Mereka membawanya kepada Bara tiga hari kemudian, dan Bara tidak melawan.
Itulah yang paling mengganggu Arka. Ia membayangkan pertarungan—pasukan, jebakan, suara tinggi Bara yang berkhotbah tentang kota yang harus gelap. Tapi yang ia temukan di reruntuhan pabrik penyaring air lama, di mana Akar Kering pernah jadi raksasa, hanyalah seorang lelaki tinggi berjanggut tipis duduk di lantai beton retak, dikelilingi belasan pengikut yang tersisa, dan tatapan yang sudah tidak punya tempat tujuan.
"Mereka pergi," kata Bara tanpa menoleh, saat Arka masuk dengan Senja di belakangnya, pistol senyap tetap di tangan tapi tidak terangkat. "Begitu kebenaran tersiar. Begitu dua puluh juta orang melihat sendiri arsipnya, mereka tidak butuh aku lagi untuk marah. Mereka punya alasan mereka sendiri sekarang." Ia mengangkat wajah. "Aku menghabiskan sepuluh tahun meyakinkan orang bahwa satu-satunya bahasa yang dimengerti korporasi adalah kehancuran. Lalu kau buktikan aku salah dalam satu malam."
Arka duduk di hadapannya. Senja tetap berdiri, waspada, tapi Arka memberinya isyarat dengan mata. *Ini percakapan, bukan eksekusi.*
"Aku tidak datang untuk menang darimu," kata Arka.
"Lalu untuk apa?" Bara tersenyum tipis, lelah. "Menyerahkanku ke Renjana? Polisi Siber-mu yang baru bertobat itu? Silakan. Aku tidak akan lari."
"Ibumu," kata Arka, dan ia melihat lelaki itu membeku. "Aku mendengar suaranya berbulan-bulan. Di dalam Lazarus. Di dalam ARSI." Ia mengeluarkan sesuatu dari saku—sebuah pemutar tua, salinan rekaman yang ia simpan. "Dia menyebut namamu, Bara. Bukan dengan benci. Dengan penyesalan. Dia bilang dia meninggalkanmu demi pekerjaan dan menontonmu tumbuh jadi dendamnya sendiri, dan dia tidak pernah memaafkan dirinya untuk itu."
"Berhenti." Suara Bara retak.
"Dia memilih jalan damai," Arka melanjutkan, pelan tapi tak kenal ampun, karena Laras pantas didengar. "Membocorkan kebenaran tanpa membunuh siapa pun. Mereka membunuhnya untuk itu. Dan kau—kau menghabiskan hidupmu mencoba menjalankan saklar yang akan membunuh dua puluh juta orang, persis untuk membalas kematian satu perempuan yang seumur hidupnya menolak membunuh siapa pun."
Bara menunduk. Bahunya yang lebar bergetar. Belasan pengikut yang tersisa menatap pemimpin mereka runtuh, dan satu per satu, mereka mengalihkan pandangan.
"Aku kira kalau kota gelap," bisik Bara, "mereka akan merasakan yang kami rasakan. Yang dia rasakan."
"Mereka sudah merasakan," kata Arka. "Sekarang mereka melihatnya juga. Itu yang ibumu mau. Bukan saklar. Mata."
Untuk waktu yang lama tak ada yang bicara. Hujan jingga merembes lewat atap pabrik yang bolong, menggenang di lantai beton, memantulkan cahaya kota yang berubah di atas mereka.
"Apa yang akan terjadi padaku?" tanya Bara akhirnya.
"Pengadilan," kata Arka. "Yang sebenarnya. Yang pertama dalam sejarah kota ini. Kau akan jawab atas distrik yang kau padamkan, orang-orang yang mati karenanya. Tapi kau juga akan dapat sesuatu yang ibumu tidak pernah dapat." Ia berdiri. "Kesempatan bicara, dan didengar."
Bara mengangkat pemutar tua itu dengan tangan gemetar, menggenggamnya seperti tulang ibunya. Saat Renjana dan dua petugasnya masuk untuk membawanya, ia tidak melawan. Tapi di ambang pintu, ia berhenti.
"Arka." Ia menoleh. "Kau dan dia—ARSI. Kami berdua ciptaan ibuku. Satu daging, satu mesin." Senyum getir terakhir. "Aku ingin tahu kenapa mesin itu memilih lebih bijak dariku."
Lalu ia pergi, ditelan hujan jingga, dan Akar Kering—raksasa bawah tanah yang pernah mengguncang Neo-Batavia—pecah jadi serpihan yang masing-masing mencari jalan baru.
Senja menyarungkan pistolnya. "Kau membiarkannya hidup."
"Ibunya membiarkan kota hidup," kata Arka. "Sepertinya itu menular."