Sebenarnya tidak ada yang salah dari seorang Bai Harin Nuswantoro. Sebagian orang lain melihat dan setuju pastinya. Bahwa gadis itu cantik, ralat sangat cantik. Proporsi tubuhnya membuat banyak kaum hawa iri.
Pembawaan tenang dan kalem. Baik, murah senyum dan suka menolong. Keluarganya meski tidak kaya raya banget, tapi cukup berada. Keluarga menengah istilahnya. Keluarga terhormat juga. Terutama atas nama sang kakek. Haryo Nuswantoro.
Singkat cerita, dia gadis yang sempurna!
Cuma hukum alamnya mutlak, kesempurnaan tetap milik Tuhan. Dibalik semua yang mereka lihat. Dalam diri Harin justru sebaliknya. Hanya saja ia pandai membawa situasi.
Tidak mungkin juga keburukan keluarganya ia umbar atau bicarakan pada orang lain. Ia bukan gadis yang seperti itu pastinya. Disakiti sedemikian rupa, akan terima dengan lapang d**a. Mungkin dulu. Sekarang entah lah.
Tidak bisa bersabar lagi atau kesabarannya sudah habis enggak apa-apa kan? Ia juga pengen bahagia seperti yang orang-orang bilang. Bisa kan?
Setelah lolos dari maut yang mengintai nyawanya tadi. Kini Harin beserta Mira berada di sebuah mobil sedan yang melaju entah kemana. Padahal mereka harus mendapatkan perawatan intensif pasca kecelakaan. Tapi kok bisa berpindah dari ruang rawat inap ke mobil? Bahkan mereka belum sadarkan diri.
Harin dan Mira terpaksa dipindahkan secara diam-diam menggunakan mobil tak dikenal atas perintah atasan Joshua. Beberapa jam sebelumnya, Joshua yang panik langsung menghubungi adiknya, Jotami, untuk meminta bantuan darurat. Meski sempat diwarnai perdebatan sengit dan omelan Tami yang merasa dimanfaatkan, Joshua berhasil membujuk sang adik demi menjalankan misi penting ini.
“Udara di Bandung ternyata sejuk banget ya, Bang?” ucap seorang gadis berambut pendek, sembari membuka jendela mobil.
“Tutup jendelanya, Tami! Lo kan tahu ini mobil lagi pake AC!” protes Joshua kesal. Sebenarnya kalau boleh jujur ia malas harus melibatkan Jotami dalam kasus ini. Namun apa daya. Ia cukup kerepotan jika melakukannya sendiri. Alhasil menyeret sang adik itu untuk membantunya. Menyebalkan memang!
Gadis bernama lengkap Jotami Hermanto itu melirik penuh permusuhan kakaknya. “Ya tinggal lo matikan aja ACnya lah!! Gitu aja kok mesti diajarin sih!”
“Lo nggak lupa kan? Kita lagi bawa apa sekarang?” Joshua jelas tidak mau kalah, meskipun nanti hasilnya sia-sia.
“Ya elah ... woles aja napa, Bang? Mereka juga belum sadarkan diri kok.” lagi-lagi Tami menjawab dengan enteng, sambil melihat dua gadis di belakang mereka.
Joshua mendengus kecil. Berdebat dengan Tami itu percuma. Adiknya terlalu pintar buat kasih jawaban. Apa ini dinamakan ngeyel ya?
“Gue masih bingung sebenarnya. Kenapa tiba-tiba banget kita melakukan ini.” setelah mengucapkan itu, mata Tami memicing pada pria yang hanya berbeda tiga tahun saja dengannya.
“Lo mau nikahin mereka ngomong baik-baik lah, ke orang tuanya. Lo malah ajak kawin lari, melibatkan gue pula. Nggak boleh kaya gini, Bang. Lo punya adik cewek.”
“Maksud lo gimana dah?! lo pikir gue mau nikahin mereka berdua sekaligus gitu?” tanya Joshua, melirik sebentar adiknya. Lalu kembali fokus dengan jalanan di depan.
“Ya terus mau apa lagi kalau bukan karena itu? Aneh aja bagi gue mah.”
Joshua geleng-geleng kepala. “Gendeng! Ya kali gue ngelakuin hal bodoh kaya gitu. Nggak lah! Ngaco lo! Lagian gue masih sayang kaki dan mata gue. Kalau sampai kaya gitu, gue takut mata dicungkil sama tukang kebun rumah pak bos. Gue masih sayang nyawa ya....”
“Gue masih nggak percaya!”
“Bodoh amat, Tami!”
Tami menaikan sudut bibirnya. Enggak ada seorangpun yang bisa mengalahkannya dong! Urusan berdebat. Ia jago!
“Ngomong-ngomong soal Bandung. Gue jadi punya pikiran pengen pensiun dini terus menetap di sini deh, Bang! Kayaknya enak banget tinggal di Bandung.”
“Pensiun dini? Uang lo emang udah cukup buat pensiun dini?” tanya Joshua, seraya mencibir. Lebih tepatnya sih meremehkan.
“Lo tanya uang gue? Seriously?” Tami tidak percaya dan balas cibiran kakaknya. “Gue bahkan yakin, lebih banyak uang gue daripada punya lo. Sok-sokan tanya uang gue. Uang gue banyak tahu! Emang lo? Berapa juta coba lo habis sebulan buat beli figure doang? Cuma patung lho itu?”
Joshua mendengus mendengar jawaban adiknya. “Itu self reward setelah kerja keras bagai kuda, Jotami! Terus wajar aja uang lo lebih banyak dari gue. Orang lo pelitnya minta ampun kok. Jangankan berbagi ke orang lain, buat makan sendiri aja lebih suka junk food. Gimana nggak banyak duit coba?”
“Lo cuma tahunya gue makan junk food doang, Bang? Padahal gue sering juga makan mi instan lho....” Tami tidak merasa tersinggung sama sekali, justru menambahkan informasi untuk Joshua biar tahu. Kurang baik apa lagi coba?
Satu kosong buat Joshua.
“Terus perkara gue ke orang lain gimana, cukup gue dan Tuhan aja yang tahu. Manusia kek lo ini nggak perlu tahu. Nggak ada untungnya juga,” lanjut Tami dengan nada sinis. Suruh siapa kakaknya itu menyebalkan.
Skor dua kosong dimenangkan olih Tami.
Joshua melirik penuh permusuhan adiknya itu. Bukan Jotami namanya kalau tidak bisa membuatnya naik darah.
Tami sangking penasaran dengan dua gadis yang dibawa Joshua, sesekali menoleh ke belakang. “Sebenarnya gue penasaran sama cewek dibelakang, Bang. Gue kaya pernah lihat tapi di mana ya?”
“Siapa yang lo maksud?” tanya Joshua sedikit tertarik. Tami itu kaya bunglon baginya. Jadi kalau dia bilang tahu, tidak mengherankan lagi. Kali saja memang adiknya tahu kan?
“Yang tepat di belakang gue. Kalau sampingnya gue nggak tahu.” Yang dimaksud Tami adalah Harin.
“Lo pernah papasan di suatu tempat?”
“I don't think so ... tapi kaya nggak asing buat gue sih,” jawab Tami, lalu mengedikan bahunya.
“Kalau lo pecinta seni, lo pasti paham dia siapa. Dia pelukis. Harin Nuswantoro. Karyanya di dalam negeri tidak terlalu populer banget. Hanya segelintir orang yang tahu. Tapi dia di luar negeri lumayan terkenal,” papar Joshua menjelaskan pada adiknya. Setelah ia telusuri. Harin ini ternyata bukan gadis sembarangan juga. Pelukis alias seniman.
“Wait ... Harin Nuswantoro? Oh gue tahu sekarang! Dia inspirasinya Rehan! Dia bercita-cita jadi pelukis kaya Harin Nuswantoro!” Tami terkekeh pelan, setelah ingat. Ya ampun...
Tanpa ia tahu suasana berubah mencekam. Joshua menatap tajam adiknya. “Siapa Rehan?”
Tami yang sadar langsung mengatupkan bibirnya. Mampus dia keceplosan. Joshua memang tidak tahu Rehan.
“Rehan....” Mata Tami berputar-putar mencari jawaban. Meskipun percuma saja. Insting Joshua bahkan jauh lebih tajam.
“Teman gue. Dan dia seorang cewek,” lanjut Tami cuek, terus membuang wajahnya ke samping. Lihat pemandangan lewat jendela.
“Gue baru tahu ada cewek yang nama Rehan. Lo mau membodohi siapa, hah? Jawab! Atau gue cari tahu sendiri dia siapa?” ancam Joshua. Ia tidak main-main pastinya.
“Astaga ... nggak perlu cari tahu! Lagian itu bukan urusan lo, Joshua!!!” teriak Tami.
Tanpa sadar membuat salah satu orang di belakang mereka sadar.
“Kalian siapa?”
Sepertinya, kaget mereka malah menular. Karena Tami dan Joshua ikut terkejut. Kemudian mereka jadi saling pandang. Ini harus bagaimana?
Sementara di tempat berbeda....
“Bagiamana mereka bisa hilang, hah?!! Kalian kerjanya gimana?!!!” teriak Seli, pada beberapa orang yang menunduk, tidak berani menatap wajah bosnya. Bukan takut pada wanita itu. Walau bagaimanapun, Seli yang bayar mereka. Wajar saja mereka tidak akan melawan Seli.
“Maaf, Nyonya. Kami sudah bekerja sesuai arahan. Kami tidak bisa bertindak sembarangan, karena itu area umum,” bela pelaku. Memang benar. Saat sudah berada di ruangan Harin dan Mira. Mereka mendapati targetnya sudah tidak ada.
Seli mendengus kesal. Lagi-lagi usahanya menyingkirkan Harin gagal. Kali ini dia tidak tahu keberadaan anaknya ada di dimana.
“Sudah lah, Ma. Ngapain sih repot-repot cari Harin. Kalau dia pergi sendiri berarti bagus dong buat kita. Nggak usah capek-capek menyingkirkan dia,” ucap seseorang yang baru saja datang di mana tempat ibunya berada.
Seli cukup shock dengan kedatangan Jenna. Anak bungsunya. “Jenna, kamu tahu?”
***