Tiga hari setelah pemakaman, rumah dinas mulai sepi. Renata diberi waktu untuk membereskan barang-barang pribadi ayahnya sebelum rumah itu diserahkan kepada pelaksana tugas gubernur. Dia datang sendiri, sengaja, di sore hari ketika para staf sudah pulang dan hanya Pak Hendra yang menemaninya di ujung lorong.
Ruang kerja ayahnya sudah dirapikan. Terlalu rapi. Meja yang dulu penuh berkas kini bersih. Laci-laci yang biasanya terkunci kini setengah terbuka dan kosong. Renata berdiri di tengah ruangan itu, dan untuk pertama kalinya sejak telepon pukul tiga pagi itu, dia menangis—pelan, tanpa suara, hanya air mata yang jatuh sementara dia menyentuh sandaran kursi tempat ayahnya menghabiskan setengah hidupnya.
"Mbak Renata," kata Pak Hendra dari pintu, suaranya hampir berbisik. "Ada sesuatu yang... ingin saya berikan. Tapi tolong, jangan beri tahu siapa pun bahwa ini dari saya."
Renata berbalik. Pak Hendra menyodorkan sebuah map cokelat lusuh, jenis map yang biasa dipakai orang untuk menyimpan dokumen pribadi, bukan dokumen kantor. "Ini Bapak titipkan ke saya seminggu sebelum... sebelum beliau pergi. Beliau bilang, kalau terjadi sesuatu padanya, map ini harus sampai ke tangan Mbak. Bukan ke siapa pun yang lain. Beliau menekankan itu. Bukan siapa pun."
Tangan Renata gemetar saat menerima map itu. "Pak Hendra, kenapa Bapak menyimpan ini selama tiga hari?"
Mata pria tua itu berkaca-kaca. "Karena saya takut, Mbak. Sejak malam itu, rumah ini penuh mata. Pak Bram menyuruh saya menyerahkan semua dokumen Bapak ke sekretariat. Saya serahkan semuanya—kecuali ini. Saya sembunyikan di rumah saya. Saya tunggu sampai aman." Dia menunduk. "Maafkan saya kalau saya bertindak lancang."
Renata membuka map itu dengan hati-hati. Di dalamnya ada lembaran-lembaran fotokopi: laporan keuangan proyek reklamasi pantai utara, daftar nama perusahaan dengan angka-angka transfer, dan beberapa catatan tulisan tangan ayahnya. Tulisan tangan yang dia kenal—tegas, miring ke kanan, dengan garis bawah tebal pada kata-kata penting. Renata membaca satu catatan, dan jantungnya berhenti sejenak.
"Aliran dana proyek reklamasi tidak masuk akal. Tiga perusahaan fiktif. Total lebih dari empat ratus miliar menguap. Semua mengarah ke satu nama yang aku belum berani tulis di sini. Aku sudah peringatkan dia. Kalau dia tidak berhenti, aku akan bawa ini ke KPK. Apa pun risikonya. —W."
Tertanggal sepuluh hari sebelum kematiannya.
Renata membaca ulang kalimat itu tiga kali. Aku sudah peringatkan dia. Dia. Satu nama yang ayahnya belum berani tulis. Seseorang yang cukup dekat sehingga ayahnya memberi peringatan dulu, bukan langsung melapor. Seseorang dari lingkaran dalam.
"Pak Hendra," kata Renata, suaranya nyaris tak terdengar. "Bapak tahu apa isi map ini?"
"Tidak, Mbak. Saya tidak berani membukanya." Pria itu menelan ludah. "Tapi saya tahu satu hal. Sepuluh hari terakhir, Bapak berubah. Beliau jadi sering rapat tertutup, sering marah pada telepon, dan suatu malam saya dengar beliau berkata pada seseorang—saya tidak tahu siapa—'Aku tidak peduli kita berteman tiga puluh tahun. Yang kamu lakukan ini kejahatan.'"
Tiga puluh tahun. Renata teringat pita karangan bunga itu. Sahabat seperjuanganmu, Bramantyo Sasongko. Om Bram dan ayahnya memang berteman lebih dari tiga puluh tahun. Tapi banyak orang lain juga. Dia menahan diri untuk tidak melompat ke kesimpulan. Ayahnya selalu mengajarinya: tuduhan tanpa bukti adalah peluru yang berbalik ke penembaknya.
Tapi map ini bukan tuduhan kosong. Map ini adalah peluru yang sudah dimasukkan ayahnya ke dalam senapan, sebelum seseorang menghentikannya menarik pelatuk.
Renata memasukkan map itu ke dalam tasnya, jauh ke dalam, di balik laptop dan dompet. "Pak Hendra," katanya, menatap mata pria tua yang sudah mengabdi pada ayahnya selama dua puluh tahun itu. "Terima kasih. Bapak baru saja melakukan hal paling berani yang pernah saya lihat. Tapi mulai sekarang, lupakan map ini pernah ada. Demi keselamatan Bapak. Mengerti?"
Pak Hendra mengangguk, lalu—tanpa diduga—dia mencium tangan Renata, seperti dulu dia mencium tangan ayahnya setiap pagi. "Beliau bangga pada Mbak. Beliau selalu bilang, Renata punya mata yang sama dengan saya. Mata yang melihat."
Malam itu Renata pulang dengan map cokelat di tasnya dan satu keputusan di kepalanya. Dia datang ke kota ini untuk menguburkan ayahnya. Sekarang dia tahu dia tidak akan pergi sebelum menemukan siapa yang menaruh secangkir kopi malam di sebelah tangan ayahnya.