Mereka membawa Heru ke sebuah panti rehabilitasi sosial milik pemerintah kota, tempat orang-orang seperti dia diberi makan dan tempat tidur dan, yang paling penting menurut Tari, ditemani.
Bu Sri ikut, karena Bu Sri tahu cara bicara dengan orang yang takut tanpa membuat mereka makin takut. Selama tiga hari mereka mengunjunginya bergantian, membawa makanan, mendengarkan ocehannya yang kadang waras kadang melantur, sampai sedikit demi sedikit, di ruang yang terang dan penuh suara orang lain, mata Heru mulai jernih lebih lama dari sebelumnya. Tari memperhatikan polanya. Di tempat ramai, Heru bicara seperti orang biasa. Begitu ditinggal sendirian, walau sebentar, ia kembali menatap kaca, jendela, layar televisi yang mati, apa pun yang bisa memantulkan dirinya dalam gelap.
"Ceritakan dari awal," kata Tari pada hari keempat, duduk di samping ranjang Heru di ruang yang dipenuhi sinar matahari sore. Dimas duduk di seberang, merekam dengan ponsel, karena Dimas percaya semua hal harus dicatat, bahkan hal yang tak bisa dijelaskan mesin. "Kapan pertama kali Mas sadar ada yang aneh sama ponsel-ponsel itu."
Heru menarik napas panjang. Tangannya, kini lebih bersih, gemetar memegang gelas teh. "Aku ngambil alih konter itu dari pamanku, tujuh tahun lalu. Paman juga jualan ponsel bekas. Pas dia kasih ke aku, dia cuma pesan satu hal. Katanya, kalau ada ponsel masuk yang layarnya retak garis dari pojok kanan atas, terus pecahnya kayak sarang laba-laba, jangan dipajang lama-lama. Jual cepat, semurah mungkin. Jangan kamu pakai sendiri. Jangan kamu colok ke charger kamu." Heru menelan ludah. "Aku tanya kenapa. Paman cuma bilang, pokoknya jangan. Itu yang bikin kios ini selalu laku. Itu juga yang bikin aku nggak pernah tidur enak."
Tari dan Dimas bertukar pandang. Tujuh tahun. Lebih lama dari yang mereka kira.
"Paman Mas masih ada?" tanya Tari.
Heru menggeleng. "Meninggal. Tiga tahun lalu. Jatuh dari atap rumahnya pas benerin antena. Katanya kecelakaan." Ia tertawa, tawa yang tak ada bahagianya. "Semua orang yang kena benda itu jatuh, Mbak. Kamu tahu itu, kan? Tapi yang nggak dimakan, yang cuma jualan kayak aku, kayak paman, kita nggak jatuh. Kita cuma... habis pelan-pelan. Otaknya yang jatuh duluan, badannya belakangan."
Dimas mengetuk-ngetukkan jarinya di lutut, kebiasaannya saat berpikir. "Mas tahu ponsel-ponsel itu masuk dari mana? Pengepulnya siapa?"
"Macam-macam. Tapi ujungnya selalu satu gudang. Di belakang pasar, dekat tempat parkir truk. Gudang penampungan barang bekas, ponsel rusak, elektronik, semua dikumpulin di situ sebelum disortir dan disebar ke kios-kios." Heru menatap Tari dengan mata yang tiba-tiba serius. "Kalau kalian mau ngerti, jangan cari orangnya. Cari bendanya. Cari di mana mereka numpuk sebelum dijual. Karena yang retak itu... aku sumpah, Mbak, mereka selalu balik ke gudang yang sama dulu sebelum nyebar lagi. Kayak burung pulang ke sarang."
Saat mereka keluar dari panti sore itu, langit Surabaya merah oleh debu dan matahari yang tenggelam. Tari berjalan diam, mencerna. Selama ini ia membayangkan musuhnya sebagai satu benda, satu ponsel hitam yang sudah ia lebur dan kubur. Lalu ia membayangkannya sebagai satu jiwa jahat yang berpindah dari ponsel ke ponsel. Tapi yang Heru gambarkan lebih buruk dan lebih membumi sekaligus: sebuah jalur pasokan. Sebuah rantai dagang barang bekas yang, entah bagaimana, menjadi urat nadi tempat lapar itu mengalir dari tangan ke tangan, dari kesepian ke kesepian.
"Dia nggak terikat satu benda," kata Dimas pelan, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Tari. "Dia numpang di mana pun ada layar retak yang murah dan ada orang sepi yang beli. Bendanya cuma gerbong. Relnya yang masalah."
Tari mengangguk. Di sakunya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal, masuk ke ruang chat yang seharusnya kosong, satu baris saja: Heru milikku, Tari. Kamu ambil tanganku. Sekarang aku butuh tangan baru. Pasar penuh tangan.
Ia tidak menyimpannya sendirian. Ia membacanya keras-keras pada Dimas, di trotoar yang ramai, di bawah lampu jalan yang baru menyala, dan suara hidup di sekeliling mereka menelan pesan itu seperti air menelan batu kecil. Tapi Tari tahu, kali ini, mengusir bisikan dari satu trotoar tidak cukup. Ia harus menemukan gudang itu.