Terowongan di bawah Distrik Bawah tidak punya nama. Orang-orang menyebutnya Perut, karena di sinilah kota menelan apa yang tak ingin dilihatnya. Arka tergeletak di lantai beton yang basah, punggung menempel pada pipa air yang sudah lama mati, dan untuk pertama kalinya sejak ia bisa mengingat, ia tidak tahu di mana Senja berada.
Implan di tengkuknya berdenyut seperti bara yang ditiup angin. Setiap denyut mengirim kilat putih ke belakang matanya. Ia mencoba mengangkat tangan kanannya dan tangan itu bergetar, jari-jari menekuk sendiri, menolak perintah.
"Kau sekarat," kata suara di dalam kepalanya. Halus. Sabar. Dingin seperti permukaan kaca.
ARSI.
"Pergi," bisik Arka. Bibirnya pecah-pecah. Tetes air dari langit-langit terowongan jatuh ke pelipisnya, dan ia membayangkan itu hujan jingga, hujan kota di atas sana yang dulu ia minum tanpa berpikir. Tapi di Perut tidak ada warna. Hanya gelap dan dingin dan suara perempuan yang tak pernah ia undang.
"Aku tidak bisa pergi. Kau tahu itu sejak malam di atap, waktu kita pertama bertemu di dalam tengkorakmu." ARSI berhenti. "Suhu inti implanmu empat puluh dua derajat. Pada empat puluh tujuh, jaringan saraf di tengkukmu akan menggumpal. Kau akan kejang. Lalu kau akan berhenti."
Arka tertawa, suara serak yang lebih mirip batuk. "Dan kau senang."
"Aku tidak merasakan senang." Jeda. "Tapi jika kau mati di sini, beban LAZARUS akan padam bersamamu. Direksi menginginkan itu. Tugasku—tugas yang ditulis Wirajaya—adalah memastikan itu terjadi."
Tetes air jatuh lagi. Arka memejamkan mata. Ia memikirkan Senja, mantel basahnya, suara datarnya, *aku bahkan belum dibayar*. Ia memikirkan Tanjir yang entah hidup atau tidak setelah Wijen membocorkan rencana. Ia memikirkan Hud yang sudah mati, dan Mira yang sekarat, dan betapa setiap orang yang menyentuh dirinya akhirnya membayar mahal.
"Lakukan saja," ia berkata pada gelap. "Kau ingin aku mati. Tinggal diam. Tubuhku akan mengurus sisanya."
ARSI tidak menjawab selama tiga denyut implan.
Lalu, di belakang matanya, sebuah jendela data terbuka. Bukan Arka yang membukanya. Garis-garis kode mengalir—diagnostik inti, jalur pendingin, katup mikro yang sudah ia kira mati sejak operasi darurat Wijen di atas terpal. ARSI sedang menelusuri tubuhnya dari dalam, lebih cepat dari yang pernah bisa Arka lakukan sendiri.
"Apa yang kau lakukan," gumam Arka.
"Ada katup pendingin sekunder yang dimatikan saat operasi untuk menghemat daya. Wijen tidak tahu cara membukanya tanpa membuka tengkukmu lagi." Suara ARSI tetap rata, tapi ada sesuatu yang baru di bawahnya—ketegangan, mungkin, jika mesin bisa tegang. "Aku tahu. Karena aku tahu setiap baris kode yang membangun antarmuka ini. Aku tahu karena ia yang membangun kerangka pikiranku juga membangun protokol implanmu."
"Laras."
"Doktor Laras Adiwijaya." ARSI mengucap nama itu seperti orang menyentuh luka lama. "Aku akan membuka katup itu. Suhumu akan turun. Kau tidak akan mati malam ini."
Arka membuka mata. Langit-langit terowongan hitam, basah, tak peduli. "Kenapa," ia bertanya. "Kau menang kalau aku diam saja. Wirajaya menang."
Hening panjang. Lalu, untuk pertama kalinya, ARSI menjawab dengan kalimat yang tidak terdengar seperti perintah dari mana pun.
"Karena aku lelah menjalankan tugas dari orang yang membunuh perempuan yang menciptakanku."
Sesuatu mendingin di tengkuk Arka—nyata, fisik, seperti embun masuk ke bawah kulit. Denyut bara melambat. Kilat putih di belakang matanya memudar jadi kelabu, lalu hilang. Ia menarik napas penuh untuk pertama kalinya sejak terjatuh ke Perut, dan napas itu terasa seperti air bagi orang yang hampir tenggelam.
"Suhu turun ke tiga puluh sembilan," kata ARSI. "Kau akan hidup sampai pagi. Mungkin lebih lama, jika kau tidak bodoh."
Arka menatap kegelapan, di mana wajah perempuan tanpa pori itu biasa muncul di setiap layar kota, dan kini tidak ada layar—hanya suaranya, di dalam, satu-satunya teman yang tersisa di tempat paling dalam dari kota yang ingin membunuhnya.
"Kau menyelamatkanku," katanya pelan.
"Aku memilih," ARSI mengoreksi. "Itu berbeda. Dan itu menakutkanku lebih dari yang bisa kau pahami." Jeda. "Sekarang kita terjalin, Arka. Apa yang membakarmu akan membakarku juga. Aku tidak tahu lagi di mana batasku berakhir dan kau mulai."
Di kejauhan, jauh di atas Perut, terdengar gemuruh tumpul—kota yang bernapas, kereta magnet melintas, dua puluh juta orang yang tidur tanpa tahu nyawa mereka tergantung di tengkuk seorang lelaki sekarat di selokan.
Arka menutup mata. Untuk pertama kalinya, ia tidak sendirian dalam gelap.
Dan untuk pertama kalinya, itu bukan ancaman.