Belasan jam sebelumnya...
Bagi sebagian orang, pekerjaan yang paling menjengkelkan, mengesalkan dan menyebalkan adalah menunggu. Entah menunggu waktu atau seseorang adalah hal tercapek. Terkadang kalau kita berharap cepat-cepat datang waktu atau orangnya, malah tidak sesuai ekspektasi.
Kesabaran kita benar-benar diuji saat di posisi yang namanya menunggu. Tak terkecuali Joshua. Setelah ibu dari bosnya pulang ke rumah. Ia ditugaskan untuk menjaga Harin dan Mira. Padahal ia tidak kenal sama sekali dengan kedua orang itu. Namun mau bagimana lagi. Bos sudah bertitah. Mau tidak mau, harus dilaksanakan. Meskipun ya ... menjengkelkan.
Sembari membunuh waktu, Joshua sesekali bermain ponsel. Tepatnya game. Ia gunakan mumpung bos utamanya lagi tidak ada di Indonesia. Istilahnya, tidak terlalu sibuk dengan pekerjaan yang diperintahkan sang bos.
Joshua sesekali melirik ke dua gadis itu. Terutama Harin. Kemudian ia bergumam, “by the way ... Nona Harin cantik banget ya? Walaupun mukanya pucat dan kondisinya lagi seperti itu, tapi tetap aja. Masih kelihatan cantik dia.”
Karena penasaran, Joshua mencari tahu sosok Bai Harin Nuswantoro lewat media sosial. Dan ia ketemu akun dengan nama @BHarinN96. Lagi-lagi, Joshua tersenyum kecil. Semakin ke bawah ia scroll, jadi tahu. Ternyata Harin ini seorang pelukis.
Lama bermain ponsel, membuat matanya kantuk. Ia menggerak-gerakkan kepalanya ke kanan kiri, lalu berdiri dan memasukan ponselnya ke saku celana. Ia butuh kafein buat tetap terjaga.
Tidak terasa hari semakin sore. Sembari membawa segelas kopi kembali ke ruangan Harin, Joshua keheranan. Kenapa belum ada tanda-tanda keluarga Harin yang datang. Maksudnya. Ini tas ia bawa kemana-mana. Kalau keluarganya menghubungi Harin, otomatis ponselnya berdering. Ini nihil. Sama sekali tidak ada.
Langkah Joshua menuju ruangan Harin berhenti seketika, ketika melihat wanita paruh baya yang kelihatan menyimpan amarah. Kemudian cukup terkejut karena masuk ke ruangan tempat Harin dirawat.
Saat ia hendak memutar kenop pintu, gerakannya terhenti. Otaknya cepat bertindak, langsung merekam suara wanita yang sedang marah-marah ke Harin. Emosinya mendadak campur aduk. Ia tidak menyangka ada ibu yang begitu kejam pada anak gadisnya.
Alih-alih masuk ke ruangan, setidaknya memberi pelajaran, Joshua malah mencari tempat sembunyi saat suara langkah kaki menuju keluar.
Joshua menatap punggung ibu Harin yang berjalan menjauh, mungkin pulang ke rumah dengan pandangan getir.
Kemudian ia mengambil ponsel, dan mendial nomor seseorang.
“Nyonya, saya ingin melaporkan sesuatu. Saya kirim rekaman ke Anda,” ucap Joshua setelah teleponnya tersambung pada ibu bos.
Ratih Handoko...
Beliau sudah ada di rumah beberapa jam yang lalu. Dan cukup terkejut dengan apa yang dikirimkan Joshua padanya. Beliau berharap itu tidak betul, tapi dengan kejadian Harin kecelakaan hari ini jadi percaya.
Setelah terdiam beberapa menit. Beliau balik menelpon Joshua. “Josh, amankan Harin dan Mira. Bawa mereka pergi sebelum anak buah mamanya bertindak.”
‘Tapi, Nyonya. Ini rumah sakit, area umum. Saya agak ngeri kalau harus berbuat sesuatu,’ ungkap Joshua di seberang telepon.
“Kamu tenang saja. Bawa Tami bersamamu, dia bisa diandalkan. Saya juga akan bicara pada Cakra,” jawab Ratih tenang. Suatu keberuntungan buat mereka karena Harin dibawa dan dirawat di Rumah Sakit milik salah satu kerabatnya.
Ratih beralih menelpon Cakra, setelah selesai memberikan instruksi pada Joshua yang akan dibantu Tami.
Tidak sulit menelpon Cakra, karena mereka saling menghormati dan menghargai. Ratih menjelaskan kenapa harus melakukan itu.
Harin ini titipan atau lebih tepatnya amanah dari Haryo padanya. Sebelum beliau meninggal alm. Haryo berbicara tentang Harin. Sayangnya saat alm. Haryo menghembuskan napas terakhir, beliau tidak hadir karena mertuanya yang tinggal di New Zealand juga meninggal. Tidak mungkin beliau memilih datang ke pemakaman orang lain kan?
Ratih menjelaskan sedikit pada Cakra siapa Harin. Terdengar helaan napas panjang dari seberang sana. Ternyata Cakra merasakan hal yang sama. Yaitu kasihan ke Harin. Alhasil ... tanpa bertanya apapun lagi, Cakra mengiyakan permintaan Ratih. Toh ini juga termasuk menyelamatkan pasien. Tanggung jawabnya.
‘Mbak tenang saja. Masalah rumah sakit biar saya yang urus. Saya akan arahkan dua suster juga untuk membantu Joshua dan Tami. Oh iya, Marissa kan ada di Bandung, dia bertugas di sana. Saya akan bilang padanya agar merawat Harin dan temannya,’ kata Cakra di sambungan telepon. Marissa adalah putri pertamanya.
“Terima kasih, Cakra. Tapi saya boleh minta Rissa ke villa saja? Biar Harin dan Mira dirawat di villa, jangan di rumah sakit. Takutnya anak buah mama Harin menemukan mereka. Saya nggak mau ambil resiko. Karena membawa Harin pergi tanpa izin kedua orang tuanya jelas salah besar,” papar Ratih.
‘Kalau itu maumu Mbak tidak apa-apa. Toh demi kebaikan Harin. Semoga saja Harin baik-baik saja setelah ini. Kasihan sekali dia.’
“Saya sangat berharap seperti itu, Cakra. Sekali lagi terima kasih, Cakra.”
‘Sama-sama Mbakyu.’
Ratih mematikan ponselnya, lalu memanggil kepala asisten rumah tangga keluarga mereka. Mbok Jum. Beliau meminta Mbok Jum agar ikut ke Bandung. Iya Ratih akan pergi ke Bandung juga. Pastinya mobil yang berbeda. Maksudnya tidak mungkin semobil dengan rombongan Joshua. Karena beliau sendiri tidak tenang kalau harus menunggu kabar dari Joshua atau pun Tami. Jadi lebih baik memang ikut pergi.
Ratih akan meminta Mbok Jum tinggal di Bandung sementara, untuk merawat Harin dan Mira di masa pemulihan. Tidak mungkin Joshua dan Tami, karena kakak beradik itu tangan kanan anak semata wayangnya.
Posisi sekarang...
Mira tersadar setelah mendengar teriakan Tami. Ia langsung panik dan gemeteran. Namun setelah mendengar penjelasan dari Joshua ia pun mendadak terdiam.
Tami melihat Mira dari kaca spion. Terlihat sekali wajah gadis yang diperkirakan umurnya lebih muda darinya terpukul. Tepatnya setelah mendengar rekaman yang dinyalakan Joshua tadi. Mungkin antara percaya dan tidak percaya.
Jadi ingat saat Joshua memberikan alasan membawa Harin pergi. Tadinya ia juga tidak percaya. Mana mungkin seorang ibu tega pada anaknya sendiri. Respon Joshua malah terkekeh.
Kakaknya bilang, faktanya di luar sana banyak ibu yang tega membunuh darah dagingnya sendiri. So ... kenapa mesti heran?
Lagipula kata Joshua, tidak butuh ia percaya tentang rekaman itu. Sebab ia tidak pernah mengenal dan mendengar suara Seli. Wajar saja. Tapi Harin atau Mira pasti mengenal suara siapa yang ada di rekaman itu.
“Saya tahu Nyonya Seli tidak sayang pada Nona Harin. Tapi saya tidak menyangka kalau ternyata dia sejahat itu pada anaknya. Padahal Nona Harin orangnya sangat baik,” ucap Mira dengan nada sedih. Di sampingnya ada Harin yang masih tidak sadarkan diri. Beberapa luka di tubuh sang nona membuatnya sesak napas di d**a.
Josh yang fokus menyetir mobil, dan Tami sedang asyik main ponselnya saling lirik. Ikut trenyuh mendengar ucapan Mira. Bahkan Josh tidak membahas lagi siapa Rehan yang diributkan dengan adiknya tadi.
“Kalian pasti sering mengalami masa-masa sulit selama ini?” tanya Tami penuh prihatin.
“Bukan saya, Kak. Tapi Nona Harin,” ralat Mira.
“Iya iya maksudku nonamu itu.”
Kalau tidak sedang suasana seperti ini, Joshua ingin sekali tertawa mendengar jawaban Mira. Adiknya yang biasa melawan, pantang menyerah sebelum menang bahkan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
“Sekarang tenang saja. Kalian akan aman bersama kami,” ucap Josh menenangkan.
“Kalian beneran mau melindungi kami kan? Bukan sindikat penjualan organ tubuh?” Mira sempat bertanya itu sekali saat panik.
“Kan kami sudah bilang bukan!” tukas Tami. Dalam hati kesal, tapi mau bagaimana lagi. Kalau bukan karena Mira itu polos, ia ingin sekali menyumpal mulutnya dengan kaus kaki bau! Ini bocah enggak percayaan soalnya.
“Terus kalian siapa?”
“Sabar ya, Mira. Kalau sudah sampai di villa nanti kamu juga tahu.” suara Joshua menjelaskan dengan tenang. “Bentar lagi sampai kok.”
“Baiklah.” Mau tidak mau Mira percaya. Ia melirik pada nonanya. ‘Non, semoga mereka benar-benar orang baik ya,’ ucapnya dalam hati.
Setengah jam kemudian....
Mobil yang mereka tumpangi sampai di pelataran villa yang baginya sangat mewah. Mira memajukan tubuhnya, ingin melihat siapa yang berdiri di situ. Ada beberapa orang dan satu wanita berpakaian dokter. Namun fokusnya malah tertuju pada satu orang.
Mira terkejut setelah melihat semakin jelas. “Lho! Ibu itu kan?”
***