Renata tidak tidur malam itu. Ia duduk di tepi ranjang sampai jendela apartemennya berubah dari hitam menjadi kelabu, ponsel masih tergeletak di pangkuannya seperti benda asing yang baru saja menggigitnya. Nomor tak dikenal itu masih menyala di layar ketika fajar tiba, sebelas digit yang tidak punya nama, tidak punya wajah, tidak punya apa pun selain napas pelan dan suara seorang pria yang tahu terlalu banyak.
Ayahnya pernah berkata, ketika lawan menelepon, dia memberimu lebih banyak dari yang dia kira. Renata mencoba mengingat setiap detail. Suara itu tenang, tidak terburu-buru, dengan cara orang yang terbiasa menunggu dan terbiasa dipatuhi. Tidak ada logat yang menonjol, tidak ada nada provinsi di dalamnya. Pria itu menyebut yayasannya "indah". Pria itu tahu ada orang-orang kecil di sana yang percaya Renata bisa melindungi mereka. Berarti dia tahu siapa yang hadir di pembukaan. Berarti dia mengamati.
Pagi itu Renata menelepon Andin, dan Andin datang dengan dua gelas kopi dingin dari kedai dan mata yang bengkak karena juga tidak tidur. Mereka memutar rekaman percakapan di kepala masing-masing, kata demi kata, karena Renata tidak sempat merekamnya—ia terlalu terkejut, dan ia membenci dirinya untuk itu. Bertahun-tahun ia melatih diri untuk membaca orang, untuk menafsir gestur dan mata dan jeda di antara kalimat, dan saat ujian pertama yang sesungguhnya datang lewat sebuah suara di telepon, ia membeku seperti anak kecil. Itu, ia bersumpah dalam hati, tidak akan terjadi lagi.
"Ceritakan padaku semuanya," kata Andin, mengeluarkan buku catatan kecil yang selalu ia bawa. "Kata-katanya. Tapi juga yang bukan kata-kata. Bagaimana cara dia bernapas. Apa dia tergesa atau tidak. Apa dia membaca dari naskah atau bicara lepas."
Renata memejamkan mata dan mengulang. Pria itu tidak membaca naskah—jeda-jedanya terlalu alami, ditempatkan untuk efek, seperti orang yang terbiasa berbicara dan menonton kata-katanya mengubah wajah orang lain. Ia menyebut nama Renata dengan nada yang nyaris sayang, cara seorang paman atau seorang guru lama. Dan ada satu detik, satu detik saja, ketika ia menyebut "orang-orang kecil yang berani", di mana suaranya melambat—bukan karena ragu, melainkan karena ia menikmatinya. Renata membuka matanya. "Dia tidak mengancam saya untuk membuat saya berhenti," katanya pelan. "Kalau dia mau saya berhenti, dia tidak akan menelepon. Dia menelepon untuk memberi tahu saya bahwa permainan sudah dimulai—dan bahwa dia ingin saya tahu dia ada di sana, menonton saya bermain."
"Nomornya pasti sudah mati," kata Andin, menyandarkan punggung ke meja dapur. "Orang seperti ini tidak menelepon dari nomor yang bisa dilacak ke rumahnya."
"Saya tahu." Renata menggeser ponselnya. "Tapi nomor mati pun pernah hidup. Pernah lewat suatu tempat."
Andin punya kontak—seorang teknisi di perusahaan operator yang dulu pernah ia lindungi namanya dalam sebuah liputan. Butuh dua hari, sebuah pertemuan di tempat parkir bertingkat, dan amplop berisi uang yang membuat tangan Renata terasa kotor saat menyerahkannya. Tapi hasilnya datang: nomor itu memang sudah dinonaktifkan beberapa menit setelah panggilan, sebuah kartu prabayar yang dibeli tunai dan tak terdaftar atas siapa pun. Jalan buntu, seperti yang sudah mereka duga.
Kecuali satu hal.
Teknisi itu menunjukkan satu baris data di layar laptopnya, jarinya menunjuk gugus angka yang bagi Renata tak berarti apa-apa. "Ini menara yang menangani panggilan terakhirnya," katanya. "Sebelum kartunya dimatikan, sinyalnya tertangkap di sini. Bukan dari pinggiran. Dari pusat kota."
Renata menatap titik di peta yang teknisi itu putar ke arahnya. Jantungnya berdebar, satu denyut yang ia kenali, denyut yang selalu datang sebelum sebuah potongan jatuh ke tempatnya. Titik itu berdiri di tengah segitiga gedung-gedung yang ia kenal seumur hidupnya. Kantor partai. Gedung dewan. Dan, paling dekat, hanya beberapa ratus meter dari pemancar itu—gedung pemerintahan, tempat ayahnya bekerja, tempat ayahnya mati.
"Orang ini menelepon saya," kata Renata pelan, lebih kepada dirinya sendiri, "dari jantung kota. Dari tempat semua ini bermula."
Andin menelan ludah. "Itu bisa berarti ribuan orang, Renata. Gedung-gedung itu penuh orang setiap hari."
"Bukan ribuan orang yang tahu siapa yang menyuruh Bram." Renata berdiri, berjalan ke jendela apartemen. Di kejauhan, di antara kabut pagi yang belum hilang, gedung pemerintahan menjulang dingin seperti biasa. Ia mengira ia sudah meninggalkan gedung itu. Ia mengira ia sudah menutup pintunya. "Dia tidak menyembunyikan dari mana dia menelepon. Mungkin dia tidak peduli kalau saya tahu. Atau—" ia berhenti, dan kata berikutnya terasa dingin di mulutnya, "—mungkin itu pesan. Dia ingin saya tahu dia ada di dalam. Di gedung yang sama. Setiap hari. Mengamati."
Sore itu Renata kembali ke kantor yayasan untuk pertama kalinya sejak telepon itu. Bangunan kecil dua lantai yang ia sewa, dengan plang sederhana bertuliskan nama ayahnya, terasa berbeda. Ia berhenti di trotoar dan memandanginya dari seberang jalan, dan saat itulah ia melihatnya: sebuah mobil hitam diparkir setengah blok dari pintu masuk, kaca gelap, mesin mati, tanpa siapa pun keluar atau masuk selama ia berdiri di sana. Mungkin tidak berarti apa-apa. Ribuan mobil hitam memenuhi kota ini.
Tapi Renata teringat kata ayahnya, yang dulu ia kira hanya kiasan. Kalau kamu mulai merasa diawasi, Nak, biasanya itu karena kamu memang sedang diawasi. Perasaan itu jarang berbohong; yang sering berbohong adalah harapan kita bahwa kita salah.
Ia tidak menyeberang. Ia berjalan memutar, masuk dari pintu belakang yayasan, dan dari jendela lantai dua ia mengamati mobil hitam itu sampai matahari turun. Mobil itu tidak bergerak. Lalu, tepat ketika lampu jalan menyala satu per satu, mobil itu menyalakan mesinnya dan pergi pelan, tanpa terburu-buru, dengan ketenangan yang sama seperti suara di telepon.
Renata berdiri di ruangan gelap yayasan yang ia dirikan untuk melindungi orang lain, dan untuk pertama kalinya ia mengerti bahwa ia telah membangun sesuatu yang mudah dilihat. Sebuah lampu di tengah kegelapan menarik dua macam makhluk: yang mencari cahaya, dan yang mencari mangsa di bawahnya.