Tiga orang berdiri di atap dunia, dan kota dua puluh juta jiwa berdenyut di bawah kaki mereka, tak tahu sama sekali.
"Menyingkir dari konsol," kata Bara. Suaranya tenang—selalu tenang, itu yang paling menipu darinya. "Aku tidak datang sejauh ini untuk kebenaran, Arka. Aku datang untuk keadilan. Dan keadilan tidak disiarkan ke layar. Keadilan dijalankan dengan saklar."
"Kalau kau jalankan saklar mati," kata Arka, tubuhnya di antara Bara dan konsol, "kota gelap. Air berhenti. Rumah sakit padam. Kau sudah lihat sendiri di distrik yang kau matikan—mayat di lorong, bayi di inkubator yang mati. Itu keadilanmu?"
"Itu harga." Mata Bara tidak berkedip. "Korporasi membunuh perlahan, bertahun-tahun, dan tidak ada yang menghitung mayatnya karena mereka mati pelan. Aku hanya mempercepatnya supaya orang akhirnya melihat. Supaya kota terbakar cukup terang sampai tidak ada yang bisa membangun ulang Tiga Besar di atas abunya."
"Ibumu tidak mau itu."
Sesuatu retak di wajah Bara—untuk sekejap, di balik ketenangan, ada anak kecil yang ditinggal ibunya demi pekerjaan, lalu kehilangan ibu itu selamanya di tangan orang-orang yang ia coba lawan. "Jangan," kata Bara, dan suaranya turun jadi nyaris berbisik, "bicara tentang ibuku. Kau menonton satu rekaman dan kau pikir kau mengenalnya. Aku tumbuh dalam bayangannya. Aku menunggu dia pulang dan dia tidak pernah pulang—dan ketika dia akhirnya memilih melawan korporasi, mereka menembaknya. Jalan damai membunuhnya, Arka. Kebenaran damai-mu adalah peluru di kepala ibuku."
"Dan kekacauanmu," kata Senja, melangkah ke samping, mantel basahnya menetes, pistol turun tapi siap, "akan jadi peluru di kepala dua puluh juta orang lain. Aku sudah membunuh orang untuk uang, Bara. Aku tahu seperti apa orang yang membenarkan mayat. Kau persis seperti klien-klienku."
Bara menoleh padanya, dan senyumnya kembali, dingin. "Pembunuh bayaran yang menemukan moral. Berapa mereka membayarmu untuk ini? Seratus ribu kredit?"
"Tidak ada yang membayarku," kata Senja. "Itu yang kau tidak akan pernah mengerti."
Bara mengangkat senjatanya.
Senja lebih cepat—tapi Senja tidak menembak ke dada. Ia menembak senjata Bara, memercikkan logam, dan menerjang. Mereka bertubrukan di tengah ruangan, dua tubuh yang dilatih untuk kekerasan, terlatih oleh dunia yang sama yang membentuk mereka berdua—korporasi yang membuat aset bersenjata dari anak-anak hilang. Pengawal Bara bergerak; Senja menembak satu di kaki tanpa melepaskan cengkeramannya pada Bara, lalu yang lain, gerakannya ekonomis dan brutal.
"Arka!" teriak Senja, terjepit di bawah lengan Bara, pipinya yang berbekas luka membentur lantai kaca. "Konsol! Sekarang! Jangan tunggu aku!"
Arka berbalik ke konsol. Terminal saraf menjuntai seperti akar menunggu. Ia tahu apa yang akan terjadi saat ia menyambungkannya ke tengkuknya. Ia sudah tahu sejak Laras mengucapkannya.
Tangannya gemetar di atas terminal.
Di belakangnya, Bara melepaskan diri dari Senja dengan pukulan siku, dan suaranya, sekali lagi tenang, memotong ruangan seperti pisau dingin:
"Sebelum kau bunuh dirimu sendiri demi siaran, Arka—tanyakan satu hal pada dirimu. Kalau kebenaran sudah cukup untuk meruntuhkan mereka, kenapa ibuku mati membawanya, dan kota tetap menyala seperti tidak terjadi apa-apa?"
Tangan Arka berhenti.