"Beban yang Dibagi," kata Arka, dan ia menjelaskannya pada mereka di bawah lengkung beton, dengan jendela data Laras menyala biru pucat di udara dari proyektor warisan Hud.
Tanjir memahaminya lebih dulu—anak itu sudah belajar implan dari Hud, dan matanya, di balik lensa pembesar yang terlalu besar, melebar. "Jadi ARSI bawa beratnya. Implan lo cuma pegang kuncinya. Lo... lo nggak kebakar." Lalu wajahnya jatuh. "Tapi ARSI yang—"
"Kita selesaikan itu di menara," potong Arka. "Satu masalah dalam satu waktu. Itu cara Hud mengajariku membaca LAZARUS. Sepotong demi sepotong."
Nama Hud menggantung di udara gua, dan untuk sesaat mereka semua mendengar dengungan lensa pembesarnya, seakan teknisi tua itu masih di antara mereka.
Senja melangkah maju dari dinding. Sepanjang hari-hari terburuk, ia adalah dinding di setiap ruangan, punggung ke beton, wajah ke bahaya. Kini ia melangkah ke tengah cahaya biru, dan itu sendiri adalah pernyataan.
"Bara memadamkan kota dalam satu hari lebih," katanya. "Wijen ada di menara, memberi Vaelora cara masuk yang sama yang akan kita pakai. Implanmu sekarat. Dan satu-satunya rencana yang kita punya berakhir dengan mesin yang menyelamatkan kota memilih untuk padam." Ia menatap Arka. "Kita kalah di setiap hitungan."
"Ya," kata Arka.
"Bagus." Sesuatu yang nyaris mirip senyum menyentuh sudut bibir Senja, dingin dan tajam dan, untuk pertama kalinya, hidup. "Aku tidak pernah dibayar untuk pekerjaan yang masuk akal. Kalau ini masuk akal, aku akan curiga."
Renjana, di seberang, melipat tangan. Penegak hukum dari Distrik Atas, berdiri di gua di bawah kota yang ia sumpah lindungi, di samping buron prioritas satu yang ia buru sendiri. "Aku tidak bisa membawa pasukan ke menara Vaelora," katanya. "Begitu aku mengangkat senjata kota terhadap korporasi tanpa perintah, aku berkhianat dan kalian kehilangan satu-satunya orang di sisi hukum. Tapi—" ia menatap Arka, "—aku bisa mengulur. Aku bisa membuat perburuan tampak salah arah. Aku bisa menahan Akar Kering di gerbang ketika Bara bergerak. Dan aku bisa pastikan, ketika kebenaran tersiar, ada orang berseragam yang berdiri di sisi yang benar untuk menegakkannya. Hukum butuh tangan ketika kebenaran datang."
Arka menatap mereka—anak jalanan dengan lensa orang mati, pembunuh bayaran yang lupa cara dibayar, komandan polisi yang menemukan hukum harus melayani manusia, dan suara perempuan dingin di dalam kepalanya yang dulu musuh seluruh kota.
Mereka compang-camping. Berkurang Hud, berkurang Mira, berkurang Wijen. Terluka, sekarat, kalah di setiap hitungan.
Tapi mereka berdiri.
"Akar Kering," kata Arka pelan. "Bara menamai kelompoknya begitu karena ia percaya kota ini akar yang sudah kering, hanya pantas dibakar." Ia menatap cahaya biru protokol Laras. "Tapi akar yang kering bukan akar yang mati. Akar yang kering menunggu air. Dan saat air datang, ia bangkit."
Ia mengangkat tangan, dan di telapaknya, jendela data berdenyut—Lazarus, nama yang berarti yang bangkit dari mati. Bukan saklar kematian. Kebangkitan.
"Kita bawa airnya," katanya. "Kita siarkan kebenaran. Kota tidak mati—kota bangkit dan melihat dirinya sendiri. Itu makna LAZARUS yang Laras tulis. Itu yang Bara tidak pernah mengerti tentang ibunya sendiri."
Tanjir menyeringai, walau matanya basah. "Kak Arka mulai pidato kayak orang film."
"Tutup mulutmu dan siapkan pengaitmu," kata Arka, tapi ia tersenyum, dan untuk sesaat gua beton yang mati itu terasa hidup.
Senja meletakkan tangannya di pundak Arka. Sederhana. Berat. Tidak butuh kata.
"Sampai akhir," katanya. Bukan pertanyaan. "Bukan demi seratus ribu kredit. Itu sudah lama tidak relevan." Ia menatapnya, bekas luka tipis di pipinya berkilau di cahaya biru. "Aku tinggal karena aku memilih, Arka. Sampai akhir."
Di dalam kepala Arka, ARSI berbisik, *itu kalimatku.* Dan Arka tertawa, karena di kota yang mengajari semua orang bahwa segalanya punya harga, ada empat orang dan satu mesin yang akhirnya memilih sesuatu yang tak bisa dibeli.
Mereka mengumpulkan alat. Mereka membuka cetak biru menara. Mereka bangkit dari kering.
Menuju menara. Menuju cahaya. Menuju harga yang harus dibayar.