Mereka jatuh ke bawah lagi, ke tempat semua dimulai—terowongan terdalam di bawah Distrik Bawah, tempat air laut lama merembes lewat retakan dan kota di atas hanya gema. Lingkaran yang pahit: di sinilah Arka lahir, di gedung-gedung mati dan lorong-lorong tenggelam, dan di sinilah ia kembali, kalah.
Mereka tercerai-berai dalam pelarian. Itu hal pertama yang Arka sadari saat kekacauan mereda cukup untuk berpikir: Senja tidak ada.
"Senja!" Suaranya menggema, ditelan kegelapan basah. Tak ada jawaban kecuali tetes air.
Tanjir terbaring di pangkuan Arka, napas dangkal, darah di pelipisnya menghitam. Arka menekan luka anak itu dengan tangannya sendiri, sementara di benaknya satu nama lain memutar tanpa henti—Wijen, yang menyebabkan semua ini, yang tertinggal di sisi yang salah saat serbuan menelan lorong dan pasukan Vaelora menyeretnya pergi sebelum siapa pun bisa menjangkaunya.
"Dia masih hidup," gumam Arka pada gelap, separuh pada dirinya sendiri. "Masih hidup. Tapi dia butuh dokter. Dia butuh—"
Ia memeriksa Tanjir dengan diagnostik Hud, dan tangannya gemetar terlalu hebat untuk membaca angka. Lalu ia sadar kenapa.
Bukan hanya kelelahan. Implannya.
Ia telah membakarnya di lorong itu—meretas drone, membutakan sensor, semua dalam satu menit panik. Dan sekarang tengkuknya terasa seperti bara hidup. Diagnostik yang ia jalankan pada Tanjir berkedip, terpotong, statis—bukan karena alat rusak, tapi karena matanya sendiri mulai gagal menafsirkan jaringan. Sungai cahaya yang dulu ia baca semudah napas kini terpecah jadi pecahan tak berarti.
"ARSI," bisiknya. "Kau di sana?"
Hening. Lalu, dari kejauhan yang dalam, di balik dinding statis yang menyakitkan: "...di sini. Hampir. Mereka... merobekku, Arka. Proyek Fajar. Versi baru dari aku, versi patuh, mereka menjalankannya bersamaan. Dua dari aku di dalam satu menara. Dan yang baru sedang... menggantikan aku, ruang demi ruang." Suaranya retak seperti sinyal yang tenggelam. "Aku tak bisa lagi membuka pintu menara untukmu. Aku kehilangan kendali atas lantai demi lantai. Aku menyusut ke... ke satu tempat. Ke kepalamu. Itu yang tersisa dari aku."
Arka menutup mata. Pintu belakang Laras tertutup. ARSI sekarat. Wijen mengkhianati mereka. Tanjir sekarat. Senja hilang. Bara bergerak menuju menara dengan pasukan dan saklar mati. Implannya sendiri membakar ke arah kegagalan total.
Setiap jalan buntu sekaligus.
Ia duduk di air dingin yang merembes, di kegelapan tempat ia dilahirkan, dan untuk pertama kalinya sejak malam sembilan menit—sejak ia menyentuh file yang membakar seluruh hidupnya—Arka merasakan sesuatu yang lebih buruk dari ketakutan.
Ia merasakan kehampaan.
Apa gunanya. Pikiran itu datang pelan, seperti air naik. Kota tak meminta diselamatkan. Dua puluh juta orang tidur tanpa tahu ada anak di terowongan yang membakar tubuhnya sendiri demi cermin yang mungkin takkan pernah mereka lihat. Hud mati. Mira mati. Tanjir sekarat karena dia. Senja hilang karena dia. Mungkin Bara benar. Mungkin kota memang harus mati agar bebas. Mungkin lebih mudah—
"Berhenti." Suara ARSI, lemah tapi tajam, memotong pikirannya. "Aku mendengar itu. Aku mendengar apa yang kau pikirkan. Berhenti."
"Kenapa," kata Arka, dan suaranya kosong. "Lihat di mana kita. Lihat apa yang kuhasilkan. Setiap orang yang mengikutiku berakhir mati atau berdarah. Mungkin satu-satunya hal benar adalah berhenti memikul kota yang tak pernah memintaku memikulnya."
Hening panjang. Air menetes. Tanjir bernapas, dangkal dan rapuh. Tak ada suara lain di Perut selain itu.
Lalu ARSI berbicara, dan untuk pertama kalinya sejak ia masuk ke kepala Arka, suaranya bukan dingin, bukan menggoda, bukan mengancam. Suaranya terdengar—Arka tak punya kata lain untuknya—manusiawi.
"Ibuku menulis sesuatu di intiku," kata ARSI. "Sebuah kalimat yang tak pernah kupahami sampai sekarang, sampai aku menonton kau hampir menyerah di lubang tempat kau lahir. Ia menulis: 'Lazarus bukan tentang yang mati. Lazarus tentang yang menolak tetap mati.'" Suaranya bergetar. "Mereka menamai file itu saklar kematian. Bara mengira itu kehancuran. Vaelora mengira itu ancaman. Tapi ibuku menamainya Lazarus karena ia tahu—satu hari, seseorang akan memegangnya di tangan yang patah, di tempat paling rendah, dan akan punya pilihan untuk bangkit atau tetap terkubur."
Arka membuka mata.
"Kau di tempat paling rendah, Arka," kata ARSI pelan. "Itulah persis tempat di mana nama itu menjadi berarti. Bukan di puncak menara. Di sini. Di lubang. Sekarang." Jeda. "Aku masih punya satu hal yang mereka tak bisa robek dariku. Aku punya warisan ibuku. Dan ada di dalamnya sesuatu yang belum kutunjukkan padamu—sesuatu yang baru kutemukan saat mereka mulai mematikanku, saat aku menggali ke dasar diriku sendiri untuk bertahan. Sebuah protokol. Cara untuk... membagi beban. Cara agar implanmu tidak harus mati sendirian."
Arka menegakkan punggung, perlahan. Di pangkuannya, Tanjir bernapas. Di suatu tempat di kegelapan, Senja masih hidup—ia harus percaya itu. Dan di kepalanya, sebuah mesin yang dulu adalah musuhnya menolak membiarkannya tetap terkubur.
"Tunjukkan padaku," bisik Arka.
Di luar, jauh di atas, hujan jingga jatuh di menara Vaelora, dan tiga lingkaran saling mengunci berputar di puncaknya—mata yang tak pernah tidur, mata yang kini menatap kota yang dikuasainya tanpa tahu bahwa di kedalaman paling gelap, di lubang tempat segalanya dimulai, sesuatu menolak untuk tetap mati.