Peta yang dibuat Dimas menunjuk ke satu titik yang sudah lama Tari hindari, dan titik itu adalah tempat semuanya bermula.
Pasar Genteng di pagi yang basah berbau sama persis seperti hari ia membeli ponsel terkutuk itu: lem, keringat, ikan asin, dan sesuatu yang lebih tua dari semuanya, bau besi tua yang berkarat pelan. Tari menaiki tangga ke lantai dua dengan Yusuf di belakangnya, dan kakinya tahu jalan ini meski kepalanya tak ingin mengingatnya. Konter di pojok itu masih ada. Tapi penjaganya bukan lelaki muda dengan rokok terselip di telinga. Seorang perempuan tua kini duduk di balik etalase, menata casing ponsel warna-warni, dan ketika Tari bertanya tentang penjaga lama, ia hanya mengangkat bahu.
"Mas Heru? Sudah lama nggak ke sini, Mbak. Setahun lebih. Kiosnya saya ambil alih karena dia hilang gitu aja. Utangnya banyak."
"Hilang ke mana, Bu?"
Perempuan itu menurunkan suaranya, walau pasar di sekelilingnya ramai. "Katanya sih jadi nggak waras. Ada yang lihat dia di kolong jembatan dekat Pasar Turi. Ngomong sendiri. Kasihan. Padahal dulu rajin, pinter dagang." Ia menggeleng. "Saya nggak mau ikut campur."
Mereka menemukannya tiga hari kemudian, setelah bertanya dari pedagang ke pedagang, dari tukang parkir ke tukang becak. Heru, lelaki yang dulu menyodorkan ponsel itu sambil berkata mesin sehat cuma kaca, kini duduk di trotoar di depan sebuah toko kaca yang sudah tutup. Pakaiannya compang-camping, rambutnya gimbal, dan ia menatap pantulan dirinya di etalase kaca yang gelap itu, bicara terus-menerus dengan suara rendah.
Tari berjongkok di depannya, hati-hati, menjaga jarak. "Mas Heru?"
Lelaki itu tidak menoleh. Matanya tetap terpaku pada kaca. "Jangan halangi," gumamnya. "Mereka lagi ngomong. Kalau aku pindah, mereka diam, terus aku nggak tahu apa yang harus aku jual besok."
Tari merasa lehernya dingin. Ia mengikuti arah pandang Heru ke etalase kaca yang gelap. Tidak ada apa-apa di sana selain pantulan mereka bertiga, kabur, dan punggung-punggung orang yang lalu lalang. Tapi cara Heru menatapnya, dengan lapar dan takut yang sama, mengingatkan Tari pada wajahnya sendiri di hari-hari pertama.
"Mas dengar suara dari kaca?" tanya Tari pelan.
Untuk pertama kali Heru menoleh padanya. Matanya merah, kelopaknya bengkak seperti orang yang lama tak tidur, dan di kedua mata itu ada sesuatu yang Tari kenal, sesuatu yang dulu nyaris menariknya ke tepi lantai dua. "Kamu juga dengar," kata Heru, dan suaranya tiba-tiba jernih, jernih yang menakutkan. "Aku tahu kamu. Kamu yang beli yang hitam itu. Yang layarnya retak. Lima puluh ribu." Bibirnya bergetar. "Aku minta maaf. Aku nggak tahu. Sumpah aku nggak tahu kenapa selalu yang itu yang laku."
Yusuf berlutut di samping Tari, suaranya tenang, suara yang dilatih untuk menenangkan orang yang panik. "Mas pernah jual berapa ponsel kayak gitu? Yang layarnya retak, yang murah?"
Heru menggeleng lambat, lalu mengangguk, lalu menggeleng lagi, seperti kepalanya tak bisa memutuskan. "Banyak. Banyak. Tapi nggak pernah aku yang nyari. Sumpah, Pak. Aku nggak pernah ke pengepul nyari yang retak. Mereka yang datang ke aku. Tiap kali ada yang laku, besoknya ada yang masuk lagi, yang sama, retaknya sama. Seakan dia balik sendiri ke aku." Ia mencengkeram lengan Tari, kuat, dingin. "Aku cuma tangannya, Mbak. Aku cuma yang nyodorin. Tapi aku nggak pernah milih."
Kata-kata itu menghantam Tari seperti air es. Aku cuma tangannya. Persis kalimat yang dulu dipakai benda itu untuk menjeratnya. Kamu tangan, aku mata. Heru bukan dalang. Heru hanya simpul lain dalam rantai yang sama, simpul yang lebih lama dipakai, lebih lama ditatap, sampai matanya rusak karena terlalu lama menatap lapar yang tak pernah kenyang.
Tari mengeluarkan ponselnya dan membuka grup. Ia mengetik cepat, jarinya gemetar bukan karena takut tapi karena marah yang dingin: Ketemu penjaga lamanya. Dia bukan musuh. Dia korban juga. Entitas pakai pasar bekas sebagai sarang pindah. Heru cuma perantara. Kita salah arah selama ini, bukan satu orang yang jahat, ini sebuah jalur.
Di seberang jalan, lampu toko kaca yang sudah tutup itu berkedip satu kali, lalu padam lagi, walau tak ada yang menyentuh sakelarnya. Heru menatap kaca itu, dan air matanya jatuh tanpa suara.
"Dia masih ngomong sama aku," bisik Heru. "Tiap kaca. Tiap layar mati. Dia bilang kalau aku diam dan terus jualan, dia janji nggak akan ambil aku. Tapi aku capek, Mbak. Aku capek dengerin."
Tari menggenggam tangan lelaki itu, dan untuk pertama kali sejak ia mengenal benda itu, ia menyadari betapa luas jala yang ditebar musuhnya, betapa banyak tangan kesepian yang sudah disentuhnya tanpa pernah mereka tahu mereka tersentuh.