Bambang Sutejo tidak benar-benar hilang—dia melarikan diri. Andin menemukan jejaknya melalui seorang kontak: notaris itu, ketakutan setengah mati setelah Renata mengunjunginya, telah mengemasi keluarganya dan kabur ke luar kota. Tapi sebelum pergi, dia melakukan satu hal yang mengubah segalanya. Dia meninggalkan sebuah amplop di kotak surat apartemen Renata, dengan tulisan tangan gemetar di sampulnya: "Untuk anak Pak Gubernur. Maaf saya pengecut. Semoga ini cukup."
Di dalam amplop itu ada flashdisk dan secarik surat. Surat itu adalah pernyataan tertulis Bambang—bukan kesaksian resmi, tapi cukup terperinci: bagaimana dia diperintah mendirikan tiga perusahaan fiktif, siapa perantara yang datang ke kantornya, dan satu detail yang membuat napas Renata tercekat. Perantara itu adalah Yudha—pria muda berjas yang Renata lihat memindahkan dokumen ayahnya di malam kematian. Dan Yudha, surat itu menulis, "selalu mengaku bertindak atas perintah Pak Bram."
Pak Bram. Akhirnya, nama itu ditulis. Nama yang sepuluh hari sebelum kematiannya, ayah Renata "belum berani tulis." Sahabat seperjuangan tiga puluh tahun. Penasihat yang memeluknya di malam kematian ayahnya. Paman yang menawarinya kursi nomor satu sambil berkata percayalah hanya pada Om.
Flashdisk itu berisi lebih banyak lagi: salinan rekening, surel, dan rekaman percakapan yang diam-diam disimpan Bambang sebagai jaminan keselamatannya sendiri—rekaman di mana suara yang dikenali sebagai Yudha berkata, "Pak Bram bilang, dokumen di tangan Gubernur harus selesai sebelum hari Senin. Beliau tidak mau ada kejutan di rapat KPK."
Sebelum hari Senin. Ayah Renata meninggal pada Sabtu malam.
Renata duduk di lantai apartemennya, dikelilingi bukti-bukti yang baru saja membuat dunianya runtuh dan tegak kembali di saat yang sama. Dia menelepon Andin. Mereka bertemu tengah malam, dan menyusun strategi sampai subuh.
"Ini cukup untuk artikel yang menghancurkan Bram," kata Andin, matanya berbinar dengan naluri jurnalis yang mencium cerita terbesar dalam kariernya. "Tapi Renata, dengar saya. Begitu kita terbitkan, mereka akan menyerang balik dengan segala cara. Mereka akan bilang dokumen ini palsu. Mereka akan menyerang nama saya, nama Mbak, kredibilitas kita berdua. Kita hanya punya satu tembakan, dan tembakan itu harus mematikan."
"Maka kita tidak menembak sendiri," kata Renata, dan untuk pertama kalinya sejak ayahnya meninggal, ada ketenangan dingin di suaranya—ketenangan yang dulu dia lihat pada ayahnya saat menghadapi lawan. "Kita serahkan semuanya ke KPK lebih dulu. Diam-diam. Lengkap. Map asli ayah saya, flashdisk Bambang, semuanya. Biarkan lembaga negara yang menembak. Lalu, di hari yang sama mereka bergerak, Mbak terbitkan ceritanya. Sehingga ketika Bram membuka mata di pagi hari, dia sudah dikepung dua arah sekaligus—hukum dan publik. Tidak ada ruang untuk menyangkal, tidak ada waktu untuk merebut narasi."
Andin menatapnya, lalu tersenyum kecil. "Mbak benar-benar putri ayah Mbak."
Tapi rencana itu nyaris gagal. Karena keesokan harinya, Om Bram menelepon, suaranya manis seperti biasa, mengundang Renata untuk "menjawab tawaran Om." Dan saat itu Renata sadar bahwa Bram tahu—mungkin tidak persis apa, tapi dia mencium bahwa Renata terlalu lama diam, terlalu lama "memikirkan." Mata-matanya pasti telah melaporkan kunjungan ke notaris, pertemuan dengan Andin. Bram sedang menutup jaring.
Renata melakukan satu hal yang membuat Andin nyaris terkena serangan jantung: dia menerima undangan itu. Dia datang menemui Om Bram, seorang diri, di ruang kerja penasihat senior itu di gedung pemerintahan. Karena dia tahu satu hal yang ayahnya ajarkan: kalau musuhmu yakin kamu sudah kalah, dia akan membuka mulut lebih lebar dari seharusnya.
"Om," kata Renata, duduk di hadapan Bram dengan wajah seorang anak yang lelah dan menyerah, "saya sudah pikirkan tawaran Om. Saya capek melawan. Saya hanya ingin... mengerti satu hal sebelum saya bilang iya. Apakah Bapak menderita? Malam itu?"
Dan Bram—yakin dia telah menang, yakin gadis di hadapannya akhirnya tunduk dan siap menjadi boneka berwajah bersihnya—melembut. Dia menatap Renata dengan apa yang nyaris menyerupai penyesalan sejati. "Tidak, Nak. Dia tidak menderita. Aku memastikan itu. Ayahmu sahabatku. Aku menyayanginya. Tapi dia... dia tidak mau mendengarkan. Aku sudah memohon padanya untuk berhenti, untuk berpikir tentang dirimu, tentang masa depanmu. Empat ratus miliar itu, Renata—itu untuk kita semua, untuk partai, untuk masa depan. Dia mau membuang semuanya demi sebuah prinsip." Bram menggeleng, matanya basah. "Aku tidak punya pilihan. Tapi aku berjanji padanya, dalam hati, aku akan menjaga putrinya. Dan itulah yang sedang kulakukan sekarang."
Air mata mengalir di pipi Renata—nyata, tak tertahankan, karena dia baru saja mendengar pengakuan pembunuhan ayahnya dari mulut orang yang ayahnya panggil sahabat selama tiga puluh tahun. Tapi di saku jaketnya, ponsel kecil itu terus merekam setiap kata.
"Terima kasih, Om," bisik Renata, berdiri, "atas kejujurannya."
Sesuatu di nada suaranya membuat Bram berhenti. Senyumnya memudar. Untuk pertama kalinya, ketakutan melintas di mata lelaki tua yang licik itu. Tapi sudah terlambat.