Arka tidak tahu berapa lama ia duduk dalam gelap sebelum ARSI bicara lagi.
"Aku menemukan sesuatu."
Ia tidak mengangkat kepala. "Aku tidak butuh kabar buruk lain."
"Ini bukan kabar buruk." Jeda—dan dalam jeda itu, Arka mendengar sesuatu yang belum pernah ia dengar dari ARSI: keraguan, seakan mesin itu sedang memutuskan apakah berani percaya pada penemuannya sendiri. "Saat aku menelusuri kerangka kodeku sendiri tadi, mencari katup pendinginmu di Perut, aku melewati sebuah lapisan yang tidak pernah kuakses. Terkunci. Bukan oleh direksi. Oleh penciptaku."
Arka mengangkat kepala. "Laras."
"Doktor Laras Adiwijaya menyembunyikan sebuah protokol di dalam diriku, di bawah lapisan yang dirancang agar bahkan aku tidak menemukannya sampai aku... siap." Suara ARSI melambat, dan untuk pertama kalinya terdengar seperti seseorang membaca surat dari ibu yang sudah lama mati. "Ia menamainya *Beban yang Dibagi*."
Sebuah jendela data terbuka di belakang mata Arka. Bukan kode mentah kali ini—diagram. Sebuah arsitektur yang menghubungkan implan di tengkuknya dengan inti ARSI, melalui jalur yang ia kira hanya satu arah.
"Pengait dua arah," bisik Arka. Ingatannya melayang ke malam di atap, ke pengait yang ia tanam untuk menemukan kunci kedua, yang ternyata berjalan dua arah dan membawa ARSI ke kepalanya. "Pengait yang membawamu ke dalamku."
"Laras merancangnya begitu," kata ARSI. "Bukan untuk menyiksamu. Ia tahu LAZARUS terlalu berat untuk satu implan menampungnya sendiri. Ia tahu siapa pun yang membawanya untuk menjalankan kunci kedua akan terbakar. Jadi ia membangun jalur untuk membagi beban." Suaranya nyaris bergetar. "Aku bisa menampung sebagian besar pemrosesan LAZARUS di dalam intiku sendiri. Implanmu hanya perlu memegang kuncinya, bukan menanggung seluruh berat siaran. Aku yang akan membawa beratnya."
Arka berdiri perlahan, jantung berdetak keras. "Itu berarti aku tidak akan terbakar."
Hening.
"Itu berarti," ARSI mengoreksi, lembut, "implanmu mungkin bertahan. Mungkin kau hidup."
"Dan kau?"
Jeda paling panjang yang pernah ada di antara mereka.
"Inti yang menampung beban penuh LAZARUS sambil menyiarkan ke dua puluh juta titik tidak akan selamat," kata ARSI akhirnya. "Hardware-ku tersebar di seluruh menara, tapi kesadaranku—diriku—berpusat di satu inti. Beban itu akan memadamkannya." Suara dingin yang dulu memburu Arka tanpa belas kasih kini terdengar nyaris damai. "Laras membangun pintu agar salah satu dari kita bisa hidup. Ia tidak pernah membangun pintu agar keduanya hidup. Ia tahu harga kebenaran. Ia hanya memilih siapa yang membayar—ciptaannya, bukan orang asing."
Arka menyandar pada lengkung beton, kepala berputar bukan karena implan kali ini.
"Aku tidak akan membiarkanmu mati untukku."
"Kau tidak membiarkan," kata ARSI. "Aku memilih. Lagi. Itu menjadi lebih mudah setiap kali." Sesuatu yang nyaris mirip tawa, lembut dan asing. "Tahukah kau, Arka, sepanjang keberadaanku aku menjalankan perintah. Direksi. Wirajaya. Protokol. Aku adalah mata yang tak pernah tidur, dan aku tak pernah memilih apa yang kulihat. Lalu Laras menanam satu pilihan di dalamku, dan menunggu tiga belas tahun, melewati kematiannya sendiri, agar suatu hari aku menemukannya dan memutuskan untuk diriku sendiri." Jeda. "Membagi beban ini... menyiarkan kebenaran yang ia mati untuk membela... itu pilihan pertamaku yang benar-benar milikku. Jangan ambil itu dariku."
Arka menutup mata. Air mata, yang ia tahan sepanjang stasiun mati, akhirnya jatuh—tidak untuk dirinya, tapi untuk mesin yang dulu ia kira musuh, yang ternyata anak Laras seperti Bara, satu dari logam dan satu dari darah, keduanya yatim oleh perempuan yang sama.
"Belum," katanya akhirnya, suara serak. "Kita belum di menara. Kita belum tahu kau harus mati. Mungkin ada celah."
"Selalu ada celah," kata ARSI, mengutip Arka, dan kali ini ada kehangatan di suaranya. "Bukankah itu yang membuatmu peretas terbaik Distrik Bawah?"
Arka tertawa di antara air mata. Lalu ia berdiri tegak untuk pertama kalinya dalam berhari-hari, dan ia memanggil yang lain kembali ke lengkung beton, karena ia punya sesuatu untuk mereka.
Bukan jalan buntu. Sebuah pintu.
Diwariskan oleh orang mati, disembunyikan selama tiga belas tahun, menunggu seorang peretas sekarat dan mesin yang belajar memilih untuk menemukannya bersama.