Barang-barang ayahnya datang dalam tujuh kardus cokelat yang disegel oleh penyidik dan baru dilepas berbulan-bulan kemudian, ketika perkara Bram dan Gunawan sudah cukup jauh sehingga benda-benda pribadi itu boleh dikembalikan ke keluarga. Renata tidak pernah membukanya. Kardus-kardus itu menumpuk di sudut apartemennya, tertutup kain, sebuah makam kecil yang ia tidak sanggup gali.
Tapi telepon tanpa nama itu mengubah segalanya. Bram itu bawahan, kata pria di seberang. Ayahmu juga tidak sempat bertanya. Dan Renata mulai bertanya-tanya: kalau ayahnya tahu lebih banyak dari yang ia kira, ke mana ayahnya akan menyimpannya? Bukan di kantor, yang setiap lacinya diawasi. Bukan di rumah dinas, yang penuh mata. Di sesuatu yang pribadi. Sesuatu yang hanya akan diperiksa orang yang mencintainya.
Andin menawarkan diri menemani, tapi Renata menolak. Ada hal-hal, ia tahu, yang harus dilakukan sendirian, di ruangan yang sunyi, tanpa saksi—bukan karena rahasia, melainkan karena ada duka yang menolak ditonton. Malam itu ia membuka kardus pertama.
Bau ayahnya keluar dari sana—aroma tembakau cengkih yang sudah lama ia larang dokter, sedikit minyak rambut, kertas tua. Renata duduk di lantai dan menahan napas, dan untuk beberapa menit ia tidak bisa berbuat apa-apa selain memegang sebuah dasi yang masih menyimpan lipatan leher ayahnya. Ayahnya pernah berkata, orang mati tidak meninggalkan apa-apa selain pekerjaan yang belum selesai. Renata dulu kira itu kalimat seorang pemimpin yang keras. Sekarang ia mengerti itu kalimat seorang ayah yang tahu ia mungkin tidak punya banyak waktu.
Ia menyusuri benda demi benda. Jam tangan yang berhenti di pukul tiga lewat—entah jam berapa, hari apa. Kacamata baca dengan satu engsel longgar. Buku-buku tentang tata negara dengan catatan pinggir tulisan tangan yang rapat. Sebuah Quran kecil bersampul hijau yang sudah memudar. Dan, di dasar kardus ketiga, terbungkus di antara lipatan sebuah sarung batik tua, sebuah dompet kulit yang sudah usang.
Renata mengenali dompet itu. Bukan dompet yang ayahnya pakai sehari-hari—yang itu hilang, atau diamankan, ia tidak pernah tahu. Ini dompet lama, yang ayahnya simpan tapi tak pernah bawa, jenis benda yang disimpan orang bukan karena berguna melainkan karena tak sanggup dibuang. Ia membukanya dengan jari yang gemetar. Di dalamnya ada foto ibunya yang sudah lama tiada—wajah muda yang nyaris tak Renata kenali, karena ia hanya mengenal ibunya dari kenangan yang sudah lebih banyak diisi orang lain daripada oleh dirinya sendiri—sebuah kartu nama yang menguning tanpa nama yang ia kenal, dan, terselip di lipatan paling dalam di balik jahitan yang dilonggarkan dengan sengaja, sebuah kunci kecil berwarna kuningan.
Tangan Renata berhenti. Jahitan itu tidak rusak karena usia. Seseorang telah membongkarnya dengan hati-hati, menyelipkan sesuatu di dalamnya, lalu menjahitnya kembali dengan benang yang sedikit berbeda warna. Ayahnya, yang tangannya bisa menandatangani anggaran triliunan tapi tak pernah bisa memasang kancing bajunya sendiri, telah duduk di suatu malam dengan jarum dan benang, menyembunyikan sesuatu di dalam dompet tua yang ia tahu hanya akan dibuka kalau ia sudah tiada. Renata merasakan dingin merayap di tengkuknya. Ayahnya sudah tahu. Jauh sebelum kopi malam itu, ayahnya sudah menyiapkan diri untuk tidak ada.
Kunci itu tidak seperti kunci rumah atau lemari. Bentuknya pipih, dengan gerigi rumit dan kepala bundar bernomor yang dicetak timbul: 1903. Di balik kepala kunci, dalam huruf kecil yang nyaris terhapus, terbaca nama sebuah bank.
Renata duduk diam dalam keheningan apartemennya yang panjang, menggenggam kunci itu sampai logamnya memanas di telapaknya. Ayahnya menyimpan sesuatu di sebuah loker bank. Sesuatu yang tidak ia tunjukkan pada Bram, tidak pada Gunawan, tidak pada KPK, tidak pada Renata sendiri. Sesuatu yang ia sembunyikan begitu dalam sehingga ia merusak jahitan dompet lama hanya untuk menyembunyikannya.
Tapi kunci tidak cukup. Renata tahu cara kerja loker bank—ayahnya yang mengajarinya, bertahun-tahun lalu, dalam salah satu sore yang dulu ia kira hanya obrolan kosong. Untuk membuka, kau butuh kunci dan tanda tangan, kadang sandi, kadang kata yang hanya kau dan bank yang tahu. Renata membongkar sisa kardus sampai pukul empat pagi, mencari secarik kertas, sebuah angka, apa pun.
Ia menemukannya di tempat yang seharusnya ia duga sejak awal: di dalam Quran kecil bersampul hijau itu. Di halaman penutup, dengan tinta yang sama dengan catatan terakhir yang dulu ia baca—Aku tidak peduli kita berteman tiga puluh tahun—ayahnya telah menulis satu baris angka dan satu baris kata.
Dan di bawahnya, dalam huruf yang lebih kecil, lebih bergegas, seolah ditulis di menit-menit terakhir sebuah keputusan: "Kalau kamu menemukan ini, Renata, berarti aku sudah tidak bisa menjelaskannya sendiri. Maafkan aku karena tidak menunjukkan ini lebih dulu. Aku tidak ingin kamu masuk ke dalam ini. Tapi kalau kamu sudah di sini—maka kamu memang anakku. Hati-hati. Yang di atas Bram jauh lebih sabar dari Bram."
Renata membaca baris itu tiga kali. Tangannya dingin. Ayahnya tahu. Ayahnya sudah tahu ada yang di atas Bram, dan ayahnya mati sebelum sempat menyentuhnya. Suara di telepon benar. Ayahnya berhenti satu nama terlalu cepat.
Tapi ayahnya juga meninggalkan jalan. Sebuah kunci, sebuah angka, dan sebuah peringatan dari seseorang yang sudah tidak bisa lagi bicara. Renata menutup Quran kecil itu dan menggenggamnya di dada, dan untuk pertama kalinya sejak pemakaman, ia menangis—bukan karena duka, melainkan karena ia tidak lagi sendirian. Orang mati itu baru saja menyerahkan tangannya ke dalam genggamannya, dan menariknya jauh lebih dalam ke dalam kegelapan.