Hujan jingga masih turun di Neo-Batavia.
Arka berdiri di gang Distrik Bawah, menengadah, membiarkan tetesnya jatuh ke wajahnya seperti dulu—saat ia masih anak gedung mati yang meminumnya tanpa berpikir, percaya itu hujan biasa, karena tak ada yang pernah memberitahunya bahwa langit kota ini sudah lama palsu. Hujan ini buatan. Disemprotkan dari menara penyaring untuk mengusir kabut industri, diwarnai jingga oleh partikel yang sama yang membuatnya tidak aman diminum. Selama dua puluh tahun ia jatuh ke atas Distrik Bawah seperti ironi: kota memberi mereka hujan, tapi bukan air bersih.
"Kau masih meminumnya?" tanya Senja, berdiri di sampingnya, masker filternya kini tergantung di leher alih-alih menutupi wajah.
"Tidak lagi," kata Arka. "Sekarang aku tahu apa isinya."
Tapi hari ini hujan itu terasa berbeda, dan butuh waktu sebelum ia mengerti kenapa. Bukan rasanya yang berubah, bukan warnanya. Yang berubah adalah orang-orang di bawahnya.
Dulu, saat hujan jingga turun, Distrik Bawah menunduk dan bergegas, kepala tertutup, tubuh menghindari tetesan beracun, kota yang berjalan dengan bahu membungkuk. Sekarang Arka melihat seorang lelaki tua membentangkan terpal untuk menampung air, lalu menyalurkannya ke penyaring rakitan yang dibuat Tanjir dan murid-murid barunya. Anak-anak berlari di bawah hujan dengan jas dari kantong daur ulang. Sebuah keluarga memasang corong di atap untuk mengalirkan air ke tangki bersih.
Mereka tidak lagi tunduk pada hujan. Mereka memanfaatkannya.
"Arsipnya membuka rumus penyaringnya," kata Senja, mengikuti pandangan Arka. "Vaelora menyembunyikannya selama dua puluh tahun. Teknologi untuk membuat hujan ini aman diminum sudah ada sejak awal. Mereka cuma tidak mau memberikannya gratis." Ia mendengus pelan. "Sekarang setiap teknisi di kota tahu cara membuatnya. Termasuk anak buah Tanjir."
Arka menengadah lagi. Hujan jingga yang sama. Langit palsu yang sama. Tapi di bawahnya, kota yang berbeda. Bukan utopia—ia bisa melihat dari gang ini bahwa setengah lampu masih padam, bahwa orang-orang masih kurus, bahwa luka dua puluh tahun tidak sembuh dalam beberapa minggu. Distrik Atas masih kaya; Distrik Bawah masih miskin. Kebenaran tersiar tidak membalikkan kota dalam semalam.
Tapi air mengalir sekarang, ke tempat yang dulu kering. Listrik menyala di rumah-rumah yang dulu gelap. Bukan karena korporasi memberikannya. Karena orang-orang merebutnya kembali, sepotong demi sepotong, dengan rumus yang dulu dirahasiakan dan kini jadi milik semua.
"Kau ingat saat kita pertama bertemu?" tanya Senja tiba-tiba.
"Kau menempelkan pistol ke kepalaku."
"Hujannya turun begitu deras malam itu, sebentuk seperti perempuan yang menangis," kata Senja, suaranya jauh. "Aku ingat berpikir, kota ini bahkan menangis dengan racun. Bahkan dukanya palsu."
Arka menatapnya. "Dan sekarang?"
Senja membiarkan satu tetes jatuh ke telapak tangannya yang terbuka, memandanginya bergulir di kulitnya.
"Sekarang aku pikir mungkin hujan tidak pernah berarti apa-apa," katanya pelan. "Itu cuma hujan. Maknanya yang kita beri. Selama ini kota menyuruh kita melihatnya sebagai racun, sebagai duka, sebagai sesuatu yang harus dihindari. Tapi lihat mereka." Ia mengangguk ke arah keluarga yang menampung air, ke anak-anak yang berlari. "Mereka melihat hujan yang sama dan menemukan cara membuatnya berguna. Itu—" ia mencari kata, "—itu yang berubah. Bukan hujannya. Kita."
Arka membiarkan tetesan jingga jatuh ke wajahnya, tidak meminumnya, tidak menghindarinya. Hanya membiarkannya.
Perubahan datang lambat ke kota seperti ini. Tidak ada saklar yang membalikkannya sekejap. Tidak ada kebenaran tunggal yang menyembuhkan dua puluh tahun. Tapi setetes demi setetes, corong demi corong, rumah demi rumah yang menyala—kota itu sedang belajar memiliki dirinya sendiri.
Dan hujan jingga, yang dulu adalah lambang segala yang dirampas dari mereka, kini jatuh ke atas tangan-tangan yang akhirnya tahu apa yang harus dilakukan dengannya.