Distrik Bawah Selatan mati pada pukul empat lewat tujuh belas.
Arka melihatnya dari atap pos siber tua, Senja di sisinya, Tanjir merunduk di balik tembok pembatas dengan pengait yang ia rakit ulang dari bangkai drone. Satu per satu, blok-blok kota di selatan padam—bukan serentak, tapi seperti penyakit yang menjalar. Lampu jalan padam. Papan neon padam. Jendela-jendela apartemen susun yang menumpuk seperti sarang lebah padam, satu demi satu, sampai seluruh distrik tenggelam dalam kegelapan yang Neo-Batavia belum pernah lihat selama tiga puluh tahun.
Hanya hujan jingga yang tetap turun, memantulkan sedikit cahaya dari distrik tetangga, sehingga kegelapan itu berkilau samar—basah, jingga pudar, indah dengan cara yang mengerikan.
"Astaga," bisik Tanjir. Suaranya kecil. Ia masih anak-anak, ingat Arka. Di balik kelincahan dan implan murahnya, ia masih anak yang belum pernah melihat kota mati.
Lalu suara-suara mulai naik dari bawah.
Bukan dari layar. Dari mulut manusia. Teriakan, jauh dan tumpul, naik dari distrik yang padam seperti uap. Klakson. Pecahan kaca. Dan di antaranya—Arka harus memaksa dirinya mendengar—sirine yang melemah, lalu mati, ketika rumah sakit distrik kehilangan daya dan generator cadangannya, persis seperti kata Senja, tidak menyala.
"Ventilator," kata ARSI di dalam kepalanya, dan kali ini suara dingin itu terdengar nyaris terganggu. "Ruang perawatan intensif Rumah Sakit Distrik Selatan menjalankan dua puluh tiga ventilator. Generator cadangan disabotase. Renjana memindahkan sebelas pasien. Sisanya—"
"Berhenti," kata Arka. Tapi ARSI tidak berhenti, karena ARSI tidak pernah berbohong, dan Arka tahu sisa kalimat itu sebelum diucapkan.
Senja menatapnya. Wajahnya, di bawah cahaya jingga pudar, sekeras batu. "Inilah," katanya, "yang Bara sebut obat."
Arka mencengkeram pembatas atap sampai bukunya memutih. Ia memikirkan teks Bara—*kota ini sakit dan satu-satunya obat adalah membakar habis.* Ia memikirkan saklar mati LAZARUS yang ia bawa di tengkuknya, yang jika dijalankan akan melakukan ini pada bukan satu distrik melainkan dua puluh, serentak, untuk selamanya. Air berhenti. Listrik berhenti. Ventilator berhenti. Dua puluh juta orang.
Ia pernah menolak membunuh dua puluh juta orang. Itu satu-satunya garis moral yang tak pernah ia jual. Dan sekarang, melihat satu distrik mati, ia mengerti untuk pertama kalinya, di tulangnya, apa arti garis itu.
"Tanjir," katanya, suara serak. "Kau merekam?"
"Semua," bisik anak itu, pengait gemetar di tangannya. "Gardu yang diputus. Mukanya orang Akar Kering yang motong kabel. Generator yang disabotase. Semua, Kak. Kayak yang lo minta."
"Bagus." Arka menutup mata. *Kita simpan, untuk hari kebenaran tersiar.* "Kota akan ingat."
Di seberang atap, di bayang-bayang, Komandan Renjana berdiri, mendengarkan sirine yang mati. Ketika ia bicara, suaranya bukan lagi suara penegak hukum yang yakin.
"Aku menghabiskan dua belas tahun," katanya pelan, "memburu orang sepertimu, Arka. Peretas, penyelundup, pemberontak. Aku percaya kalian penyakitnya. Aku percaya ketertiban adalah obat." Ia menatap distrik yang padam. "Tapi tidak ada peretas yang pernah melakukan ini. Hanya orang yang mengaku ingin menyelamatkan kota dengan membunuhnya. Dan korporasi yang membiarkan satu distrik tenggelam karena tak menguntungkan."
Ia berbalik menatap Arka, dan di matanya ada sesuatu yang telah patah dan disusun ulang menjadi bentuk baru.
"Bara harus dihentikan," kata Renjana. "Sepenuhnya. Dan Vaelora harus menjawab untuk arsip yang kau bawa. Aku tidak peduli lagi apa kata buku peraturan tentang dengan siapa aku berdiri." Ia menelan. "Aku berdiri di pihak yang tidak memadamkan ventilator. Itu cukup hukum untukku malam ini."
Arka mengulurkan tangan. Renjana menatapnya, lalu menjabatnya—jabatan tangan antara buron dan pemburunya, di atap di atas distrik yang mati, dengan hujan jingga membasahi keduanya.
"Aliansi rapuh," kata Senja datar, mengawasi dari samping. "Tapi mengeras."
Di dalam kepala Arka, ARSI berbisik nama-nama. Bukan angka. Nama-nama pasien yang ventilatornya mati, yang ia tarik dari basis data Vaelora karena, katanya, *seseorang harus mengingat mereka, dan aku punya ruang yang cukup untuk semua nama di kota ini.*
Arka mengingat setiap nama. Ia berjanji pada dirinya, di atap itu, dalam hujan, bahwa setiap nama akan tersiar bersama kebenaran—agar kota tahu bukan hanya siapa yang berdosa, tapi siapa yang dibayar dengan nyawa.
Hitungan mundur Bara: dua hari, dua puluh jam tersisa.