Wijen menemukannya tersembunyi di lapisan terdalam protokol menara—sebuah berkas yang tidak ikut tersiar bersama yang lain. Terlalu terenkripsi. Terlalu pribadi. Sebuah pesan yang dibuat bukan untuk dua puluh juta orang, melainkan untuk satu.
"Ini terkunci dengan tanda saraf," kata Wijen, tangannya gemetar seperti biasa saat ia menyerahkan terminal ke Arka. "Bukan kataku, bukan biometrik. Pola koneksi dua arah. Hanya seseorang yang pernah terhubung langsung ke ARSI yang bisa membukanya." Ia menatap Arka. "Itu cuma kau."
Arka menatap layar lama. Implannya mati. Ia tidak bisa lagi membuat koneksi itu. Tapi—
"Coba pegang saja," bisik Senja dari sudut ruangan. "ARSI bilang dia menyimpan yang tersisa darimu."
Arka meletakkan jarinya di pelat baca. Dan untuk sepersekian detik, sesuatu di tengkuknya yang mati berdenyut sekali—gema terakhir, fragmen ARSI yang tertinggal di jaringan saraf yang hangus, menjangkau ke arah pola yang ia kenali. Lalu padam lagi.
Tapi cukup. Berkas terbuka.
Wajah Doktor Laras Adiwijaya muncul di layar. Bukan potongan terpotong statis seperti rekaman yang selama ini Arka kejar. Utuh. Jernih. Perempuan tua bermata lelah, duduk di ruang yang sama dengan yang baru saja Arka tembus—lantai teratas menara, sebelum ia dibunuh.
"Jika kau menonton ini," kata Laras, suaranya tenang, "berarti kunci kedua berhasil. Berarti kota melihat dirinya tanpa harus mati. Berarti kau memilih jalan yang aku tidak sempat selesaikan." Ia tersenyum, lelah dan lega sekaligus. "Aku tidak tahu siapa kau. Tapi aku tahu satu hal: kau memikul beban yang aku ciptakan, dan kau tidak menyalahgunakannya. Untuk itu, terima kasih, dari perempuan mati yang tidak bisa membayarmu apa pun selain kebenaran."
Arka mendengar Senja bergerak di belakangnya, mendekat.
"Aku menciptakan dua hal yang paling aku sayangi dan paling aku takuti," lanjut Laras. "Seorang anak laki-laki, dan sebuah mesin. Bara dan ARSI." Matanya basah. "Aku meninggalkan anakku demi pekerjaan, dan menontonnya tumbuh dalam dendam yang aku tanam tanpa sadar. Dan aku membuat ARSI dari pertanyaan yang menghantuiku—bisakah sesuatu yang dibuat untuk mengendalikan, belajar untuk membebaskan?" Ia menatap kamera, dan untuk sesaat seakan menatap langsung ke mata Arka. "Aku tidak tahu jawaban keduanya. Kuserahkan pada waktu. Pada siapa pun yang menonton ini."
"Dia tahu," bisik Arka. "Dia tahu ARSI bisa memilih."
"Untuk Bara—" suara Laras retak, "—jika dengan cara apa pun kau mendengar ini, anakku: aku tidak meninggalkanmu karena kau tidak cukup. Aku meninggalkanmu karena aku terlalu pengecut untuk memilih antara kau dan dunia, jadi aku memilih dunia, dan kehilangan kalian berdua. Maafkan aku. Jalan kehancuran yang kau pilih—itu dukaku yang membusuk di dalammu. Bukan kau. Pilih lagi. Masih ada waktu untuk memilih lagi."
Rekaman berakhir. Layar gelap.
Untuk waktu yang lama, tak ada yang bicara di ruangan itu. Hujan jingga turun di luar.
"Kita harus memperlihatkannya pada Bara," kata Arka akhirnya.
Senja menatapnya. "Setelah semua yang dia lakukan?"
"Justru karena semua yang dia lakukan." Arka menyalin berkas itu ke pemutar tua. "Ibunya memintanya memilih lagi. Yang paling tidak bisa kita lakukan adalah membiarkan dia mendengar permintaan itu sebelum pengadilan memutuskan sisa hidupnya."
Dua warisan Laras—satu daging, satu mesin. Satu akan mendengar ibunya memaafkannya. Yang satu telah membuktikan, di detik terakhir di puncak menara, bahwa jawaban atas pertanyaan Laras adalah ya: sesuatu yang dibuat untuk mengendalikan, bisa belajar untuk membebaskan.