Markas Pusat Vaelora menjulang di jantung Distrik Atas seperti jarum yang menusuk perut langit jingga—lima ratus lantai kaca gelap, logo tiga lingkaran saling mengunci berputar di puncaknya, mata yang tak pernah tidur.
Tidak ada yang masuk ke menara tanpa diundang. Itu kebenaran yang berlaku selama tiga puluh tahun. Setiap pintu, setiap lift, setiap koridor diawasi oleh ARSI dan dijaga oleh AI penjaga sekunder, drone, dan pasukan korporat. Wijen, jika ia masih menyimpan apa yang dulu ia tahu, mungkin satu-satunya orang hidup di luar menara yang tahu arsitekturnya. Dan Wijen kini di dalam, di pihak yang salah.
Tapi ARSI bukan orang luar.
"Laras membangun lebih dari sekadar protokol di dalamku," kata ARSI ketika mereka berkumpul di sebuah saluran pembuangan tua di bawah Distrik Atas, sedekat yang berani mereka dekati. "Saat ia membangun menara, ia masih percaya pada Vaelora. Ia merancang sebuah jalur servis—untuk perawatan inti sistem, katanya pada direksi. Sebuah lift teknik yang melewati lapisan keamanan utama karena teknisi inti tidak boleh terhalang saat sistem gagal." Suaranya melembut. "Ia tidak pernah mendaftarkannya ke ARSI publik. Ia mendaftarkannya ke *aku*. Ke kerangka pribadiku. Pintu yang hanya ia dan ciptaannya tahu."
"Pintu belakang sang ibu," kata Arka pelan.
"Ia menyembunyikan kunci kedua di puncak menara karena, katanya dalam rekaman, *di bawah hidung mereka.*" ARSI hampir terdengar bangga. "Dan ia menyembunyikan jalan menuju kunci itu di dalam mata yang menjaganya. Tempat paling jelas dan tempat paling tak terlihat sekaligus."
Tanjir, yang tahu setiap terowongan kota, memimpin mereka melalui saluran sampai ke sebuah lubang akses yang tertutup pelat baja berkarat, ditandai dengan simbol yang sudah lama dilupakan—tiga lingkaran, tapi versi tua, sebelum logo disempurnakan. Logo dari tangan Laras sendiri.
Wijen seharusnya yang membuka ini, pikir Arka. Wijen yang menyimpan protokol. Tapi Wijen takut, dan ketakutan membawanya ke pihak musuh. Maka ARSI yang membuka—dari dalam kepala Arka, mengalirkan kode lewat pengait dua arah ke pelat baja, dan kunci tua itu mengenali suara penciptanya tersembunyi di dalam suara mesin, lalu terbuka.
Pelat bergeser dengan erangan logam. Di baliknya: lift teknik, sempit, gelap, naik lurus ke jantung menara.
"Lapisan pertama dilewati," kata ARSI. "Tapi begitu kita naik, sistem keamanan sekunder akan mendeteksi anomali. Aku bisa menyembunyikan kita sebagian—aku sudah menyembunyikan Arka dari Vaelora berkali-kali. Tapi Wirajaya curiga padaku. Ia mengawasi pengawasnya. Setiap lantai akan lebih sulit kusembunyikan."
Mereka berdiri di mulut lift. Renjana tidak ikut—ia di permukaan, mengulur perburuan, bersiap menahan Akar Kering ketika Bara datang. Yang naik hanya Arka, Senja, dan Tanjir, yang menolak ditinggal dengan keras kepala yang ia warisi dari Hud.
"Begitu masuk, tidak ada turun," kata Senja, memeriksa pistol senyapnya, penanda panas berkedip merah. "Kau tahu itu."
"Aku tahu," kata Arka.
Ia menatap ke atas, ke poros gelap yang menanjak lima ratus lantai menuju ruang rahasia Laras dan kunci kedua dan harga yang menunggu di sana. Implan di tengkuknya berdenyut—lemah, sekarat, tapi cukup. ARSI di dalamnya, siap membagi beban. Senja di sisinya, memilih sampai akhir. Tanjir di belakang, membawa lensa orang mati dan keberanian anak yang belum belajar takut.
"Untuk Hud," kata Tanjir pelan, menyentuh lensa di wajahnya.
"Untuk Mira," kata Senja, yang mengejutkan dirinya sendiri.
"Untuk Laras," kata ARSI di dalam kepala Arka. "Dan untuk semua nama yang ventilatornya mati. Aku masih mengingat mereka semua."
Arka menarik napas. Di luar, hujan jingga turun di atas Distrik Atas, di atas dua puluh juta orang yang tidur tanpa tahu, di atas kota yang malam ini akan memutuskan apakah ia mati atau bangkit.
"Untuk kota," katanya, dan melangkah masuk.
Pintu lift menutup. Mereka mulai naik.