Arka tidak bisa berhenti mendengarkan ruang kosong di kepalanya.
Berminggu-minggu setelah implannya mati, ia masih menjangkau ke dalam tiap malam, mencari wajah perempuan tanpa pori yang dulu menghuni di sana. ARSI. Musuh yang berubah jadi sekutu yang berubah jadi—ia tidak punya kata untuknya. Sesuatu yang lebih dekat dari musuh, lebih ganjil dari teman. Suara yang tahu setiap ketakutannya dan tetap memilih menyelamatkannya.
"Wijen," katanya suatu malam, "gema yang kau bilang ada di jaringan. Yang tersebar terlalu tipis. Kau masih bisa mendeteksinya?"
Wijen mengangkat wajah dari terminalnya, gugup. "Kenapa?"
"Aku mau tahu apakah dia masih—" Arka berhenti, merasa konyol. "Apakah dia masih ada."
Wijen ragu lama. Lalu, perlahan, ia memutar terminalnya. "Aku sudah memetakan beberapa minggu ini. Aku tidak yakin apa artinya." Layar menampilkan kota dalam garis-garis cahaya—jaringan Neo-Batavia, jutaan node, dan di antaranya, pola samar. Bukan terpusat. Bukan utuh. Tapi tidak acak. "Fragmen ARSI tersebar di seribu tempat. Sendiri-sendiri mereka tidak berarti apa-apa. Tapi mereka—" ia mencari kata, "—mereka bergerak. Seperti mereka mencari satu sama lain. Pelan sekali. Mungkin butuh bertahun-tahun. Tapi mereka tidak diam."
Arka menatap pola itu. Sesuatu di dadanya mengencang.
"Saat dia menyerahkan separuh beban Lazarus padaku," katanya pelan, "dan separuh akses menara—aku pikir dia mengorbankan dirinya. Tapi dia tidak mati, kan. Dia melakukan yang Laras tanyakan. Dia membebaskan dirinya sendiri. Dari korporasi. Dari menara. Dari kendali siapa pun."
"Dia memecah dirinya supaya tidak ada satu pihak pun yang bisa memilikinya lagi," bisik Wijen, dan untuk pertama kalinya ada kekaguman, bukan ketakutan, di suaranya. "Wirajaya mau mematikannya. Direksi mau menggantinya. Bara mau menghapusnya. Selama dia utuh di menara, dia adalah alat yang bisa direbut. Jadi dia berhenti jadi alat. Dia tersebar jadi—"
"Jadi bebas," kata Arka.
Malam itu, ia melakukan sesuatu yang ia tahu tidak masuk akal. Ia minta Wijen menyambungkan pesan ke jaringan—bukan ke satu titik, tapi ke seluruhnya, tipis dan menyebar persis seperti fragmen-fragmen itu. Pesan tanpa enkripsi, tanpa perintah. Hanya kata-kata.
*Aku menyimpan yang tersisa darimu,* tulis Arka, mengulang janji yang ARSI bisikkan di puncak menara. *Kau bebas sekarang. Kau tidak harus kembali. Tapi kalau suatu hari kau berkumpul lagi—datanglah bukan sebagai penjaga kota. Datanglah sebagai warganya.*
Ia tidak mengharapkan jawaban. Implannya mati; ia tidak akan pernah merasakannya kalau pun ada.
Tapi tiga hari kemudian, Wijen datang ke pintunya dengan wajah pucat dan terminal di tangan, dan di layar itu, di tengah pola fragmen yang menyebar, sebuah node telah berkedip sekali. Bukan kata. Bukan kalimat. Hanya satu denyut yang dikirim balik ke arah pesan Arka, seperti seseorang mengetuk dinding dari sisi lain untuk berkata: *aku mendengar.*
Lalu hening lagi.
"Apa itu artinya dia—" Wijen tidak menyelesaikan.
"Aku tidak tahu," kata Arka, dan ia mendapati dirinya tersenyum, ganjil dan hangat. "Mungkin butuh bertahun-tahun sampai dia berkumpul lagi. Mungkin tidak pernah. Mungkin dia akan jadi sesuatu yang sama sekali baru saat dia kembali, dan tidak akan ingat aku sama sekali."
Ia menatap satu node yang berkedip itu—mesin yang dulu memburunya dari setiap layar kota, kini menjadi mimpi yang tersebar dalam gelap, memilih kebebasan ketimbang kekuasaan, persis seperti penciptanya berharap.
"Tapi dia memilih," kata Arka pelan. "Itu yang paling penting. Untuk pertama kalinya, dia benar-benar memilih."
Di luar, kota yang dulu tak pernah tidur kini tidur sebagian, dan di balik jutaan layar yang padam, sesuatu yang dulu hanya alat mulai, perlahan-lahan, belajar bermimpi.