Bank itu tua, dari masa ketika gedung-gedung masih dibangun untuk bertahan dan bukan untuk menakjubkan. Marmer di lantainya sudah aus di tengah, tempat puluhan tahun langkah kaki menggosoknya. Renata datang dengan Andin, keduanya berpakaian rapi dan tenang, membawa surat keterangan waris dan akta kematian dan kunci kuningan bernomor 1903 yang ujungnya sudah hangat di saku Renata karena ia terus menggenggamnya sepanjang perjalanan.
Petugas brankas adalah seorang perempuan tua dengan kacamata tebal yang memeriksa dokumen Renata dengan kecermatan yang nyaris menyakitkan. Ayahnya pernah berkata, di tempat-tempat lama, orang masih percaya pada kertas dan tanda tangan; itu sebabnya tempat-tempat lama lebih sulit dibohongi. Renata menahan napas ketika perempuan itu mencocokkan sandi yang Renata tuliskan dengan catatan di buku besarnya, sebuah buku fisik bersampul kulit yang membuat Renata diam-diam bersyukur ayahnya memilih bank ini—bukan tempat yang datanya bisa diubah seseorang dengan satu papan ketik dari jauh.
"Cocok," kata perempuan itu akhirnya, dan menutup buku besarnya. "Mari, Nona. Hanya boleh satu orang masuk ke ruang brankas."
Andin mengangguk pada Renata dan tetap di ruang tunggu. Renata mengikuti perempuan tua itu melalui pintu baja yang dibuka dengan dua kunci sekaligus, ke dalam ruangan dingin penuh kotak-kotak logam yang tersusun dari lantai sampai langit-langit. Perempuan itu memasukkan kuncinya sendiri ke loker 1903, lalu menyilakan Renata memasukkan kunci ayahnya. Keduanya diputar bersamaan. Pintu kecil itu terbuka dengan denting pelan, dan Renata sendirian dengan apa pun yang ayahnya tinggalkan.
Ia menarik kotak logam panjang itu keluar dan meletakkannya di meja kecil di sudut ruangan. Untuk sesaat ia hanya menatapnya. Lalu ia membukanya.
Tidak ada uang. Tidak ada emas. Renata hampir tertawa karena leganya, dan karena getirnya—ayahnya menyimpan sesuatu yang lebih berbahaya dari uang. Di dalam kotak itu ada sebuah buku rekening tabungan model lama, sampulnya pudar, dari sebuah bank yang Renata tidak kenal namanya dan yang kemudian, ia ketahui, sudah lama dilikuidasi dan namanya berganti dua kali. Di sampingnya, sebuah amplop tipis. Dan di dasar kotak, terbungkus kertas minyak, sebuah foto.
Renata membuka buku rekening itu lebih dulu. Angka-angka di dalamnya tua, ditulis tangan oleh teller dari masa sebelum cetak komputer, dan tanggal-tanggalnya membentang lebih dari dua puluh tahun lalu. Ia tidak mengerti artinya, belum, tapi ia tahu satu hal: ayahnya tidak menyimpan buku rekening lama tanpa alasan. Setiap angka itu adalah cabang dari sebuah pohon yang ayahnya susuri jauh sebelum reklamasi.
Lalu ia membuka kertas minyak itu, dan jantungnya berhenti sebentar.
Foto itu hitam putih, sudah menguning di sudut-sudutnya, diambil di sebuah acara resmi entah berapa puluh tahun lalu. Empat pria muda berdiri berjajar di depan sebuah gedung, mengenakan jas yang ketinggalan zaman, tersenyum dengan keyakinan orang muda yang belum tahu apa yang akan dilakukan dunia kepada mereka. Renata mengenali dua di antaranya seketika.
Yang paling kiri adalah ayahnya—Wirasena muda, kurus, dengan rambut tebal dan mata yang sudah punya ketegasan yang akan ia kenal seumur hidupnya. Di sebelahnya, lebih gemuk, dengan senyum yang sudah licin bahkan di usia semuda itu, berdiri seorang pria yang membuat tenggorokan Renata mengencang: Bramantyo Sasongko. Om Bram. Tiga puluh tahun lebih muda, tapi senyum itu, mata itu—tak salah lagi.
Pria ketiga, Renata tidak kenal. Tinggi, tampan dengan cara yang dingin, berdiri sedikit terpisah dari yang lain seolah ia tahu ia tidak sepenuhnya milik kelompok itu. Wajahnya membuat Renata berhenti, ada sesuatu yang samar-samar ia kenali, seperti nama yang ada di ujung lidah. Sebuah wajah yang, ia merasa, pernah ia lihat di layar televisi, di koran, di tempat-tempat di mana wajah-wajah orang penting nasional dipajang. Tapi ia tidak bisa menempatkannya.
Dan pria keempat—Renata merasakan dingin merayap di tengkuknya—wajah pria keempat dicoret. Bukan robek, bukan terhapus oleh waktu. Dicoret, dengan tinta hitam tebal, oleh tangan seseorang yang dengan sengaja ingin pria itu tidak dikenali. Tinta itu masih utuh, tidak pudar seperti foto, yang berarti coretan itu dibuat jauh setelah foto diambil. Ayahnya, mungkin. Atau orang sebelum ayahnya.
Renata membalik foto itu. Di belakang, dengan pensil, dalam tulisan tangan yang bukan tulisan ayahnya, tertulis empat huruf dan sebuah tahun, dan sebuah kalimat yang membuat seluruh ruangan dingin itu terasa semakin dingin: "Kita berempat. Sebelum salah satu dari kita menjadi sesuatu yang lain."
Empat huruf itu—Renata membacanya berulang—bukan nama lengkap, hanya inisial, ditulis berderet seperti tanda tangan kolektif: W, B, dan dua huruf lagi yang menamai dua pria yang belum bisa ia kenali. W untuk Wirasena. B untuk Bramantyo. Dan dua huruf sisanya milik pria yang nyaris ia kenali dari layar televisi, dan pria yang dicoret hilang. Tahun di sebelahnya membentang lebih dari tiga dekade ke belakang, ke masa ketika ayahnya bahkan belum menikahi ibunya, ke masa sebelum Renata ada di dunia untuk menjadi saksi apa pun.
Ia memotret foto itu dengan ponselnya dari beberapa sudut, lalu—setelah ragu sejenak—memasukkan foto asli, buku rekening tua, dan amplop tipis itu ke dalam tasnya. Petugas brankas tidak akan bertanya; isi loker adalah hak waris, dan perempuan tua itu sudah berbalik memberi Renata privasi yang tampaknya ia anggap pantas bagi seorang anak yang berkabung. Renata mengembalikan kotak logam kosong itu ke tempatnya, mengunci pintu kecilnya, dan keluar dari ruang brankas dengan langkah yang ia paksa setenang mungkin.
Andin menunggunya di ruang depan, dan satu pandangan ke wajah Renata cukup baginya untuk berdiri tanpa bertanya. Mereka tidak bicara sampai berada di dalam mobil, jauh dari telinga siapa pun, dan barulah Renata mengeluarkan foto itu dan meletakkannya di pangkuan Andin. Andin menatapnya lama, jurnalis di dalamnya bekerja dalam diam, lalu menunjuk pria ketiga—yang nyaris dikenali Renata—dengan jari yang sedikit gemetar. "Aku kenal wajah ini," kata Andin pelan. "Aku tidak tahu namanya, belum, tapi aku pernah memotretnya. Bukan di sini. Di Jakarta, bertahun-tahun lalu, di acara yang dihadiri orang-orang yang fotonya tidak boleh sembarangan dimuat." Ia mengangkat wajah, dan matanya menyala dengan binar yang Renata kenali sekaligus takuti. "Kalau wajah ini ada di foto lama ayahmu, Renata, maka ini bukan lagi cerita provinsi. Ini sudah lama sekali bukan cerita provinsi."
Renata berdiri lama—dalam ingatannya, bahkan setelah ia meninggalkan tempat itu—di ruang brankas yang sunyi, memegang foto empat pria muda, salah satunya ayahnya, salah satunya pembunuh ayahnya, salah satunya wajah yang nyaris ia kenali dari panggung nasional, dan salah satunya dicoret sampai hilang. Ia datang mencari satu jawaban. Ia membawa pulang tiga pertanyaan baru, dan yang paling menakutkan di antaranya bukan siapa pria yang dicoret itu—melainkan kenapa ayahnya tidak ikut mencoretnya.