Kantor notaris itu berada di sebuah ruko tua di kawasan perdagangan lama, terhimpit di antara toko bahan bangunan dan apotek. Renata datang sebagai klien biasa—mengaku ingin berkonsultasi soal warisan ayahnya, yang sebenarnya bukan kebohongan penuh. Notaris bernama Bambang Sutejo itu menyambutnya dengan ramah, sampai Renata menyebut satu kata: reklamasi.
Wajah lelaki paruh baya itu langsung berubah pucat. Pulpennya berhenti di udara. Matanya melirik ke pintu, ke jendela, ke ponselnya, seolah memastikan tidak ada yang mendengar.
"Maaf, Mbak. Saya rasa Mbak salah orang. Saya tidak mengurus proyek seperti itu." Suaranya bergetar, dan kebohongannya begitu jelas sampai nyaris memilukan.
Renata tidak beranjak. Dia mengeluarkan satu lembar fotokopi dari map ayahnya—akta pendirian salah satu perusahaan fiktif, dengan tanda tangan dan stempel notaris Bambang Sutejo di bagian bawah. Dia meletakkannya di meja, perlahan, tanpa ancaman, hanya fakta.
"Pak Bambang," kata Renata pelan, "ayah saya, Gubernur Wirasena, menyimpan dokumen ini. Sepuluh hari sebelum beliau meninggal mendadak. Saya tidak datang untuk menjebak Bapak. Saya datang untuk mengerti. Karena saya yakin Bapak juga tahu—ayah saya tidak meninggal karena sakit biasa."
Lelaki itu menatap dokumen di mejanya seperti menatap hantu. Tangannya gemetar. Untuk waktu yang lama dia tidak bicara, hanya bernapas berat, dan ketika akhirnya membuka mulut, suaranya hampir tak terdengar.
"Saya hanya notaris, Mbak. Saya hanya menjalankan perintah. Mereka datang dengan semua dokumen sudah lengkap, saya tinggal mengesahkan. Saya tahu ada yang tidak beres. Tiga perusahaan, alamat sama, pemilik yang itu-itu juga di balik nama-nama pinjaman. Tapi kalau saya menolak..." Dia menggeleng. "Mbak tidak mengerti siapa orang-orang ini."
"Maka jelaskan pada saya," kata Renata. "Siapa yang datang? Siapa yang memberi perintah?"
Bambang menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Saya tidak bisa, Mbak. Saya punya keluarga. Setelah ayah Mbak meninggal, saya... saya mendapat telepon. Tanpa nama. Hanya satu kalimat: 'Lupakan semua yang kamu kerjakan tahun ini, kalau kamu mau anak-anakmu aman.' Mbak tahu apa artinya itu? Mereka tahu di mana anak-anak saya sekolah."
Renata merasakan dingin merayap di tengkuknya. Ini bukan sekadar korupsi proyek. Ini orang-orang yang berani mengancam, yang berani—dan map ayahnya membuktikannya—membunuh. Dia menatap notaris yang gemetar itu, dan dia tahu dia tidak boleh menekan lebih jauh. Menekan akan membuat lelaki ini hancur, atau lebih buruk, membuatnya menelepon orang yang salah.
"Saya tidak akan memaksa Bapak bersaksi," kata Renata akhirnya. "Tapi tolong, satu hal saja. Bukan nama. Hanya... apakah orang yang memberi perintah berasal dari lingkaran dalam pemerintahan? Dari orang-orang dekat ayah saya?"
Bambang menatapnya lama. Lalu, sangat pelan, dia mengangguk satu kali. Hanya satu kali. Tapi anggukan itu mengonfirmasi segalanya yang Renata takutkan.
"Dan satu lagi," bisik Bambang, suaranya nyaris habis, seolah berbicara saja sudah membebani jiwanya. "Saya tidak tahu apa-apa soal kematian ayah Mbak, sumpah. Tapi saya tahu satu hal. Dua hari sebelum beliau meninggal, ada yang menanyakan ke saya—lewat perantara—apakah ayah Mbak punya salinan dokumen ini. Saya jawab tidak tahu. Mereka tampak sangat... khawatir. Seolah dokumen di tangan ayah Mbak adalah masalah hidup dan mati bagi mereka."
Masalah hidup dan mati. Bagi mereka, atau bagi ayahnya?
Renata berdiri, mengambil kembali fotokopi itu, dan meletakkan kartu namanya di meja—nomor pribadi, bukan nama lengkap. "Kalau suatu hari Bapak merasa cukup aman untuk bicara, hubungi saya. Tidak ada paksaan. Tapi Pak Bambang—" dia menatap lelaki itu dengan lembut, "—rasa bersalah itu lebih berat daripada rasa takut. Saya melihatnya di mata Bapak. Saya hanya berharap, suatu hari, Bapak memilih untuk tidur nyenyak lagi."
Dia keluar dari ruko itu dengan jantung berdebar dan satu kepastian baru. Pelan-pelan, kepingan-kepingan itu menyusun gambaran yang menakutkan: sebuah skema korupsi ratusan miliar, sebuah jaringan yang berani mengancam dan membunuh, dan sebuah dokumen di tangan ayahnya yang menjadi alasan mengapa secangkir kopi malam berakhir di sisi tangannya yang dingin.
Tapi sekarang, dokumen itu ada di tangan Renata. Dan itu membuatnya—dia sadar dengan ngeri—menjadi target berikutnya.