Renata tahu dia tidak bisa berjalan sendirian. Map cokelat itu terlalu berat untuk dipanggul satu orang, dan dia membutuhkan seseorang yang mengerti seluk-beluk pemerintahan provinsi tanpa terikat pada Om Bram. Pikirannya jatuh pada satu nama: Sekar Wijaya, kepala biro hukum provinsi, perempuan berusia awal empat puluhan yang dulu sering disebut ayahnya sebagai "satu-satunya orang di kantor ini yang berani membantah saya dengan dasar undang-undang."
Mereka bertemu di sebuah kedai kopi sederhana di pinggiran kota, jauh dari pusat pemerintahan, di sudut yang tidak menarik perhatian. Sekar datang mengenakan pakaian biasa, bukan setelan kantornya, dan dia memesan kopi hitam tanpa basa-basi.
"Saya tahu kenapa Mbak mengajak saya," kata Sekar, langsung ke pokok, persis seperti yang Renata harapkan. "Mbak mau bertanya tentang reklamasi. Tentang ayah Mbak. Tentang hal-hal yang tidak boleh ditanyakan."
Renata terkejut, tapi tidak menunjukkannya. "Bagaimana Mbak Sekar tahu?"
"Karena dua minggu sebelum meninggal, ayah Mbak memanggil saya. Diam-diam, di luar jam kantor." Sekar menggenggam cangkirnya erat. "Beliau menunjukkan saya beberapa dokumen reklamasi dan bertanya: secara hukum, kalau saya mau menyeret seseorang yang sangat kuat ke pengadilan, bukti apa yang cukup kuat agar tidak bisa dipatahkan? Saya jawab apa adanya. Saya tidak tahu siapa yang beliau maksud. Tapi melihat wajahnya hari itu, saya tahu beliau sedang berperang melawan seseorang yang dekat dengannya."
Jantung Renata berdebar. "Mbak mau membantu saya?"
Sekar terdiam lama. Dia menatap ke luar jendela, ke jalanan yang ramai, lalu menghela napas berat. "Mbak Renata, saya akan jujur, karena Mbak berhak tahu. Saya punya dua anak. Saya punya cicilan rumah. Saya punya karier yang saya bangun dari nol selama lima belas tahun di pemerintahan ini. Dan orang yang kemungkinan besar terlibat dalam ini—dia bisa menghancurkan semua itu hanya dengan satu telepon. Saya bukan pahlawan, Mbak. Saya tidak bisa berjanji akan berdiri di garis depan bersama Mbak."
Renata merasakan kekecewaan menusuk, tapi dia juga menghargai kejujuran itu. Itu lebih berharga daripada keberanian palsu. "Lalu kenapa Mbak datang ke sini hari ini?"
Sekar menatapnya. "Karena ayah Mbak orang baik. Salah satu dari sedikit yang tersisa. Dan saya tidak bisa hidup dengan tenang kalau saya tidak melakukan apa pun." Dia mengeluarkan secarik kertas dari tasnya dan menyodorkannya ke meja. "Ini yang bisa saya lakukan. Bukan kesaksian. Bukan dokumen yang bisa ditelusuri ke saya. Hanya petunjuk. Ada satu nama di proyek reklamasi—seorang notaris yang mengurus pendirian tiga perusahaan yang Mbak cari. Namanya ada di situ. Notaris itu... dia tidak setangguh para pemain besar. Kalau ada yang bisa dibuat bicara, dia orangnya. Tapi setelah ini, tolong jangan hubungi saya lagi. Demi anak-anak saya."
Renata mengambil kertas itu. Satu nama, satu alamat kantor notaris. Petunjuk pertama yang nyata. "Saya mengerti, Mbak Sekar. Dan saya tidak akan pernah menyebut nama Mbak. Pada siapa pun."
Sekar berdiri, merapikan tasnya. Tapi sebelum pergi, dia berhenti dan menatap Renata dengan tatapan yang campur aduk—kasihan, kagum, dan takut. "Mbak Renata, satu nasihat terakhir. Apa yang Mbak hadapi ini bukan satu orang. Ini sebuah jaringan. Orang-orang yang sudah puluhan tahun saling melindungi. Mereka akan tersenyum pada Mbak, makan siang dengan Mbak, bahkan menawari Mbak kekuasaan. Tapi begitu Mbak jadi ancaman nyata, mereka tidak akan ragu sedikit pun." Dia menelan ludah. "Mereka sudah menyingkirkan seorang gubernur. Mbak hanya seorang anak gubernur. Hati-hatilah."
Kalimat itu menggantung di udara setelah Sekar pergi. Mereka sudah menyingkirkan seorang gubernur. Bukan lagi sebuah dugaan Renata sendiri. Sekarang orang lain mengucapkannya, seseorang yang mengenal sistem dari dalam.
Renata duduk sendirian di kedai itu untuk waktu yang lama, menatap secarik kertas dengan satu nama notaris. Sekar telah memberinya sekutu—tapi sekutu yang setengah hati, sekutu yang melarikan diri begitu memberi petunjuk. Dan untuk pertama kalinya Renata benar-benar mengerti apa arti dunia yang dimasuki ayahnya. Di sini, bahkan orang baik pun hanya bisa membantu dari kejauhan, dengan satu tangan, sambil menjaga punggung sendiri dengan tangan yang lain.
Dia tidak menyalahkan Sekar. Justru kejujuran itu membuatnya semakin sadar: kalau dia ingin keadilan untuk ayahnya, dia harus siap berjalan nyaris sendirian.