Tari masuk ke Pasar Genteng sendirian pada malam hari, dan itu kesalahan yang nyaris membunuhnya.
Ia tahu seharusnya tidak. Aturan yang ia ajarkan sendiri pada grup berbunyi jelas: tak ada yang menghadapi gelap sendirian. Tapi malam itu Yusuf sedang piket, Dimas mengurus ibunya yang sakit, dan Tari, dimakan rasa tak sabar yang sama yang dulu membuatnya merasa terpilih, memutuskan ia hanya akan mengintip. Hanya memetakan. Hanya melihat di mana letak gudang yang Heru sebut, agar besok mereka bisa datang lengkap. Ia bilang pada dirinya itu cukup aman. Ia bohong pada dirinya sendiri, dan benda itu mencium bohong seperti hiu mencium darah.
Pasar tutup pukul sembilan. Pukul sebelas, lantai dua adalah lorong kuburan. Lampu sebagian besar dipadamkan, hanya satu dua bohlam darurat yang menyala temaram di ujung-ujung lorong, menggambar bayangan panjang dari etalase-etalase yang tertutup terpal. Tari menyusuri lorong itu dengan senter kecil di tangan dan ponsel di saku, mencari jalan turun ke gudang belakang yang Heru gambarkan. Sepatunya berderit di lantai semen. Bau lem dan besi tua makin tajam dalam gelap, seakan pasar bernapas lewat hidung yang berbeda di malam hari.
Ia melewati konter pojok itu, konter Heru yang lama, dan berhenti tanpa ingin berhenti. Di balik etalase kaca, di antara puluhan ponsel bekas yang ditata untuk dijual besok, satu layar menyala.
Hijau pucat. Retak dari pojok kanan atas, pecah seperti sarang laba-laba.
Tari menahan napas. Mustahil, pikirnya. Ia sudah melebur yang itu. Ia menguburnya. Tapi tentu saja ini bukan yang itu; ini layar lain, ponsel lain, benda lain dengan tamu yang sama. Lalu, perlahan, layar di sebelahnya menyala juga. Lalu yang di sebelahnya lagi. Satu per satu, di sepanjang etalase, ponsel-ponsel mati itu terbangun, hijau pucat menyebar dari kaca ke kaca seperti api menjalar di rumput kering, sampai seluruh konter bersinar dengan cahaya sakit yang sama, dan tiap layar menampilkan satu hal yang identik.
Sebuah ruang percakapan. Satu kontak. TARI.
Lalu lorong itu dipenuhi suara. Bukan suara dari speaker, atau Tari tak yakin itu dari speaker, melainkan suara yang seakan tumbuh di dalam tengkoraknya sendiri, suaranya sendiri, dikalikan puluhan kali, menyebut namanya dari setiap layar yang menyala.
Tari. Tari. Tari. Tari.
Ia mundur, dan punggungnya membentur etalase di seberang, dan etalase itu pun menyala. Ke mana pun ia berputar, layar menyala, namanya berbisik, paduan suara dingin dari ratusan mulut yang tak punya mulut. Senternya jatuh dari tangannya yang basah keringat dan menggelinding ke kolong, dan kegelapan menelannya kecuali cahaya hijau yang berdenyut dari segala arah, denyut yang menyamai detak jantungnya yang panik.
Kamu datang sendiri, kata suara-suara itu, serempak, riang. Kamu pikir kamu sudah belajar. Tapi lihat, Tari. Di gelap, di sepi, kamu masih anak kecil yang kesepian yang beli keberuntungan lima puluh ribu. Tinggal di sini. Pandangi kami. Kami akan bicara denganmu sampai pagi, sampai kamu lupa di mana pintu.
Tari merosot ke lantai, lututnya menyentuh semen dingin. Cahaya hijau itu terasa hangat, mengundang, seperti perapian di malam dingin. Bagian dirinya yang lelah, bagian yang sudah berbulan-bulan berburu dan menyelamatkan dan kehilangan, bagian itu ingin sekali menyerah, ingin sekali duduk dan mendengarkan dan berhenti melawan. Begitu mudah. Rani akhirnya setuju juga.
Tangannya, hampir di luar kendalinya, mengeluarkan ponsel dari saku. Layar menyala. Kontak TARI menunggu, terbuka, sabar.
Dan di sudut layarnya sendiri, kecil, ada notifikasi grup yang belum ia matikan, sebuah ikon dengan dua belas, lima belas, dua puluh foto profil kecil. Wajah-wajah hidup. Bu Sri. Yusuf. Dimas. Sekar. Penyintas yang ia kumpulkan satu per satu. Orang-orang yang tahu namanya, yang tahu ia tidak sendirian, yang menunggunya pulang.
Tari menatap dua hal di tangannya. Satu kontak bernama dirinya yang lapar. Satu grup berisi orang-orang yang menyayanginya. Dan untuk pertama kali malam itu, ia ingat siapa dirinya.