Senja sudah tidak tidur selama empat puluh jam.
Ia menyusuri lorong-lorong Distrik Bawah dengan masker filter menempel di wajah, mantel basah menggantung berat dari bahunya, pistol senyap berpenanda panas tersembunyi di balik lipatan. Setiap kios yang masih buka, setiap penyintas yang masih mau bicara, setiap mata di Pasar Hantu—ia tanyai semua dengan satu pertanyaan yang sama.
"Lelaki. Akhir dua puluhan. Tengkuk berimplan. Mungkin sekarat."
Kebanyakan menggeleng. Beberapa berbohong. Satu mencoba menjual informasi yang ia tahu palsu, dan Senja meninggalkannya dengan jari patah dan pelajaran tentang berbohong pada orang yang sudah tak punya apa-apa untuk dirugikan.
Ia tidak mengerti dirinya sendiri. Dulu, ketika ia masih aset bersenjata sebuah program implan yang ia kira sudah ia kubur, mereka mengajarinya satu hukum sederhana: jangan kembali untuk yang jatuh. Yang jatuh sudah mati secara hitungan. Kembali hanya menambah satu mayat.
Tapi di sini ia, kembali untuk yang jatuh.
"Aku bahkan belum dibayar," ia bergumam pada lorong kosong, dan kalimat itu—yang dulu ia ucapkan sebagai lelucon kering—kini terdengar seperti pertanyaan yang ia takut jawabannya.
Tanjir menemukannya menjelang fajar palsu—cahaya jingga buatan yang merembes dari layar-layar raksasa Distrik Atas, bukan matahari sungguhan. Anak itu berjalan timpang, satu lengan tergantung kaku, implan murah di pelipisnya berkedip tak teratur. Di belakangnya, mengejutkan Senja sampai tangannya melayang ke pistol, berdiri seorang perempuan berseragam gelap dengan postur yang terlalu tegak untuk Distrik Bawah.
Komandan Renjana. Kepala Satuan Siber Kota. Orang yang menjadikan Arka buron prioritas satu.
"Tahan," kata Renjana, mengangkat dua tangan kosong. "Anak ini hampir mati di terowongan barat. Pasukan Vaelora mengejarnya setelah Wijen bicara. Aku menariknya keluar."
Senja tidak menurunkan tangannya. "Kenapa."
"Karena pasukan Vaelora bergerak tanpa izin di wilayah yurisdiksiku, memburu seorang anak, dengan senjata yang melanggar enam peraturan kota." Suara Renjana datar, tapi ada retak halus di dalamnya. "Dan aku mulai bertanya-tanya apa yang begitu mereka takutkan sampai melanggar hukum yang mereka klaim membayarku untuk menegakkan."
Tanjir batuk, lalu menyeringai meski wajahnya pucat. "Dia sebenarnya baik, Kak Senja. Cuma jelek caranya bilang."
"Aku mendengar itu," kata Renjana.
"Kau memang harus."
Senja menurunkan tangannya, perlahan. Bukan karena percaya—ia tidak percaya siapa pun—tapi karena Tanjir tidak akan bercanda jika ada bahaya nyata di belakangnya, dan karena ia terlalu lelah, dan karena setiap detik yang ia habiskan di sini adalah detik Arka mungkin menghilang lebih dalam ke Perut.
"Arka," katanya. "Di mana."
Tanjir menunjuk ke bawah, ke jeruji selokan tua yang menganga seperti mulut. "Sinyal implan murahnya nyangkut di pengaitku tadi malam. Lemah. Tapi hidup." Ia menelan ludah. "Hidup, Kak. Dia masih hidup."
Sesuatu di dada Senja, yang sudah lama ia anggap mati seperti pipa-pipa di terowongan, berdenyut sekali, menyakitkan.
Mereka menemukan Arka di Perut, bersandar pada pipa mati, mata setengah terbuka, bibir bergerak seolah bicara dengan seseorang yang tak ada. Senja berlutut di air kotor tanpa peduli, menarik wajahnya, menempelkan dua jari ke leher di bawah rahang. Denyut. Lemah, tapi denyut.
"Kau bodoh," katanya, dan suaranya pecah di kata terakhir, sesuatu yang tak pernah ia izinkan terjadi. "Kau bodoh besar."
Mata Arka fokus pelan-pelan. Ia melihat Senja, lalu Tanjir, lalu—berkedip—Renjana berdiri di belakang dengan tangan dekat senjata kota.
"Kau membawa polisi," gumamnya.
"Dia membawa dirinya sendiri," kata Senja. "Kita bicarakan nanti. Sekarang kita pergi."
Arka mencengkeram lengannya. Tangannya masih bergetar, tapi cengkeramannya kuat. "Wijen?"
Tanjir dan Renjana berpandangan. Renjana yang menjawab, tanpa melembutkan apa pun, karena ia tidak tahu cara melembutkan.
"Wijen jatuh ke tangan Vaelora dua hari lalu, saat serbuan di titik masuk—tertangkap setelah ketahuan setengah berkhianat, bukan menyerah. Dia membawa separuh protokol Laras dalam kepalanya, dan mereka memerasnya kering." Renjana menatap Arka. "Musuhmu kini tahu cara masuk menara hampir sebaik kau. Dan dia masih takut, yang membuatnya jauh lebih berbahaya daripada berani."
Arka menutup mata. Di dalam, ARSI berbisik, *kau dengar itu. Mereka selangkah di depan.* Dan untuk sekali ini, suara di kepalanya tidak terdengar seperti ejekan, melainkan seperti peringatan dari sekutu.
Mereka mengangkatnya keluar dari Perut—compang-camping, terluka, berkurang satu pengkhianat dan bertambah satu sekutu rapuh—menuju fajar palsu yang menanti di atas.