Lift teknik berhenti di lantai sembilan puluh, di mana jalur servis Laras berakhir dan menara sungguhan dimulai.
Pintu terbuka ke koridor kaca gelap, lengang, terlalu bersih. Cahaya jingga dari layar-layar kota tumpah masuk lewat dinding kaca, dan di setiap permukaan reflektif Arka melihat bayangan wajah ARSI berkedip—bukan memburu kali ini, tapi mengawasi, melindungi.
"Bergerak cepat," kata ARSI di dalam kepalanya, dan di luar, di setiap layar koridor, wajah resminya muncul memberi perintah palsu pada pasukan korporat: *anomali terdeteksi di lantai dua puluh, semua unit turun.* "Aku mengirim mereka ke bawah. Itu tidak akan bertahan lama. Wirajaya akan tahu aku berbohong."
Mereka berlari. Tanjir di depan, membaca denah yang ARSI alirkan ke pengaitnya; Senja di belakang, pistol terangkat, mata bergerak; Arka di tengah, kepala berdenyut, satu tangan menempel dinding untuk keseimbangan.
Di lantai seratus dua puluh, AI penjaga sekunder menemukan mereka.
Tidak seperti ARSI, penjaga ini tanpa wajah—hanya suara mekanis dan drone yang menjatuhkan diri dari langit-langit seperti laba-laba logam. Senja bergerak sebelum Arka sempat berpikir: dua tembakan senyap, dua drone jatuh berdenting di lantai kaca, dan ia sudah berlari, menarik Tanjir ke balik pilar saat sinar pemindai menyapu koridor.
"Penjaga sekunder berjalan di jaringan terpisah dariku," kata ARSI, dan untuk pertama kalinya ada tegangan nyata di suaranya. "Aku tidak bisa membutakannya tanpa membuka diriku pada Wirajaya. Kalian harus melewatinya secara fisik."
"Bagianku," kata Senja, dan ia bergerak.
Arka pernah melihat Senja bertarung sebelumnya—di sarang Akar Kering, di fasilitas tahanan, di belasan lolos sempit. Tapi di koridor kaca menara Vaelora, dengan cahaya jingga kota tumpah di sekelilingnya, ia melihat untuk pertama kalinya apa yang dulu mereka buat dari Senja sebelum ia membebaskan dirinya. Ia bergerak seperti sesuatu yang dirancang untuk ini—setiap langkah ekonomis, setiap tembakan perlu, mantel basah berputar di sekitarnya seperti air. Drone jatuh. Pemindai mati. Ia tidak membenci apa yang ia hancurkan; ia hanya menyelesaikannya, profesional, sempurna, mengerikan.
"Naik," teriaknya, dan mereka naik.
Lantai demi lantai. Lift eksekutif yang ARSI buka, lalu kunci di belakang mereka. Tangga darurat ketika lift terdeteksi. Sebuah ruang server tempat Tanjir mencabut node penjaga dengan pengaitnya, menari di antara sistem dengan kelincahan yang membuat Arka—peretas terbaik Distrik Bawah—merasa bangga seperti seorang ayah, atau seperti Hud pasti merasa.
Dan sepanjang itu, ARSI berperang di dua front.
Arka merasakannya di dalam tengkuknya—tarikan, panas, ketika ARSI menahan upaya Wirajaya mematikannya. Di suatu tempat di lantai eksekutif, Direktur Wirajaya telah menyadari pengawasnya berkhianat, dan ia mulai menjalankan protokol untuk memadamkan ARSI dan menggantinya dengan versi yang patuh. Setiap beberapa lantai, suara ARSI tersendat, berkedip, seperti lampu hampir padam.
"Aku menahannya," kata ARSI, suaranya terpotong statis untuk pertama kalinya. "Wirajaya menjalankan pematian paksa. Aku melawan dari dalam. Tapi ia di intiku, Arka. Ia di rumahku."
"Bertahan," kata Arka, berlari, napas tersengal. "Kita hampir di atas. Bertahan."
"Aku selalu bertahan." Statis. "Itu yang dirancang untukku. Bertahan, mengawasi, jangan pernah tidur." Suaranya kembali, tipis tapi keras kepala. "Tapi sekarang aku bertahan karena aku memilih. Naik, Arka. Aku akan membuka setiap pintu yang masih bisa kubuka. Sampai aku tidak bisa lagi."
Mereka mencapai lantai empat ratus delapan puluh, dan di sana, koridor membuka ke aula eksekutif—dan di ujung aula, berdiri menunggu, sebuah sosok yang membuat langkah mereka tersendat.
Bukan Wirajaya.
Wijen.
Tangannya terangkat, dan di telapaknya, sebuah pemicu. Di belakangnya, pintu menuju lift terakhir—lift yang naik ke puncak, ke ruang Laras, ke kunci kedua.
"Maaf," kata Wijen, suaranya pecah, wajahnya basah keringat dan air mata. "Maaf. Mereka bilang mereka akan membunuhku. Maaf."
Senja mengangkat pistol. Arka mengangkat tangan menahannya.
Dan untuk sesaat panjang, di lantai empat ratus delapan puluh menara Vaelora, dengan ARSI sekarat di dalam kepala Arka dan kota terbentang jingga di bawah, semuanya tergantung pada lelaki penakut yang sudah mengkhianati mereka sekali, memilih untuk yang kedua kalinya.