Suara kicauan burung-burung yang lumayan merdu di sekitar villa, membuat mata Harin perlahan-lahan terbuka. Kepalanya memang masih sakit dan pusing, tapi iya tetap ingin membuka matanya. Sudah terlalu lama ia tidak sadarkan diri bukan?
Gadis itu memindai sekitar ruangan. Rasanya asing sekali. Terakhir kali posisinya adalah kecelakaan, menabrak pohon setelah ia pulang kerja bersama Mira. Ngomong-ngomong soal Mira, asisten kesayangannya itu dimana?
“Mira,” panggil Harin dengan suara lirih. Ia ingin tahu keadaan Mira, dan bertanya pasal tempat ini. Ia tahu rumah sakit bukan begini bentuknya. Kalau sekelas VVIP, kayanya tetap bukan ruangan rumah sakit.
Ia melihat tangannya, masih ada infusan. Kok aneh ya? Bukan rumah sakit, tapi keadaannya masih diinfus.
“Non! Ya Allah, Non. Alhamdulillah akhirnya sadar juga.” Mira membuka pintu kamar langsung terkejut luar biasa. Lebih tepatnya karena senang dan lega Harin sudah sadar. Ia berjalan menuju sang nona tercinta. Meskipun kakinya masih sakit, dan jalannya sedikit pincang. Tak apa! Harin sadar suatu berkah untuknya.
Harin merasa bersalah melihat keadaan Mira sekarang, padahal dirinya juga tidak kalah parah. Matanya bahkan memanas. Mira meskipun jalannya terpincang-pincang, senyumnya tetap lebar. Tulus terhadapnya. Dalam hati ia bersyukur, sangat-sangat bersyukur mereka masih bisa selamat.
“Non, Alhamdulillah Nona sudah sadar.” Mira duduk di kursi yang sudah ada di situ, tepat ranjang Harin berbaring. Senyumnya belum luntur, padahal Harin menatapnya kasihan.
“Maaf, Mira. Kamu harus mengalami ini,” kata Harin dengan suara parau dan lirih.
“Saya tidak apa-apa, Non. Harusnya saya yang minta maaf, belum bisa melindungi Nona. Tapi Alhamdulillah kita masih selamat bukan?” Mira terkekeh kecil setelah mengatakan itu. Seakan-akan yang terjadi dengan mereka tidak masalah asalkan masih bisa selamat.
“Kamu ini!” Harin ikut tersenyum. Salah satu yang harus ia syukuri ada Mira di sampingnya. “Ponselku mana, Mir?” tanya Harin.
“Sebentar saya ambil, Nona. Baterainya habis, baru kemarin saya charger. Ponsel saya juga kehabisan baterai. Ternyata ada beberapa panggilan masuk dari Niko.” Mira bergerak mengambil ponsel milik Harin yang berada di atas nakas.
Harin sempat meringis melihat Mira berjalan tertatih-tatih. Kemudian menghela napas panjang karena galeri pasti kacau tidak ada dirinya. Apalagi Niko. Dia salah satu orangnya. Cowok itu pasti kepanikan dan kelimpungan. Ia tidak mengharapkan keluarga telepon. Apalagi mamanya. Tidak mungkin.
“Ini, Non.” Mira memberikan dua ponsel pada Harin.
“Terima kasih, Mira,” ucap Harin tulus, dan tersenyum meskipun bibirnya masih pucat.
“Sama-sama, Nona. Kalau begitu saya keluar dulu. Mau panggil dokter Rissa dan menyiapkan makanan nona,” pamit Mira.
Kening Harin berkerut saat Mira menyebutkan nama dokter. Terlihat seperti sudah kenal dan akrab. Tapi ia belum bisa memikirkan itu karena harus menelpon Niko terlebih dahulu.
Sepeninggal Mira keluar dari kamar, Harin mendial nomor Niko, dan langsung dijawab oleh yang bersangkutan.
“Niko?” panggil Harin. Di sana Niko sedikit memekik karena terlalu khawatir sementara bos s***h kakak angkat baru menelpon dirinya.
Harin terkekeh mendengar omelan Niko. Padahal Niko ini cukup pendiam. Hanya dirinya yang bisa membuat sikap seorang Niko Abdilah berubah seratus delapan puluh derajat.
Niko mengumpat kesal setelah apa yang terjadi pada dirinya dan Mira. Ia meminta share lokasinya sekarang. Karena Harin tidak tahu dimana sekarang dan lupa bertanya pada Mira tadi.
Harin menolak Niko datang ke tempatnya sekarang. Ia menyuruh pemuda berumur 28 tahun itu untuk fokus menghandle urusan galeri saja. Ia juga meminta Niko agar siapa yang datang mencarinya tidak diberitahu keadaan dan dimana ia sekarang. Terutama keluarganya meskipun tidak mungkin.
Karena apa? Kalau kedua orang tua dan adiknya khawatir pasti ada panggilan telepon yang masuk. Ini tidak ada sama sekali. Entah kenapa dalam benaknya, dalang yang membuat mobilnya kecelakaan ya orang terdekatnya.
‘Baik, Mbak. Aku mengerti sekali maksud Mbak,’ kata Niko di seberang telpon. ‘Kalau begitu aku tutup dulu teleponnya ya, Mbak? Yang penting mbak di situ baik-baik saja. Terus kalau ada apa-apa mbak harus cepat-cepat kasih tahu aku. Aku kemarin merasa gagal nggak ada pas mbak lagi genting-gentingnya.’
“Iya Niko bawel!” ledek Harin, membuat Niko berdecak kesal. Mempunyai Niko dan Mira adalah suatu keberuntungan buatnya.
Setelah menutup panggilan telepon, Harin menggenggam ponsel yang bentuknya lipat itu. Kemudian ia melihat jendela. Menerawang kesalahan apa yang pernah ia berbuat sampai harus mengalami ini semua.
“Wah! Nona Harin syukurlah kamu sudah sadar. Mira tadi memberitahu saya.”
Harin menoleh pada seseorang yang baru datang dengan setelan jas dokter, dan di belakangnya ada Mira juga wanita paruh baya membawa nampan berisi makanan.
Di tempat berbeda...
Jenna dan Seli saling pandang setelah Ridho menelpon kenapa tidak ada yang mengabarkan bahwa Harin mengalami kecelakaan.
“Gimana ini, Sayang?” tanya Seli. Sebenarnya ia takut ketahuan oleh suaminya masalah ini.
Jari Jenna mengetuk-ngetuk setir mobil. Memikirkan cara agar mereka berdua selamat dari amukan sang papa. Kemudian otak liciknya menemukan sebuah ide. Selain menyelamatkan mereka, ini juga bakalan membuat papanya marah pada Harin. Bila perlu agar kakaknya dicoret dari kartu keluarga.
“Mama harus bisa akting nanti,” ucap Jenna, lalu ia mulai menyalakan mesin mobilnya. Pulang ke rumah mewah mereka.
Kurang lebih 30 menit mobil mereka sampai di halaman rumah. Jenna dan Seli lagi-lagi saling pandang, karena mobil Ridho sudah terparkir sempurna di situ. Ridho kemarin sedang berada di perjalanan bisnis makanya Seli nekat ingin melenyapkan Harin pada saat suaminya tidak ada di rumah. Ridho meskipun tidak sepenuhnya menyayangi Harin, tapi terkadang juga perhatian. Buktinya, sekarang suaminya pulang setelah dikabarkan Harin kecelakaan.
“Mama siap?”
Seli mengangguk, berusaha keras mengeluarkan air mata. Lalu menangis saat memasuki pintu utama rumah mereka. Mereka melihat papanya sudah duduk di sofa ruang tamu. Kelihatan sekali sedang menahan amarahnya.
“Ya Allah Harin,” ucap Seli mulai berdrama. Di samping ada Jenna merangkul pundak Seli sembari terus mengeluarkan kata-kata menenangkan untuk mamanya yang menangis.
Ridho yang melihat sang istri menangis, sambil dipeluk putri bungsu mereka langsung bangkit ikut memapah Seli.
“Mama kenapa? Jenna, mama kamu kenapa?” tanya Ridho panik. Sementara Seli beralih memeluk suaminya, menangis di sana.
Ridho khawatir apa jangan-jangan ... Harin. “Apa terjadi sesuatu dengan Harin, Ma?”
Jenna mengatupkan bibirnya, tangis Seli semakin kencang. Dalam benaknya, akting itu tidak boleh setengah-setengah bukan? Harus totalitas!
“Jenna!” bentak Ridho tidak sabar. Matanya bahkan melotot pada putri bungsunya.
“Pa—” Jenna mau mengeluarkan suaranya, tapi terpotong.
“Papa jangan menyalahkan Jenna. Semua ini salah Mama,” ucap Seli serak, seraya menguraikan pelukannya pada sang suami. Ternyata akting menangis pun cukup melelahkan ya?
“Kenapa, Ma?” Ridho bertanya lalu melirik Jenna yang seperti mengkode istrinya. Jangan berbicara apapun. Ini semakin mencurigakan.
“Pokoknya mama yang salah di sini, Pa.”
“Iya kenapa, Ma? Mama salah apa?” tanya Ridho tidak sabar. “Sebenarnya ada apa sih? Kenapa? Dan ada apa dengan Harin?”
“Ayo duduk dulu, Ma.” Jenna mengajak kedua orang tuanya duduk. Raut wajah Seli terlihat sekali sangat sedih dan terluka.
“Ma—”
“Harin kecelakaan, Pa. Mama kemarin dikasih tahu perawat di sana. Tapi mama belum ngasih tahu papa karena papa sedang sibuk dan dalam perjalanan bisnis. Mama nggak mau papa khawatir, toh di sini Harin ada Jenna dan Mama. Mama minta maaf soal ini,” ucap Seli parau, kemudian ia mengusap air matanya.
Ridho menarik napas panjang. Kalau itu alasan kenapa ia tidak beritahu tidak apa-apa. Istrinya juga memikirkan dirinya bukan?
“Hanya saja—”
Kening Ridho berkerut. “Kenapa, Ma?”
“Saat kami datang ke sana hari ini, Harin sudah tidak ada di ranjang, Pa. Itu kenapa Mama sedih dan menangis,” lanjut Seli sedih.
“Maksud Mama gimana?”
“Kak Harin kabur, Pa,” kata Jenna, raut wajahnya juga ikut sedih.
“Hah!! Kenapa?!!” Ridho shock. Walau bagaimanapun orang tua mana yang tidak terpukul dengan berita seperti ini. Apalagi Harin ini cinta pertamanya. Malah membuatnya kecewa.
“Iya kabur, Pa. Mira juga nggak ada di tempat. Sepertinya mereka berkerja sama pergi.”
“Semua ini salah Mama yang kurang memperhatikan Harin, Pa. Sampai dia nekat begitu. Padahal kita kurang apa coba ke dia? Makanya Mama sedih,” keluh Seli merasa sedih.
“Dasar anak tidak tahu diri!” maki Ridho berkacak pinggang. Kemarahan tercetak jelas di wajahnya.
Seli dan Jenna saling lirik lewat tatapan mata. Bahkan gadis cantik berambut pendek itu menyeringai kecil. Itulah yang diucapkan, Ridho tidak akan percaya omongan Harin.
“Pa, jangan-jangan kecelakaan ini sengaja dibuat olehnya agar dia bisa kabur,” ucap Jenna santai.
“Jenna, nggak boleh begitu pikirannya. Walau bagaimanapun dia kakakmu,” tukas Seli.
“Kan benar, Ma? Lihat Kak Harin. Dia lebih suka pulang ke apartemen kecil yang cocok disebut gudang itu daripada rumah kita.”
“Apartemen?” tanya Ridho cukup kaget. Karena ia tidak tahu selama ini.
Jenna mengatupkan bibirnya seketika. Ia bukan sengaja keceplosan, tapi sengaja membeberkan dengan dalih keceplosan.
“Mama Harin tinggal di apartemen?”
“Iya, Ma. Pokoknya semua ini salah Mama, Pa. Salah Mama!” Seli kembali menangis tersedu-sedu. Jenna duduk di seberang sofa, langsung beranjak merangkul mamanya.
Ridho menghela napas frustasi. Harin yang berpenampilan tertutup ternyata jauh lebih buruk dari Jenna. Jenna selalu membanggakan, sementara Harin. Keterlaluan membuat mamanya sampai begitu. Anak tidak tahu diri!
“Memalukan! Sungguh memalukan! Sudah nggak usah pikirkan anak seperti dia! Kalau dia mau pergi biarkan saja dia pergi! Kalau bisa, tidak perlu kembali lagi! Nanti Papa suruh orang rumah, langsung usir kalau Harin pulang ke rumah!” Setelah mengatakan itu, Ridho berlalu dari situ. Pastinya memberitahu orang-orang rumahnya.
Jenna dan Seli sama-sama tersenyum kemenangan. Bahkan Seli menghapus air matanya dengan kasar. Buat apa?!!
***LP