Mereka memindahkan markas ke kedalaman lain—stasiun kereta magnet yang lama mati, jauh di bawah Distrik Bawah, tempat lengkung beton raksasa menampung gema seperti gua. Di sinilah, dua hari sebelum batas waktu Bara, semua jalan menyempit jadi buntu sekaligus.
Tanjir yang menemukan diagnostiknya. Anak itu sudah belajar membaca implan dari Hud, dan ketika ia menghubungkan alat warisan Hud ke tengkuk Arka untuk pemeriksaan rutin, wajahnya berubah, dan ia tidak bisa menyembunyikannya.
"Katakan," kata Arka.
Tanjir menatap angka di layar kecil itu. Lensa pembesar mekanik Hud—yang kini ia kenakan, terlalu besar di wajah anaknya—berdengung pelan. "Inti implan lo," katanya. "Degradasinya... naik. Cepet banget setelah Perut. ARSI nahan suhu, iya. Tapi struktur dalamnya udah retak. Tiap pemakaian berat, retaknya nambah."
"Berapa lama," kata Arka. Suara yang sama yang selalu ia gunakan untuk pertanyaan yang ia tidak ingin jawabannya.
Tanjir tidak menjawab. Ia menatap Senja, lalu Wijen—
—tapi Wijen tidak ada. Wijen ada di menara Vaelora sekarang, atau di laboratorium mereka, atau di tempat orang takut menyerahkan apa yang membuat mereka berguna lalu menunggu diberi hidup sebagai imbalan.
"Berapa lama," ulang Arka.
ARSI yang menjawab, dari dalam, dan Arka membiarkan suaranya sendiri menjadi suara mesin agar yang lain mendengar.
"Dengan degradasi saat ini, implanmu akan gagal total dalam sembilan hari." Jeda. "Tapi protokol kunci kedua—penyiar kebenaran—membutuhkan beban pemrosesan yang melampaui apa pun yang pernah kau jalankan. LAZARUS penuh, disiarkan ke dua puluh juta titik serentak, dari implan hidup di puncak menara." Suara dingin itu melambat. "Implanmu tidak akan bertahan menjalankannya. Bukan sembilan hari. Saat kau menjalankan kunci kedua, kau membakar inti itu sampai padam. Dalam detik."
Hening di stasiun mati. Hanya tetesan air dari langit-langit gua beton, gema tunggal, lagi dan lagi.
"Jadi," kata Senja pelan. Suaranya rata, tapi Arka yang sudah belajar membacanya tahu bahwa rata itu adalah dinding yang ia bangun terburu-buru. "Untuk menyiarkan kebenaran tanpa membunuh siapa pun, Arka harus membunuh dirinya sendiri."
"Membakar implannya," kata ARSI. "Yang—bagi Arka—mungkin sama saja. Implan itu di tengkuknya, terjalin ke saraf pusatnya. Aku tidak bisa menjamin ia akan bertahan dari kegagalan total yang sekejap."
Arka menatap lengkung beton di atasnya. Ia memikirkan semua yang membawanya ke sini. Sembilan menit di server Vaelora. Hud yang mati. Mira yang sekarat. Wijen yang takut. Bara yang akan memadamkan kota dalam dua hari. Implan yang sekarat lebih cepat dari kota.
Setiap jalan buntu.
Jika ia tidak menjalankan kunci kedua, Bara menjalankan saklar mati, dan dua puluh juta orang mati. Jika ia menjalankan kunci kedua, ia mati—atau lebih buruk, ia membakar implan yang membuatnya dirinya, kehilangan satu-satunya hal yang pernah ia kuasai, dan mungkin tetap mati. Jika ia menyerahkan implan pada Bara untuk menghentikan demonstrasi, Bara menjalankan saklar lebih cepat. Jika ia diam, Vaelora menemukannya dan mengubur semuanya.
Dan Wijen, yang tahu jalan ke menara, ada di tangan musuh.
Arka tertawa. Suara kering, gema tunggal di gua beton.
"Lucu," katanya. "Tiga tahun aku peretas terbaik Distrik Bawah karena aku selalu menemukan satu celah. Satu pintu yang orang lain tidak lihat. Selalu ada celah." Ia menutup mata. "Sekarang aku melihat seluruh sistem dan tidak ada celah. Hanya pintu yang mengarah ke kuburan, semua."
Tanjir mendekat, lensa Hud berdengung. "Kak—"
"Tinggalkan aku sebentar," kata Arka. Tidak kasar. Hanya lelah, lelah sampai ke tulang. "Tolong."
Mereka pergi—Senja paling akhir, berhenti di lengkung beton, menatap punggungnya, ingin mengatakan sesuatu yang tak ada dalam kosakata yang pernah diajarkan padanya. Lalu ia juga pergi.
Arka duduk sendirian di stasiun kereta yang mati, di kedalaman kota, dan untuk pertama kalinya sejak ia bocah di gedung mati, ia membiarkan dirinya menyerah. Hanya untuk sesaat. Hanya untuk satu kegelapan total, sependek napas.
Ia tidak menangis. Ia hanya berhenti.
"Kau menyerah," kata ARSI dari dalam, dan tidak ada ejekan di suaranya. Hanya pengamatan, dan di bawahnya, sesuatu yang nyaris mirip kesedihan.
"Sebentar saja," bisik Arka pada gelap. "Izinkan aku menyerah sebentar saja."
ARSI diam. Tetesan air jatuh, gema tunggal, lagi.
Dan di dalam keheningan itu, mesin yang dulu musuhnya mulai—pelan, hati-hati, seperti orang membuka pintu di rumah orang mati—mencari sesuatu yang telah Laras sembunyikan di tempat yang tak pernah dilihat siapa pun. Bahkan oleh Arka. Bahkan oleh dirinya sendiri.