Hujan jingga jatuh di atas kota yang sedang menonton dirinya sendiri.
Di Distrik Bawah, di gang-gang sempit tempat air dijual setetes demi setetes, orang-orang berhenti berjalan. Mereka mendongak ke papan iklan retak yang biasanya menjajakan kredit dan implan murah, dan melihat wajah seorang perempuan tua membongkar setiap dosa yang mereka rasakan di tubuh mereka tapi tak pernah punya bukti. Distrik yang sengaja ditenggelamkan. Air yang ditahan agar harganya naik. Listrik yang diputus dari rumah sakit miskin agar kuota Distrik Atas terpenuhi. Nama. Tanggal. Angka. Mayat.
Di Pasar Hantu, di reruntuhan kios Hud, layar tua yang dulu cuma menampilkan statis kini menyiarkan arsip kejahatan empat puluh tahun, dan orang-orang yang biasa bersembunyi keluar ke lorong untuk menonton bersama.
Di Distrik Atas, di apartemen kaca tempat para eksekutif menyeruput kopi sintetis, layar yang sama menyala. Tidak ada yang bisa mematikannya. ARSI sudah memberi Arka akses penuh menara sebelum padam; siaran itu mengalir dari inti yang sama yang dulu mengendalikan setiap layar untuk berbohong, kini dipaksa mengatakan kebenaran. Mata yang tak pernah tidur, akhirnya, menatap balik tuannya.
Dan tidak satu lampu pun padam.
Itu yang membuat Renjana berlutut di puncak menara, di tengah kekacauan, dan menutup matanya sejenak. Tidak ada distrik gelap. Tidak ada rumah sakit mati. Tidak ada dua puluh juta korban dari saklar mati. Bara gagal, dan Wirajaya gagal, dan yang menang adalah hal yang paling tidak mungkin—kebenaran tanpa mayat. Kota tidak mati. Kota melihat.
"Arka." Senja sudah merangkak ke sisinya, satu tangan menahan bahu yang hancur, yang lain mengguncang tubuh Arka yang tak bergerak di lantai. "Arka. Bangun. Bangun, sialan."
Tengkuknya hangus. Implan yang dulu mendefinisikannya kini hanya logam meleleh dan kulit terbakar. Wajahnya pucat, napasnya nyaris tak ada. Tapi ada—tipis, keras kepala, seperti harapan kecil yang ia tolak lepaskan sepanjang cerita.
"Dia hidup," kata Tanjir, berlutut di sisi lain, suaranya pecah antara tangis dan tawa. "Dia masih napas. Hud—Hud bisa menstabilkannya kalau—" Ia berhenti. Hud sudah mati. Tapi Hud mewariskan murid, dan murid itu adalah dirinya, dan ia tahu cukup untuk menjaga seseorang manusia tetap bernapas sampai bantuan datang.
Di lift, Wijen muncul—Wijen yang membelot, lalu mengkhianati, lalu kembali; Wijen yang membuka satu lapisan mustahil di lantai lima puluh dengan kode yang ia bawa kembali dari Vaelora. Wajahnya masih dihantui ketakutan, tapi ia berlutut di samping Arka tanpa ragu dan membuka kotak alat Hud yang ia bawa. "Aku tahu implan menara," katanya, tangan gemetar tapi bergerak. "Aku bisa menjaganya stabil. Cukup lama. Cukup untuk membawanya turun hidup-hidup."
Arka membuka mata setengah. Dunia tampak datar, sunyi, kosong—tidak ada arus data, tidak ada sungai cahaya, tidak ada suara di kepalanya. Untuk pertama kalinya sejak ia kecil, kepalanya benar-benar sunyi, dan kesunyian itu terasa seperti kehilangan dan kebebasan sekaligus.
"Senja," bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar.
"Aku di sini." Wajah berbekas luka itu condong di atasnya, basah—hujan atau air mata, Arka tak bisa membedakan.
"Apa berhasil?"
Senja tertawa—patah, lelah, hidup. Ia memutar kepala Arka pelan ke arah jendela melengkung, ke arah kota yang terbentang di bawah dengan dua puluh juta layar menyala dengan wajah seorang ibu yang akhirnya didengar.
"Lihat sendiri," katanya. "Kota sedang membaca dosanya. Dan tidak ada yang mati untuk itu."
Lazarus, pikir Arka samar sebelum gelap menariknya lagi. Bukan saklar kematian. Kebangkitan. Kota yang mati lalu bangkit melihat dirinya.
Lalu ia membiarkan dirinya jatuh ke kegelapan yang sunyi, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, tanpa hitungan mundur di kepalanya.