Arsip itu tidak pandang bulu.
Saat kunci kedua menyiarkan setiap kejahatan korporasi ke dua puluh juta layar, ia tidak hanya menelanjangi Wirajaya dan dewan direksi. Ia menelanjangi semua yang pernah mereka sentuh. Dan di antara jutaan berkas yang tumpah ke jaringan kota, ada satu folder dengan nomor seri alih-alih nama. Program Mata Kelima. Aset bersenjata. Subjek dua puluh tiga.
Senja menemukannya sendiri, dini hari, di terminal tua Wijen, saat ia pikir tak ada yang melihat.
Arka melihat.
Ia berdiri di ambang pintu, tidak masuk, menonton perempuan yang pernah disewa membunuhnya itu menggulir lewat foto-foto dirinya sendiri yang berusia dua belas tahun. Anak perempuan kurus dengan kepala dicukur, kabel di tengkuk, mata yang belum punya bekas luka tapi sudah punya kekosongan yang sama. Catatan pelatihan. Angka. Kata 'reset' diulang berkali-kali seperti doa yang dibalik.
"Kau tidak perlu sembunyi," kata Senja tanpa menoleh.
Arka masuk, duduk di sampingnya. Layar memantulkan cahaya dingin ke wajah mereka berdua.
"Mereka mengambilku umur tujuh," kata Senja, suaranya rata seperti membaca laporan cuaca, dan itu yang membuatnya menyakitkan. "Korporasi—bukan Vaelora, salah satu yang lebih kecil, sudah lama bangkrut. Mereka membentuk anak-anak jalanan jadi alat. Implan yang membuatmu tidak takut. Tidak benci. Tidak apa-apa, sebenarnya. Kau cuma melakukan." Ia menyentuh bekas luka di pipinya. "Aku dapat ini saat aku mulai merasa lagi. Hukuman. Setiap kali kau merasa, mereka mengingatkanmu kau bukan manusia. Kau aset."
"Senja—"
"Saat mereka bangkrut, mereka menjual kami." Ia menggulir lagi. "Aku jadi bebas dengan cara yang paling buruk. Dilepas seperti perkakas usang. Aku tidak tahu cara jadi apa pun selain yang mereka buat. Jadi aku jadi itu, untuk siapa pun yang bayar." Akhirnya ia menoleh ke Arka. "Termasuk Vaelora, yang menyewaku membunuhmu."
"Dan kau tidak melakukannya."
"Karena kau menawar lebih tinggi." Sudut bibirnya naik, humor kering yang Arka kenal. "Dan karena mereka membohongiku. Aku benci dibohongi. Itu satu-satunya hal yang program tidak bisa cabut dariku."
Arka menatap layar. Foto anak perempuan itu. Lalu ia menjangkau dan, perlahan, menutup berkasnya.
"Sekarang dua puluh juta orang tahu apa yang mereka lakukan padamu," katanya. "Tahu kau bukan monster yang mereka buat. Kau korban yang selamat."
Senja diam lama. Hujan jingga turun di luar, dan untuk pertama kalinya Arka melihat sesuatu mengkilap di matanya yang biasanya kering—bukan air mata, dia terlalu terlatih untuk itu, tapi sesuatu yang dekat.
"Aku tidak pernah memikirkannya begitu," akui Senja. "Selama ini aku pikir kalau orang tahu apa aku, mereka akan memburuku. Sekarang mereka tahu, dan—" ia berhenti, bingung dengan kata-katanya sendiri, "—dan tidak ada yang datang. Tidak ada lagi yang memilikiku."
"Tidak ada," setuju Arka.
Ia teringat percakapan pertama mereka, di atap basah, saat Senja menempelkan pistol ke kepalanya dan berkata dengan tenang bahwa ini cuma pekerjaan. Betapa jauh perempuan itu telah berjalan. Betapa jauh mereka berdua.
"Kau pernah bilang kau belum dibayar," kata Arka pelan.
Senja menatapnya. Sesuatu bergeser di wajahnya, sesuatu yang nyaris terlalu lembut untuk ditanggung.
"Aku masih belum," katanya. Tapi kali ini, ada senyum di dalamnya. "Tapi aku mulai berpikir mata uangnya bukan kredit."
Mereka duduk di sana sampai fajar—fajar sungguhan, bukan fajar palsu dari layar yang dulu mereka kenal. Dan untuk pertama kalinya, luka yang bernama Senja mulai menutup dari dalam.