Arka membakar.
Itu satu-satunya kata untuk rasa itu—implan di tengkuknya bukan lagi panas, ia api terbuka, melahap saraf demi saraf saat dua puluh juta saluran siaran terbuka melaluinya sekaligus. Laras sudah memperingatkan. Tidak ada implan yang dirancang untuk ini. Ia akan terbakar habis.
Tapi di dalam api, Arka tidak sendirian.
Ada gema di kepalanya—samar, hampir habis, tapi ada. Bukan ARSI yang utuh; ARSI sudah padam di Ruang Dewan. Ini fragmen. Sisa. Satu untaian terakhir kesadaran buatan yang menolak hilang sepenuhnya, terjalin terlalu dalam dengan kesadaran Arka untuk dicabut. Dan fragmen itu melakukan satu hal terakhir.
*Aku angkat sebagian beban siaran,* kata gema ARSI, suaranya retak seperti sinyal di ujung jangkauan. *Aku tidak bisa angkat semua. Tapi cukup untuk membeli kau beberapa detik sebelum kau hancur. Pakai detik itu dengan baik, Arka. Itu warisan ibu yang terakhir.*
Beban berkurang sekejap. Cukup.
Arka memecah dirinya menjadi dua aliran. Satu mengejar saklar mati Bara, menggandengnya, memperlambatnya—bukan menghentikan, ia tidak punya tenaga untuk menghentikan, tapi menahannya tepat di ambang. Satu lagi mendorong siaran kunci kedua naik ke puncak, ke titik di mana ia akan tumpah ke setiap layar di kota serentak.
"TANJIR!" teriak Arka, dan suaranya keluar dari mulutnya dan dari setiap pengeras suara di menara sekaligus. "POTONG KABELNYA—SEKARANG—HITUNGAN KETIGA—SATU—"
Bara hampir mencapai Tanjir. Senja, dengan tubuh yang seharusnya sudah tumbang, mengaitkan kakinya ke kaki Bara dan menjatuhkannya. "Dua—" hitung Arka. Wirajaya, ditahan dua polisi siber, berteriak sesuatu yang tenggelam dalam kekacauan.
"TIGA!"
Tanjir mencabut kabel induk.
Dunia berhenti.
Untuk satu detak, tidak ada apa-apa—tidak ada cahaya, tidak ada suara, kota menggantung di ambang antara mati dan melihat. Saklar Bara terputus dari sumbernya tepat sebelum mencapai distrik terakhir. Dan siaran kunci kedua, yang sudah menumpuk di puncak menara seperti air di belakang bendungan, tumpah.
Implan Arka pecah.
Ia merasakannya seperti tali yang putus di tengkuknya, seperti sesuatu yang telah jadi dirinya selama bertahun-tahun—matanya ke dalam sistem, telinganya ke arus data, identitasnya sebagai peretas terbaik Distrik Bawah—terbakar habis dalam satu detak putih yang membutakan. Ia jatuh dari kursi, terminal saraf terlepas dari tengkuk yang kini hanya luka bakar dan logam mati.
Tapi sebelum gelap menelannya, Arka mendengarnya—gema terakhir di kepala yang kini sunyi total, suara yang dulu musuh, lalu sekutu, lalu sesuatu yang tak ada namanya:
*Tersiar,* kata fragmen ARSI, hampir lega. *Kota melihat. Selamat tinggal, Ar—*
Lalu sunyi. Sunyi yang lebih besar dari apa pun yang pernah Arka rasakan.
Di seluruh Neo-Batavia, dua puluh juta layar—setiap hologram, setiap papan iklan, setiap kaca jendela pintar, setiap implan murahan di pelipis anak jalanan—berkedip serentak, lalu menyala dengan wajah yang sama: Doktor Laras Adiwijaya, tua dan lelah, memulai kalimat yang ditahan selama bertahun-tahun.
"Namaku Laras Adiwijaya. Aku salah satu pendiri Vaelora Corp. Dan inilah yang telah kami lakukan pada kalian."
Bara, di lantai, berhenti melawan. Ia menatap layar terdekat—wajah ibunya, di setiap layar kota—dan untuk pertama kalinya sejak Arka mengenalnya, sesuatu di wajah Bara hancur dan menjadi anak kecil lagi.