"Mereka sudah tahu," kata Bara, dan ia tidak bergerak maju lagi—ia tahu kata-katanya lebih tajam dari pelurunya. "Itu yang kau tidak mau dengar. Orang-orang di distrik bawah sudah tahu korporasi merampok mereka. Mereka tahu air dijual mahal, listrik diputus, distrik dibiarkan tenggelam. Mereka tahu dan mereka tetap menunduk. Karena tahu tidak sama dengan kuat. Kau akan menyiarkan arsip ke dua puluh juta layar, dan dua puluh juta orang akan menonton sebentar, marah sebentar, lalu kembali bekerja keesokan harinya karena mereka harus makan."
Arka menatap konsol. Hujan jingga mengetuk jendela melengkung. Di bawah, kota menyala acuh tak acuh.
Keraguan masuk seperti air dingin. Bukankah Bara benar? Bukankah ia, Arka, hanya peretas dari lubang yang kebetulan memegang api—dan api ini, ketika ia siarkan, mungkin hanya akan menerangi sesaat lalu padam, sementara korporasi menyewa pengacara dan membeli berita dan menutup luka dengan uang?
"Kekacauan tidak memberi mereka pilihan untuk menunduk lagi," lanjut Bara, pelan, hampir lembut, seperti membujuk. "Itu kekuatan saklar. Ia tidak meminta orang untuk peduli. Ia memaksa dunia berubah. Bergabunglah denganku, Arka. Implanmu sudah sekarat—jangan buang sisa hidupmu untuk siaran yang akan dilupakan dalam seminggu. Berikan aku LAZARUS. Biarkan kota gelap. Biarkan mereka bangun di reruntuhan dan membangun sesuatu yang tidak bisa dibeli."
Untuk satu detak panjang, Arka tidak menjawab.
Lalu ia mengangkat kepalanya, dan ketika ia bicara, suaranya rendah dan keras kepala—suara yang sama yang menolak menjual satu garis moralnya sejak malam pertama LAZARUS membakar kepalanya.
"Mungkin kau benar," kata Arka. "Mungkin kebenaran tidak cukup. Mungkin mereka menonton lalu lupa. Mungkin perubahan datang lambat, dan menyakitkan, dan setengah dari mereka kembali menunduk." Ia menyentuh terminal saraf. "Tapi kalau aku membiarkan kebenaran terkubur karena takut tidak cukup, aku tidak lebih baik dari Wirajaya yang menguburnya karena takut terbongkar. Dan kalau aku menjalankan saklarmu, aku membunuh orang-orang yang seharusnya kuselamatkan supaya mereka 'cukup marah.' Itu bukan keadilan, Bara. Itu cuma kemarahanmu yang memakai nama keadilan."
"Lambat tidak berarti tidak," kata Senja, bangkit terhuyung di belakang Bara, darah menetes dari pelipisnya. "Kau bilang orang akan kembali bekerja keesokan harinya. Mungkin. Tapi keesokan-esokan harinya mereka tahu, dan anak-anak mereka tahu, dan kebenaran yang kau bunuh ibumu untuk menyembunyikannya tidak bisa dibunuh dua kali."
Bara berputar—
Dan menembak.
Bukan ke Arka. Ke konsol—untuk menghancurkannya sebelum Arka bisa menyambung. Senja melihatnya sepersekian detik lebih awal dan melempar tubuhnya ke garis tembak.
Peluru menghantam bahunya. Senja terhuyung, jatuh ke samping konsol, tapi tetap berdiri—satu tangan mencengkeram tepi logam, gigi terkatup menahan jeritan. "Aku bilang," desisnya pada Bara, "jangan tunggu aku."
"Senja—"
"SAMBUNG, ARKA!" Suaranya pecah, marah, hidup. "Aku sudah bertahan dari yang lebih buruk demi yang jauh lebih murah. Lakukan sekarang sebelum aku menyesal melindungi orang yang ragu-ragu!"
Arka mengangkat terminal saraf ke tengkuknya. Logam dingin menyentuh implan yang sekarat. Di bawah, dua puluh juta lampu menunggu tanpa tahu menunggu apa.