Andin Maheswari menghubungi Renata tepat ketika dia paling rapuh—malam ketika dia baru menyadari bahwa dirinya mungkin sedang diawasi. Sebuah mobil hitam yang sama telah parkir di seberang apartemennya selama tiga malam berturut-turut. Dan saat ponselnya berdering dengan nama jurnalis itu, Renata nyaris merasa lega ada manusia lain yang ingin bicara dengannya, bukan mengawasinya dalam diam.
"Mbak Renata," suara Andin terdengar hangat dan profesional. "Saya tahu ini larut. Tapi saya pikir Mbak perlu tahu sebelum publik tahu. Besok, kantor saya akan menerbitkan sesuatu tentang ayah Mbak. Dan jujur, isinya tidak menyenangkan. Saya ingin memberi Mbak kesempatan menanggapi dulu. Karena saya percaya jurnalisme yang adil."
Renata merasakan dadanya mengencang. "Apa isinya?"
"Dugaan keterlibatan Gubernur Wirasena dalam penyelewengan dana proyek reklamasi. Sumber kami punya dokumen yang menunjukkan aliran dana mencurigakan di bawah kepemimpinan beliau." Jeda. "Mbak Renata, saya tidak ingin mencemarkan nama orang yang sudah tiada. Tapi kalau ini benar, publik berhak tahu. Saya beri Mbak kesempatan: maukah Mbak bertemu saya, bicara dari hati ke hati?"
Renata menutup mata. Inilah permainannya. Mereka akan membalik segalanya. Mereka akan menjadikan ayahnya—yang justru hendak membongkar korupsi itu—sebagai pelakunya. Dan begitu narasi itu terbentuk di media, kebenaran sesungguhnya tidak akan punya tempat untuk berdiri. Siapa pun yang kemudian mencoba mengungkap nama-nama di balik proyek itu akan dianggap sekadar membela seorang gubernur korup.
"Mbak Andin," kata Renata, menahan suaranya tetap rata, "siapa yang memberi Mbak dokumen itu?"
"Mbak tahu saya tidak bisa menyebut sumber."
"Saya mengerti. Tapi bolehkah saya bertanya satu hal? Apakah dokumen yang Mbak terima menunjukkan ke mana uang itu pergi? Nama-nama perusahaan? Atau hanya menunjukkan bahwa ayah saya yang menandatangani proyeknya?"
Hening sejenak di seberang. Cukup lama untuk membuat Renata tahu dia baru saja menyentuh titik lemah. "...Yang kedua," Andin akhirnya menjawab. "Dokumen yang saya terima menekankan tanda tangan dan tanggung jawab beliau. Bukan aliran dananya."
"Karena itulah saya minta Mbak bertemu saya," kata Renata cepat. "Besok pagi. Sebelum Mbak menerbitkan apa pun. Saya punya dokumen juga, Mbak Andin. Dokumen yang menunjukkan ke mana uang itu benar-benar pergi. Dan saya rasa Mbak terlalu pintar untuk mau dipakai sebagai senjata oleh orang yang memberi Mbak setengah cerita."
Mereka bertemu pagi itu di sebuah tempat yang dipilih Renata—ramai, terbuka, dengan banyak saksi. Renata sudah belajar. Dia tidak membawa map asli, hanya beberapa fotokopi yang sengaja dipilih: catatan tulisan tangan ayahnya, dan halaman yang menunjukkan tiga perusahaan fiktif dengan aliran dana. Dia meletakkannya di hadapan Andin tanpa berkata banyak, dan membiarkan jurnalis itu membaca.
Renata mengamati wajah Andin saat membaca. Dia melihat kebingungan, lalu kecurigaan, lalu—samar—rasa malu. Wajah seseorang yang baru menyadari dirinya nyaris menjadi alat.
"Ini tulisan tangan ayah saya," kata Renata pelan. "Beliau menulis ini sepuluh hari sebelum meninggal. Beliau hendak membawa ini ke KPK. Lalu beliau meninggal mendadak, di ruang kerjanya, di sebelah secangkir kopi yang—percayalah, Mbak—tidak pernah beliau minum di malam hari seumur hidupnya." Renata menatap mata Andin. "Mbak Andin, seseorang memberi Mbak dokumen agar Mbak menulis bahwa ayah saya korup. Pertanyaan saya: kenapa? Kalau ayah saya pelakunya, kenapa orang itu repot-repot ingin namanya tercoreng setelah dia mati? Yang dikubur tidak bisa diadili. Kecuali... yang ingin dikubur bukan ayah saya. Tapi kebenaran yang dia bawa."
Andin meletakkan dokumen itu. Lama dia diam. Lalu dia menghela napas panjang, dan untuk pertama kalinya, topeng profesionalnya terbuka sedikit. "Mbak Renata, saya akan jujur, karena saya orang yang sudah lima belas tahun di profesi ini dan saya tidak suka dipermainkan." Dia menatap Renata. "Dokumen yang saya terima memang datang dari orang dalam pemerintahan. Orang yang sangat dekat dengan ayah Mbak. Dan dia sangat ingin saya menerbitkan ini cepat-cepat, sebelum ada versi lain yang muncul." Andin menggeleng pelan. "Saya nyaris menerbitkannya. Saya hampir saja menjadi corong seseorang."
"Lalu sekarang?"
Andin menatap Renata lama. Renata tidak tahu apakah dia bisa memercayai jurnalis ini—orang yang beberapa menit lalu hendak menghancurkan nama ayahnya. Di dunia ini, dia mulai paham, bahkan orang yang akhirnya berpihak padamu mungkin baru saja hampir menikammu. Tapi Andin punya sesuatu yang Renata butuhkan: jangkauan, kredibilitas, dan—mungkin—nyali.
"Sekarang," kata Andin pelan, "saya ingin tahu siapa yang mencoba memakai saya. Dan saya rasa, Mbak Renata, kita berdua menginginkan nama yang sama." Dia menutup map fotokopi itu. "Saya tidak menerbitkan apa pun hari ini. Tapi saya butuh lebih dari ini. Saya butuh bukti yang tak terbantahkan. Karena kalau kita salah menyebut nama orang yang Mbak curigai, dia tidak akan menghancurkan reputasi kita. Dia akan menghancurkan kita."
Renata mengangguk. Dia baru saja mendapat sekutu kedua. Dan seperti yang pertama, sekutu ini pun datang dengan syarat, dengan kehati-hatian, dengan satu kaki yang siap mundur. Tapi kali ini, setidaknya, kakinya yang lain melangkah maju.