Jarinya bergerak sebelum keberaniannya sempat menyusul.
Tari tidak membuka kontak TARI. Ia menekan tombol panggilan grup, panggilan suara serempak ke semua anggota yang sedang daring, dan ia menekan pengeras suara sampai maksimal, dan ia berteriak ke dalam mikrofon ponselnya dengan suara yang gemetar tapi tak mau patah, "Aku di Pasar Genteng. Lantai dua. Aku bodoh, aku datang sendiri. Tolong, siapa pun, ngomong. Ngomong terus. Jangan berhenti."
Sambungan tersambung. Satu detik sunyi yang terasa selama setahun. Lalu suara Dimas, serak karena baru bangun, memenuhi lorong dari speaker kecil ponsel Tari. "Tari? Tari, aku di sini. Aku denger kamu. Bertahan, aku ngomong, dengerin aku. Tahun lalu ibuku masakin soto buat ulang tahunku, kuahnya kebanyakan garam, aku tetap makan tiga mangkuk biar dia seneng..."
Lalu suara Yusuf, lebih tegas, dari pos jaganya. "Tari, fokus ke suaraku. Aku Yusuf. Aku polisi, aku sudah kirim mobil ke pasar, sepuluh menit. Sekarang kamu cerita ke aku, apa yang kamu lihat, deskripsikan keras-keras."
Lalu Bu Sri, yang pasti baru terbangun, suaranya parau tapi hangat seperti selalu. "Nduk, denger Ibu. Inget waktu pertama kamu datang ke rumah Ibu di Wonokromo? Kamu duduk di kursi yang reyot itu, kamu nggak mau cerita karena malu. Sekarang kamu udah nggak malu, kan? Sekarang kamu cerita keras-keras."
Dan Sekar, suara mudanya bergetar tapi keras, "Mbak Tari, aku di sini! Aku yang dulu Mbak selamatin. Sekarang giliranku ngomongin Mbak balik. Dengerin aku, jangan dengerin yang lain!"
Suara-suara hidup itu, lima, lalu enam, lalu sembilan saat anggota lain bergabung satu per satu, membanjir keluar dari speaker kecil itu dan mengisi lorong pasar yang gelap. Cerita-cerita biasa. Soto kebanyakan garam. Kursi reyot. Ulang tahun. Hal-hal sepele dan hangat dan manusiawi yang tak ada apa-apanya melawan ramalan kematian, tapi justru karena itulah mereka tak bisa dilawan. Lapar di etalase tidak punya makanan untuk soto dan kursi reyot dan suara ibu yang menyebut nduk.
Tari berdiri, kakinya goyah, ponsel di tangan menyala oleh foto-foto profil kecil orang-orang yang menyayanginya. Ia berjalan menyusuri lorong, dan saat ia melewati tiap etalase sambil suara-suara hidup itu mengalir dari speakernya, layar-layar hijau pucat itu, satu per satu, mulai padam. Bukan dengan ledakan, bukan dengan jeritan. Mereka cuma redup, seperti bara yang kehabisan kayu, seperti tamu yang kehilangan minat karena makanannya sudah pergi. Paduan suara namanya melemah, terpecah, lalu hanya tinggal satu bisikan tipis yang nyaris tertelan suara Dimas yang masih bercerita soal sotonya.
Ia tak berhenti bicara. Itu yang ia pelajari di bulan-bulan terakhir, dan itu yang menyelamatkannya kini: kau tak boleh menunggu rasa takut hilang sebelum bersuara, kau harus bersuara justru saat rasa takut paling besar. Maka Tari, sambil berjalan, mulai membaca keras-keras tiap pesan yang sebelumnya muncul di layar etalase, membacanya pada saluran telepon yang masih hidup, agar Bu Sri dan Yusuf dan Sekar mendengar tiap kata yang seharusnya menjeratnya sendirian. Tinggal di sini, pandangi kami. Ia membacanya, dan suara di seberang menertawakannya, menelanjanginya, mengubah ancaman menjadi sekadar kalimat yang diucapkan terlalu banyak orang. Tiap kalimat yang ia bagikan kehilangan berat. Tiap retakan yang ia namai keras-keras berhenti memantul cahaya hijau itu ke matanya.
Aku akan ingat ini, Tari, bisik suara terakhir itu, tipis seperti sobekan kertas. Kamu lari ke mereka. Tapi tidak semua orang punya mereka. Aku tahu di mana yang sendirian.
Lalu sunyi. Etalase terakhir padam. Lorong itu gelap total kembali, gelap biasa, gelap mati yang tak berbisik. Tari memungut senternya dari kolong dengan tangan gemetar dan menyalakannya, dan cahaya putihnya yang jujur terasa seperti udara setelah hampir tenggelam.
Sirine mobil Yusuf terdengar mendekat di luar saat Tari menuruni tangga pasar. Sebelum keluar, ia berhenti di mulut tangga belakang, dan dengan senter ia menyusuri arah yang ditunjuk Heru, ke pintu besi berkarat di balik tumpukan kardus, pintu menuju gudang penampungan. Ia tidak membukanya malam itu. Ia tidak akan mengulangi kebodohannya. Tapi ia memotretnya, mencatat letaknya, dan ia tahu sekarang ke mana akar rantai ini menuju.
Di luar, Yusuf turun dari mobil dan memeluknya tanpa kata-kata, lalu melepaskannya dan menatapnya dengan marah yang lahir dari rasa takut. "Jangan pernah," katanya. "Jangan pernah lagi sendirian." Tari mengangguk, dan untuk pertama kali ia benar-benar memahaminya bukan sebagai aturan, melainkan sebagai janji.