Pak Gunawan, pelaksana tugas gubernur, mengundang Renata makan malam di rumah pribadinya. Undangan itu datang melalui sekretaris, formal dan hangat, dan Renata menerimanya karena dia tahu—di politik, undangan makan malam jarang sekadar makan malam. Setiap kursi di meja itu adalah posisi. Setiap hidangan adalah pembukaan.
Rumah Gunawan megah tapi dingin, penuh ukiran kayu dan foto-foto dirinya bersama tokoh-tokoh penting. Mereka makan ditemani istri Gunawan yang banyak tersenyum tapi sedikit bicara. Di sepanjang hidangan pembuka dan utama, Gunawan bicara tentang ayah Renata dengan penuh hormat, mengenang masa-masa mereka bekerja bersama, memuji visinya. Renata mendengarkan, mengangguk, dan menunggu—karena dia tahu ada alasan sebenarnya di balik undangan ini.
Alasan itu datang bersama kopi dan kue.
"Renata," kata Gunawan, menyandarkan punggung, nada suaranya berubah menjadi lebih serius. "Saya dengar kamu sedang... menanyakan banyak hal. Soal proyek reklamasi. Soal hari-hari terakhir ayahmu."
Renata menjaga wajahnya tetap tenang, walau jantungnya berdebar. Berarti kabar tentang pertanyaan-pertanyaannya sudah sampai ke meja ini. Berarti ada yang melaporkan. "Saya hanya ingin mengerti, Pak. Sebagai anak."
"Tentu, tentu." Gunawan tersenyum, tapi matanya menusuk. "Tapi sebagai orang yang menyayangi ayahmu, izinkan saya memberi nasihat. Renata, ada hal-hal yang lebih baik dibiarkan terkubur bersama mereka yang pergi. Demi nama baik ayahmu. Demi masa depanmu sendiri." Dia menyesap kopinya. "Bram bercerita dia menawarimu jalan menuju kursi gubernur. Itu tawaran emas, Nak. Tapi tawaran itu hanya berlaku selama namamu—dan nama ayahmu—tetap bersih. Kamu mengerti maksud saya?"
Renata mengerti dengan sangat jelas. Ini adalah ancaman, dibungkus nasihat, disajikan di atas piring porselen. Berhenti bertanya, atau nama ayahmu akan dicoreng, dan masa depanmu akan hancur. Dan yang membuat darahnya dingin bukan ancamannya—melainkan kenyataan bahwa Gunawan dan Om Bram jelas-jelas berada di pihak yang sama. Pelaksana tugas gubernur dan penasihat senior almarhum. Dua orang paling kuat di lingkaran ayahnya. Bersekutu untuk menguburkan kebenaran.
"Pak Gunawan," kata Renata, memilih kata-katanya hati-hati, "saya menghargai nasihat Bapak. Tapi izinkan saya bertanya satu hal yang mengganggu saya. Malam ayah saya meninggal—Om Bram sudah ada di rumah dinas, berpakaian rapi, sebelum kabar resmi tersebar. Bahkan sebelum saya, anaknya sendiri, tiba. Apakah Bapak tahu kenapa beliau bisa secepat itu?"
Sesuatu berkelebat di wajah Gunawan—keterkejutan, lalu kewaspadaan. Dia tidak menyangka Renata akan menyerang balik. "Bram penasihat senior. Wajar dia segera hadir."
"Wajar," Renata mengulang pelan. "Sama wajarnya dengan ada secangkir kopi malam di meja ayah saya, padahal beliau tidak pernah minum kopi malam. Sama wajarnya dengan dokumen-dokumen pribadi beliau yang langsung diamankan staf sekretariat malam itu juga, sebelum keluarga sempat memeriksa apa pun."
Meja itu menjadi sunyi. Istri Gunawan berhenti menyendok kuenya. Gunawan menatap Renata dengan tatapan baru—bukan lagi seorang paman terhadap keponakan, tapi seorang pemain terhadap pemain lain yang ternyata jauh lebih berbahaya dari dugaannya.
"Kamu bermain api, Renata," kata Gunawan akhirnya, suaranya rendah, semua kepura-puraan hangat telah lenyap. "Ayahmu juga bermain api. Lihat apa yang terjadi padanya."
Kalimat itu menggantung di udara seperti pisau. Renata menelan ludah, tapi dia tidak menundukkan pandangan. "Terima kasih makan malamnya, Pak," katanya, berdiri. "Saya rasa saya sudah dapat apa yang saya perlukan."
Dia pergi dari rumah itu dengan kaki yang nyaris tidak terasa, tapi dengan kepala yang lebih jernih dari sebelumnya. Gunawan baru saja membuat dua kesalahan. Pertama, dia mengonfirmasi bahwa dia tahu—tahu persis—apa yang terjadi pada ayah Renata, dan memilih menutupinya. Kedua, dengan kalimat lihat apa yang terjadi padanya, dia nyaris mengakui bahwa kematian itu adalah peringatan, bukan kebetulan.
Tapi di mobil, ketika lega mulai mereda, ketakutan menggantikannya. Renata kini berhadapan bukan dengan satu orang, melainkan dengan dua pilar kekuasaan provinsi yang bersekutu. Dan dia, anak gubernur tanpa jabatan, tanpa pasukan, tanpa perlindungan, baru saja menyatakan perang di meja makan mereka sendiri.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Andin, hanya tiga kata yang membuat tangannya membeku di kemudi: "Notaris Bambang hilang."