Harin dipindahkan ke kamar utama villa. Sengaja di taruh di situ agar merasa nyaman. Sekarang kenyamanan Harin yang utama. Sebab gadis itu dalam masa pemulihan. Sayangnya Harin sampai saat ini belum sadar.
Keadaan Mira sendiri tidak separah Harin. Karena Harin menabrak pohon di bagian posisinya. Alias menyamping. Jadi yang terluka parah jelas Harin. Mira hanya lecet-lecet sedikit. Beberapa hari juga sudah baikan.
Beruntung Harin tidak ada tanda-tanda indikasi amnesia. Cuma karena terlalu shock jadi agak lama sadarnya.
“Riss, gimana keadaannya?” tanya Ratih pada Marissa setelah memeriksa Harin. Mereka sedang berada di kamar yang akan ditempati Harin untuk sementara.
“Untungnya Harin tidak apa-apa, Tante. Mungkin terlalu shock jadi belum sadar. Tidak ada amnesia atau apapun itu. Rissa rasa Harin gadis yang kuat. Tante jangan khawatir. Rissa yakin, tidak lama lagi juga Harin akan sadar dan siuman dari luka pasca kecelakaan,” papar Marissa, sembari memasukkan stetoskop ke saku jas dokternya.
Marissa Chava Digan, yang biasa dipanggil Rissa dijelaskan siapa Harin setelah sampai di villa atas perintah sang papa. Tadinya ia berpikir, Harin calon menantu Ratih. Tapi kalau dugaannya iya, tidak mungkin Ratih membawa Harin ke Bandung, padahal rumah sakit di Jakarta juga bagus-bagus. Tinggal pilih saja yang mana, asal ada duitnya.
“Syukurlah kalau begitu, Riss. Tante khawatir banget sama dia.” Ratih terus memandangi wajah pucat gadis titipan alm. Haryo. Cucunya.
“Ini Tante mau jadikan dia menantu ya?” tanya Rissa dengan cengiran. Ia mencoba bercanda mencairkan suasana. Biar tidak tegang-tegang amat.
Ratih hanya tersenyum menanggapi candaan gadis itu. Beliau tidak mengiyakan atau mengiyakan. Karena beliau sendiri tidak tahu. Harin sudah punya kekasih apa belum. Dan sebaliknya. Sang putra takutnya sudah memiliki kekasih hanya saja belum dikenalkan padanya.
Cuma kalau sudah berbicara takdir mereka malah berjodoh. Siapa yang tahu bukan? Semisal tidak berjodoh, beliau akan menjadikan Harin putrinya. Toh beliau tidak memiliki anak lagi selain putranya.
“Kalau Tante nggak mau, biar jadi adik iparku saja lah! Aku jodohin ke Matteo.” Rissa tertawa setelah mengatakan itu. Begitu pula Ratih ikut tertawa. Lalu geleng-geleng kepala.
Mira mendekat ke arah mereka. “Ibu ... berkali-kali saya mengucapkan terima kasih telah menyelamatkan kami.” matanya bahkan berkaca-kaca.
Ratih tersenyum, mengambil tangan Mira menepuk-nepuk pelan. “Sama-sama. Terima kasih juga telah menjadi teman bagi Harin.”
Mira menganggukkan kepalanya berulang kali, lalu mengusap air mata yang jatuh ke pipinya. Sungguh Tuhan sangat baik pada sang nona dan dirinya. Di saat orang terdekat berusaha membuat mereka celaka, ada orang lain yang malah melindungi mereka. Padahal tidak ada hubungan darah.
Tidak lama kemudian Tami masuk. “Nyonya, Tuan Muda mengabarkan kalau urusan di sana sudah selesai dan sore nanti akan terbang pulang ke Jakarta.”
Ratih menarik napas panjang. Beliau ingin bertatap dan kenalan dengan Harin langsung. Sayang sekali belum bisa terwujud sekarang. Sang suami dan putra tunggalnya pulang hari ini juga. Tidak mungkin beliau malah memilih tinggal di Bandung menemani Harin.
“Sayang sekali saya harus pulang ke Jakarta, Mira,” keluh Ratih raut wajahnya sedikit kecewa. “Tapi tenang saja ada Mbok Jum di sini menemani kalian, Mira. Dan dokter Rissa juga. Tidak apa-apa ya?”
“Ya Allah, Bu. Tidak apa-apa. Ibu baik sekali. Semoga kebaikan Ibu dibalas berlipat-lipat sama Tuhan,” ucap Mira tulus.
Ratih dan Rissa sama-sama mengucap kata amin. Begitu pula Tami, meskipun dalam hati.
Alhasil ... dengan berat hati Ratih meninggalkan villa, dan bersiap pulang ke Jakarta. Sayang sekali. Cuma mau bagaimana lagi. Sang suami dan putra tunggalnya juga penting. Apalagi beberapa tidak bertemu mereka. Lain waktu saja beliau cari kesempatan agar bisa mengobrol dengan Harin langsung.
Di tempat berbeda.
Sebelumnya, Jenna. Bai Jenna Nuswantoro sedang duduk di sofa tengah rumah mewah mereka yang berada di kawasan cukup elit, kota Jakarta. Tangannya memegang ponsel karena sedang berkirim pesan dengan salah satu temannya. Mungkin senior di tempat kerjanya. Kebetulan gadis berambut pendek itu berprofesi sebagai model.
Fokus Jenna teralihkan melihat sang mama yang buru-buru pergi ingin meninggalkan rumah. Bahkan, dirinya ada di situ mungkin mamanya tidak sadar. Penasaran apa yang terjadi. Ia bangkit dari duduknya lalu mengambil tas yang sudah berada di samping. Rencananya ia memang ada pertemuan dengan temannya itu.
Jenna sampai di garasi rumah mewah mereka, ternyata sang mama masih ada di situ. Hendak membuka pintu mobil.
“Mama!” panggil Jenna, membuat sang mama sedikit terkejut. Jenna yang melihat itu cukup mencurigakan.
“Kenapa, Sayang? Oh iya, kamu mau pergi kemana?” tanya Seli berusaha keras agar nada bicaranya tidak gugup. Semoga saja putri kesayangannya tidak menyadari.
“Oh, aku ada janji sama Rea dan model yang lain sih, Ma,” jawab Jenna. Sebenarnya yang ia katakan tidak bohong kok. Memang sudah ada acara. Hanya saja jam acaranya bukan sekarang. Lagipula, ya kali ia ada perkumpulan berpakaian seperti ini. Tidak mungkin.
Setidaknya ia harus berpakaian pantas. Ya ... seperti pesta pada umumnya lah. Lagian kalau pesta sudah pasti ada dress kodenya.
“Mama mau kemana?” tanya Jenna. Yang pasti ia tahu, mamanya tidak mungkin jujur. Meskipun ia mengharapkan sekali mamanya jujur. Padanya.
“Oh, Mama ada urusan penting. Mama pergi dulu. Kamu jangan kemalaman pulangnya, Sayang,” ucap Seli, kemudian ia masuk ke dalam mobil.
Sementara Jenna menganggukkan kepalanya, dan senyum kecil menghiasi bibirnya yang dipoles gincu berwarna nude.
Mobil Seli pergi, Jenna bergegas mengikuti sang mama. Pastinya dengan mobil yang berbeda. Kening Jenna berkerut saat mendapati mobil mamanya masuk di kawasan kumuh. Berdoa mobil itu bukan yang dikendarai sang mama. Namun kenyataan, Jenna hapal sekali nomor plat mobilnya.
Jenna menghentikan mobilnya agak jauh dari mobil sang mama. Ia takut ketahuan meskipun yakin seratus persen mamanya tidak mungkin memarahinya.
Ia sedikit berlari-lari, tapi tetap waspada agar sang mama tidak menyadari bahwa ia mengikuti dirinya. Sebagai anak tentu saja ia khawatir dengan sang mama.
Kemudian sedikit terkejut melihat sang mama bersama pria kekar mungkin para preman daerah sini. Tapi buat apa mamanya berurusan sama mereka?
Jenna lebih terkejut lagi mendengar, bahwa Harin kakaknya dirawat di rumah sakit cuma Sekarang tidak tahu ada di mana? Ia bahkan tidak tahu Harin mengalami kecelakaan. Apa ada yang lebih mengejutkan dari ini?
Mendengar sang mama marah-marah, Jenna tersenyum tipis. Ia bisa menarik kesimpulan, kalau sang mama lah yang membuat rencana itu. Kemudian ia membuka pintu ruangan. “Sudah lah, Ma. Ngapain sih repot-repot cari Harin? Kalau dia pergi sendiri berarti bagus dong buat kita. Nggak usah capek-capek menyingkirkan dia.”
“Jenna, kamu tahu?”
Melihat keterkejutan Seli, Jenna sudah menebaknya. Ia mengambil duduk di sofa yang ada di situ, terus matanya memindai ke beberapa orang yang berdiri tepat di depannya. Astaga ... kenapa pula mamanya mencari orang seperti mereka? Jenna tersenyum manis membuat mereka salah tingkah. Kapan lagi melihat seorang Jenna Nuswantoro bukan?
“Tuliskan nomor rekening kalian, dan kasih ke saya,” kata Jenna. Membuat Seli lagi-lagi terkejut. Untuk apa? Anaknya itu bahkan tidak menjawab pertanyaannya tadi.
“Jenna!” Seli bolak-balik melihat Jenna dan beberapa orang suruhannya. Mereka juga saling pandang. Tidak mengerti kenapa tiba-tiba minta nomor rekening.
“Cepat! Saya tidak punya banyak waktu!” ucap Jenna dengan nada perintah.
Mereka sadar Jenna tidak main-main, dan tidak suka mengulur waktu, akhirnya salah satu orang menuliskan nomor rekening bank.
Jenna mengambil kertas yang di letakkan meja. Ia menarik napas karena mejanya banyak debu. Bukan hanya meja. Ruangan itu juga kotor dan kumuh.
Mengabaikan sang mama yang sedang menatapnya, ia menuliskan nominal cukup besar. “Saya sudah kirim lima puluh juta untuk kalian. Terserah kalian mau bagaimana. Anggap saja itu uang tutup mulut, dan kalau bisa kalian jangan sampai menampakkan diri di area sini. Paham kan maksud saya?”
Ini adalah definisi buah jatuh sepohon-pohonnya. Bukan membenarkan tindakan salah sang mama. Justru Jenna menutup mata. Ia tidak peduli apapun itu. Toh ia tidak pernah suka pada kakaknya.
Meskipun terkejut dengan jumlah uang yang dikirimkan Jenna, tapi mereka tetap mengangguk dan mengiyakan permintaan itu. Lagipula kalau mereka mengakui kejahatan itu sama saja cari mati.
Jenna bangun dari duduknya. “Oh ya, urusan kalian dan mama saya selesai sampai di sini. Kalau kalian mau aman, ya harus pergi secepatnya.”
“Baik Nona kami mengerti maksud Anda.”
“Kita pulang, Ma!” ajak Jenna mengapit lengan mamanya. Tidak peduli apapun reaksi mamanya sekarang.
“Jenna! Kamu belum jawab pertanyaan Mama?!” tanya Seli. Posisi mereka sudah ada di mobil. Jenna duduk di kemudi. Bersiap menyetir. Sementara mobil Seli menyuruh supir mereka mengambilnya.
“Kita sama-sama membenci Harin, tapi mama jangan bertindak gegabah juga. Kita bisa memikirkan cara lain tanpa takut diketahui orang. Dengan mama merencanakan sesuatu di rumah sakit sama saja cari masalah lain,” tutur Jenna santai. Seakan-akan perbuatan mamanya itu sepele.
“Mama melakukan itu di rumah sakit karena orang bakalan mengira Harin tidak selamat setelah kecelakaan, Sayang,” balas Seli, malah membuat Jenna terkekeh geli.
“Pihak rumah sakit jauh lebih pintar, Ma. Mereka bakalan melakukan sesuatu, kalau ada indikasi mencurigakan dari pasiennya.”
Seli mengatupkan bibirnya. Kebencian terhadap Harin dan ingin melenyapkan anak itu membuat akal pikirannya buntu. Dalam benaknya, yang penting Harin mati dan tidak ada di dunia ini. Tidak peduli apapun caranya.
“Sudah Mama tenang saja. Lagipula dia malah pergi sendiri kan? Bagus buat kita.”
“Mama takut saja dia mengadukan ini pada papamu,” keluh Seli. Sebenarnya yang ia takutkan Harin muncul dan memberi tahukan pada sang suami mereka.
Kening Jenna mendadak berkerut. “Kenapa mesti takut? Bukankah selama ini papa lebih percaya omongan Mama daripada Harin? Oh ya! Papa sudah tahu Harin kecelakaan, Ma?”
“Be—”
Belum juga menjawab pertanyaan anaknya, ponsel Seli berdering nyaring. Setelah melihat layar, ternyata sang suami tercinta yang menelpon.
“Papamu, Jenna!” Seli langsung panik.
***