Undangan itu datang keesokan paginya, dalam bentuk telepon dari Om Bram yang penuh kehangatan. "Renata, Nak, makan siang denganku, ya. Hanya berdua. Ada yang ingin Om bicarakan, soal masa depanmu."
Mereka bertemu di sebuah restoran di lantai atas hotel, tempat yang sunyi dan mahal, jenis tempat yang dipilih ayahnya dulu kalau ingin bicara serius tanpa telinga yang tidak diundang. Om Bram sudah menunggu, dan dia berdiri menyambut Renata dengan pelukan ringan, lalu menarikkan kursi untuknya seperti seorang paman penyayang.
"Kamu tampak lelah, Nak," kata Om Bram, memesankan teh hangat untuk Renata tanpa bertanya. "Wajar. Ini berat untuk siapa pun. Tapi ayahmu mengajarkan kita untuk tetap berdiri, bukan?"
Renata tersenyum tipis. "Bapak mengajarkan banyak hal, Om."
"Tepat sekali." Om Bram menyandarkan punggung, menatap Renata dengan mata yang berkilat hangat. "Karena itu Om ingin bicara langsung. Renata, kamu tahu provinsi ini sedang dalam masa rawan. Pak Gunawan akan menjabat sampai akhir periode, tapi semua orang tahu dia hanya pengisi kursi sementara. Pertarungan sebenarnya ada di pemilihan tahun depan. Dan partai—partai ayahmu, partai yang kita bangun bersama—butuh wajah baru. Wajah yang bersih. Wajah yang membawa nama besar tapi belum tercemar permainan kotor."
Renata merasakan ke mana arah pembicaraan ini, dan rasanya seperti melihat jaring perlahan-lahan dilemparkan.
"Maksud Om...?"
"Maksud Om, kamu." Om Bram mencondongkan tubuh. "Renata Adiputra. Putri Gubernur Wirasena. Muda, cerdas, lulusan luar negeri, belum tersentuh lumpur politik. Bayangkan—kamu mewarisi bukan hanya nama ayahmu, tapi cita-citanya. Om akan membimbingmu. Om kenal semua orang yang perlu dikenal. Dalam satu tahun, Om bisa membuat namamu jadi nomor satu di provinsi ini. Kursi gubernur, Nak. Bukan mimpi. Tinggal kamu bilang iya."
Untuk sesaat, Renata membiarkan kalimat itu menggantung di udara. Tawaran itu manis. Terlalu manis. Dan justru kemanisan itulah yang membuatnya waspada. Ayahnya pernah berkata: kalau seseorang menawarkan sesuatu yang terlalu besar terlalu cepat, tanyakan apa yang sebenarnya dia inginkan darimu.
"Om," kata Renata pelan, "kenapa Om begitu yakin pada saya? Saya tidak punya pengalaman. Saya bahkan tidak pernah tertarik politik."
"Justru itu kelebihanmu." Om Bram tersenyum. "Pengalaman bisa diajarkan. Tapi nama besar dan wajah bersih—itu tidak bisa dibeli."
Renata mengangguk pelan, lalu melempar umpan, perlahan, seperti yang akan dilakukan ayahnya. "Sebelum bicara masa depan, Om... saya masih belum bisa berhenti memikirkan masa lalu. Tentang Bapak. Beberapa hari sebelum meninggal, beliau tampak sangat tertekan. Soal proyek reklamasi. Om tahu sesuatu tentang itu?"
Sesuatu berubah di wajah Om Bram. Hanya sepersekian detik—senyumnya tidak hilang, tapi matanya mengeras, seperti pintu yang tiba-tiba ditutup di balik tirai yang masih tersenyum. Lalu, dengan kehalusan seorang yang sudah puluhan tahun bermain di meja seperti ini, dia kembali tenang.
"Reklamasi? Ah, itu proyek besar, banyak tekanannya. Ayahmu memang stres, Nak. Mungkin terlalu stres—itu yang membuat jantungnya." Dia menggeleng dengan duka yang sempurna. "Kita semua menyesal tidak memaksanya beristirahat. Tapi jangan kamu bebani dirimu dengan urusan proyek. Itu dunia yang kotor. Dunia yang seharusnya tidak kamu sentuh."
Renata mencatat semuanya. Dunia yang seharusnya tidak kamu sentuh. Bukan jawaban. Sebuah peringatan, dibungkus kasih sayang.
"Om benar," kata Renata, menundukkan kepala seolah pasrah. "Saya butuh waktu memikirkan tawaran Om. Ini terlalu besar."
"Tentu, tentu." Om Bram menepuk tangannya. "Pikirkan baik-baik. Tapi jangan terlalu lama. Di politik, kursi yang kosong tidak menunggu siapa pun." Dia tertawa kecil. "Dan satu lagi, Nak. Mulai sekarang, hati-hati dengan siapa kamu bicara. Banyak orang akan mendekatimu, berpura-pura jadi teman. Percayalah hanya pada Om. Cuma Om yang benar-benar peduli padamu di kota ini."
Renata tersenyum manis, dan di dalam hatinya, alarm itu berbunyi nyaring. Karena orang yang menyuruhmu hanya percaya pada satu orang—biasanya adalah orang yang paling tidak boleh kamu percaya.
Pulang dari restoran itu, Renata duduk di mobilnya selama lima menit tanpa menyalakan mesin. Dua hal kini jelas baginya. Pertama, Om Bram menginginkan dirinya jadi gubernur—bukan karena sayang, tapi karena boneka berwajah bersih jauh lebih berguna daripada lawan. Kedua, ketika dia menyebut kata reklamasi, mata Om Bram telah menjawab sebuah pertanyaan yang mulutnya berusaha keras menghindari.