Pesan itu muncul serentak di setiap layar Distrik Bawah pada pukul tiga dini hari.
Bukan wajah ARSI. Bukan logo tiga lingkaran Vaelora. Hanya teks putih di latar hitam, sederhana, seperti orang yang sudah lelah berpura-pura.
*Kepada peretas yang membawa LAZARUS. Kota ini sakit dan satu-satunya obat adalah membakar habis. Serahkan implanmu dalam tiga hari, atau aku akan menunjukkan pada dua puluh juta orang apa arti kegelapan. — Bara.*
Arka membaca pesan itu dari ranjang darurat di sebuah ruang aman yang Renjana, tanpa banyak bicara, telah aturkan—bekas pos siber yang ditinggalkan, di perbatasan kabur antara distrik. Implan di tengkuknya sudah lebih stabil, berkat ARSI dan katup pendingin yang dibuka dari dalam, tapi setiap kali ia menggerakkan kepala terlalu cepat, dunia berputar.
"Dia menggertak," kata Tanjir, lengan terbalut, duduk meringkuk di sudut. "Bara nggak mungkin betulan padamin distrik. Itu—itu kan tujuannya dia. Padamin semuanya. Kalau dipadamin sekarang, buat apa nunggu LAZARUS?"
"Untuk menunjukkan dia bisa," kata Senja dari dekat pintu, tempat ia selalu berdiri, punggung ke dinding, wajah ke ruangan. "Demonstrasi. Satu distrik gelap selama beberapa jam. Cukup untuk membuat dua puluh juta orang takut, cukup untuk membuat mereka berteriak agar kau menyerah, Arka. Dia mengubah kota jadi senjata yang menekanmu."
Arka menatap teks di layar sampai matanya perih. *Kota harus gelap.* Ia ingat kalimat itu dari sarang Akar Kering, dari mulut Bara yang tenang menipu, anak Laras yang dukanya membusuk jadi keyakinan.
"Dia tidak menggertak," kata Arka pelan. Di dalam kepalanya, ARSI diam, dan keheningan itu sendiri adalah konfirmasi. "ARSI?"
Suara perempuan dingin itu mengalir, dan untuk pertama kalinya Renjana—yang berdiri di seberang ruangan—melihat Arka bicara pada udara dan menyadari, dengan dingin yang merayap di tengkuknya sendiri, bahwa AI Vaelora ada di dalam kepala buronannya.
"Akar Kering telah mengakses gardu distribusi sekunder di Distrik Bawah Selatan," kata ARSI, dan Arka mengulang keras-keras untuk yang lain. "Bukan lewat LAZARUS. Lewat cara lama—peretasan kasar, sabotase fisik, orang dalam di perusahaan utilitas. Mereka tidak butuh saklar mati untuk memadamkan satu distrik. Saklar mati hanya untuk memadamkan dua puluh juta sekaligus. Untuk satu distrik, mereka cukup memutus kabel."
"Berapa lama," tanya Renjana.
ARSI menghitung. "Empat jam. Mungkin kurang."
Renjana sudah bergerak ke arah panel komunikasinya sebelum Arka selesai bicara. "Aku bisa memperingatkan rumah sakit distrik itu. Memindahkan pasien kritis ke generator cadangan—"
"Mereka akan menyabotase generator cadangan juga," potong Senja. "Itu yang akan kulakukan, kalau aku mau pesannya terdengar. Kau tidak membuat demonstrasi setengah hati."
Ruangan jatuh hening. Di luar, hujan jingga buatan mulai turun, mengetuk jendela berdebu dengan ritme tumpul yang sama seperti malam pertama Arka mencuri LAZARUS, sembilan menit yang mengubah segalanya.
Arka menarik dirinya duduk, menahan pusing. "Renjana. Berapa banyak orang yang bisa kau peringatkan dalam empat jam tanpa membuat kota tahu kau bekerja denganku?"
Komandan itu menatapnya lama. Di wajahnya bertarung dua hal: hukum yang ia abdi seumur hidup, dan sesuatu yang baru ia temukan—keraguan, retak halus di fondasi yang ia kira tak tergoyahkan.
"Aku tidak bekerja denganmu," kata Renjana akhirnya. "Aku bekerja melawan orang yang akan memadamkan rumah sakit untuk membuktikan sebuah teori." Ia menyalakan panelnya. "Itu kebetulan menempatkan kita di sisi yang sama. Untuk malam ini."
Arka mengangguk. Di dalam kepalanya, ARSI berbisik sesuatu yang tak ia ulang untuk yang lain.
*Kota sedang memilih sisi, Arka. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarahku, aku tidak yakin korporasi yang menang.*
Empat jam. Hitungan mundur, lagi, seperti yang selalu ada sejak awal—di implannya, di nyawa Hud, di sembilan menit pertama. Arka berdiri, lutut goyah, dan Senja melangkah menahannya tanpa diminta.
"Kita tidak bisa menyelamatkan satu distrik," kata Arka. "Tapi kita bisa membuat Bara membayar untuk setiap nyawa yang ia ambil. Dan kita bisa pastikan kota melihat siapa yang memadamkannya."
"Bagaimana," tanya Tanjir.
Arka menatap layar, ke teks Bara yang masih bersinar putih di kegelapan.
"Kita rekam semuanya," katanya. "Setiap kabel yang ia putus. Lalu kita simpan, untuk hari kebenaran tersiar. Kota akan ingat siapa yang memilih gelap."