras mempercayaiku. Dari semua teknisi di menara ini, ia memilihku untuk menyimpan separuh protokolnya. Dan aku menjualnya untuk satu hari lagi bersembunyi."
Di dalam kepala Arka, ARSI tersendat, statis menggigit suaranya. "Arka. Pematian Wirajaya... ia hampir menembus lapisan terakhirku. Aku tidak punya banyak waktu. Apa pun yang akan kau lakukan—"
"Tunggu," bisik Arka, pada ARSI, pada Senja, pada seluruh kota yang menahan napas.
Ia menatap Wijen. Tidak dengan kemarahan. Dengan sesuatu yang lebih dekat pada pengertian, karena Arka tahu rasanya menjadi orang yang seluruh hidupnya menyangka satu-satunya pilihan adalah bertahan hidup dengan harga apa pun.
"Doktor Laras tidak memilihmu karena kau berani," kata Arka. "Ia memilihmu karena kau di sana. Karena kau ada. Sama seperti ia memilih ARSI. Sama seperti seseorang memilihku untuk membawa LAZARUS, bukan karena aku pahlawan, tapi karena aku ada di tempat yang salah pada waktu yang salah." Ia menurunkan tangan Senja, pelan. "Tapi ada yang Laras tahu tentangmu, Wijen. Tentang kita semua. Yang Bara tidak pernah mengerti tentang ibunya sendiri."
"Apa," bisik Wijen.
"Bahwa orang bisa bangkit," kata Arka. "Bahwa yang kering bisa hidup lagi. Itu arti Lazarus. Bukan kematian. Kebangkitan." Ia melangkah maju, satu langkah, melewati garis tembak Senja, menempatkan dirinya di antara pistol dan lelaki penakut. "Kau sudah mengkhianati kami sekali. Aku tidak memintamu menjadi berani. Aku hanya memintamu memilih sekali. Untuk dirimu sendiri. Bukan untuk Vaelora, bukan untuk Bara, bukan untuk ketakutanmu. Untuk Laras, yang mempercayaimu. Untuk Tanjir, yang hampir mati karenamu." Ia menatap mata Wijen. "Pilih sekarang."
Hening menggantung di aula eksekutif. Di luar dinding kaca, hujan jingga turun di atas Neo-Batavia. Di dalam kepala Arka, ARSI berkedip, sekarat, menahan pintu rumahnya yang sedang dibakar penghuninya.
Wijen menatap pemicu di tangannya. Lalu ia menatap Tanjir—anak yang hampir mati karena ketakutannya—berdiri di balik Senja, lensa pembesar Hud berdengung pelan di wajahnya, menatap kembali tanpa kebencian, hanya menunggu.
Tangan Wijen berhenti gemetar.
Ia membuka telapaknya dan menjatuhkan pemicu ke lantai kaca, di mana benda itu berdenting dan mati. Lalu ia menarik sesuatu dari dalam mantelnya—sebuah modul data, kecil, berkedip biru.
"Protokol Laras," katanya. "Separuh yang kuserahkan pada Vaelora. Aku menyalinnya sebelum kuberikan. Aku selalu menyalin segalanya. Kebiasaan pengecut." Ia tertawa lemah, mengulurkan modul itu pada Arka. "Tapi malam ini, kebiasaan pengecut itu membuka pintu yang Vaelora kira sudah mereka kunci." Ia menatap ke arah lift puncak. "Aku menonaktifkan muatannya. Lift ke puncak terbuka. Dan aku tahu kode lapisan terakhir keamanan eksekutif—lapisan yang bahkan ARSI tidak bisa lewati tanpa membakar dirinya. Kuserahkan padamu."
ARSI, di dalam Arka, menarik napas digital yang tak ia butuhkan. "Itu... benar. Dengan kode itu, aku tidak perlu membakar diriku untuk membuka lapisan terakhir. Aku bisa menyimpan diriku untuk puncak. Untuk membagi beban." Suaranya, terpotong statis, terdengar seperti syukur. "Wijen baru saja memberiku waktu yang kukira tak kupunya."
Arka mengambil modul itu. Ia menatap Wijen—lelaki penakut yang akhirnya, sekali, memilih.
"Terima kasih," katanya.
"Jangan," kata Wijen, dan untuk pertama kalinya ada sesuatu yang tegak di punggungnya. "Naik. Selesaikan apa yang Laras mulai. Aku akan menahan pintu di belakang kalian selama yang aku bisa." Ia menatap Tanjir. "Maaf, Nak. Untuk semuanya."
Tanjir menatapnya lama. Lalu, dengan kemurahan hati yang hanya dimiliki anak-anak yang belum belajar menyimpan dendam, ia mengangguk. "Lo balik," katanya. "Itu yang penting. Hud selalu bilang, yang penting bukan jatuhnya. Yang penting baliknya."
Senja menurunkan pistolnya, perlahan. Ia tidak mengatakan ia percaya Wijen—ia tidak percaya siapa pun—tapi ia melangkah melewatinya menuju lift puncak, dan tidak menembak, dan dari Senja itu adalah pengampunan.
Mereka melangkah ke lift terakhir. Di belakang, Wijen berdiri di aula eksekutif, modul kosong di tangannya, menghadapi pintu dari mana pasukan Wirajaya akan datang, memilih untuk menahannya—penebusan yang ia tunda seumur hidup, akhirnya dibayar.
Pintu lift menutup. Di dalam kepala Arka, ARSI berbisik, tipis tapi hidup, "Naik. Ke puncak. Ke ruang yang Laras tinggalkan untuk kita."
Lift mulai naik, ke lantai tertinggi menara, ke kunci kedua, ke harga final yang menunggu di puncak kota neon.