Dimas membongkar semua data yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu, dan dari kekacauan angka itu ia menemukan satu benang merah yang tak punya penjelasan magis sama sekali.
Mereka berkumpul di rumah Bu Sri di Wonokromo, di meja makan yang sama tempat dulu mereka menyusun daftar dua belas korban. Kini meja itu penuh kertas: peta Surabaya yang Dimas tempeli titik-titik merah, lembar-lembar catatan servis, dan daftar nomor seri ponsel yang berhasil mereka lacak. Dimas berdiri di ujung meja, lengan kemejanya terlipat, dan ia menunjuk dengan pulpen seperti guru yang akhirnya yakin pada jawabannya.
"Aku ngecek tujuh unit yang sempat kita pegang," katanya. "Ponsel Sekar, dua unit dari Sidoarjo, satu dari korban lama yang keluarganya simpan, dan tiga yang kita beli buat sampel. Hardware-nya beda-beda merek, beda tahun, beda kapasitas. Nggak ada kesamaan teknis di mesinnya. Tapi ada satu hal yang sama di tujuh-tujuhnya."
Ia mengeluarkan tujuh foto close-up dari konektor pengisi daya tiap ponsel. Tari mencondongkan badan. Pada tiap foto, di lubang charger, ada goresan tipis yang identik, sebuah bekas aus berbentuk setengah lingkaran di sisi kiri konektor, seperti bekas colokan yang dimasukkan sedikit miring berulang kali.
"Tujuh ponsel beda merek punya bekas aus yang sama persis di lubang charger," kata Dimas. "Itu mustahil kebetulan. Pola aus kayak gini cuma muncul kalau ponsel berkali-kali dicolok ke charger yang konektornya sedikit bengkok, di sudut yang sama. Artinya tujuh ponsel ini, di suatu titik dalam hidupnya, pernah dicolok ke colokan yang sama. Charger yang sama. Stop kontak yang sama."
Yusuf bersandar, mengernyit. "Maksudmu ada satu tempat di mana semua ponsel ini pernah singgah dan diisi dayanya."
"Bukan cuma singgah," kata Dimas. "Diuji. Pikir aja. Kalau kamu pengepul barang bekas, kamu nerima setumpuk ponsel rusak, apa yang kamu lakukan sebelum jual? Kamu cas semua buat ngetes mana yang masih hidup. Satu meja, satu colokan ganda, kamu colok bergantian. Tiap unit nempel di colokan itu beberapa jam. Itu sebabnya bekas ausnya sama." Ia menatap Tari. "Ini bukan magis. Ini titik fisik. Satu tempat di mana setiap ponsel layar retak yang masuk ke rantai pasar pasti lewat dan pasti dicolok sebelum disebar."
Tari merasa sesuatu mengencang di dadanya, campuran harapan dan ngeri. "Gudang di belakang pasar," katanya. "Yang Heru sebut. Burung yang pulang ke sarang."
"Di situ tempat ponselnya dicolok bareng," Dimas mengangguk. "Aku nggak tahu apa yang bikin satu unit jadi terkutuk dan yang lain enggak. Mungkin nggak semua kena. Mungkin dia milih. Tapi pintu masuknya, gerbang di mana benda biasa ketemu sama yang nempel di benda, kemungkinan besar di colokan ganda itu. Kalau aku bener, itu artinya rantai ini punya leher botol. Satu titik sempit yang dilewati semuanya."
Bu Sri, yang sejak tadi diam mengaduk teh, akhirnya bersuara, pelan. "Dan kalau ada leher botol," katanya, "berarti ada tempat buat mencekiknya."
Mereka semua terdiam menatapnya. Tari merasakan kembali sensasi yang sudah lama tak ia rasa, bukan rasa terpilih yang beracun itu, melainkan sesuatu yang lebih bersih: rasa bahwa mereka, bersama, mulai memahami bentuk musuh mereka. Bukan hantu di satu layar. Bukan kutukan kosmik. Sebuah rantai pasokan barang bekas dengan satu titik temu fisik, sebuah colokan ganda di gudang pengap di belakang pasar, tempat tangan-tangan kesepian di seluruh kota tanpa sadar diberi makan.
"Kalau kita sita semua stok dari gudang itu," kata Tari pelan, "kita putus pasokannya. Bukan satu benda. Seluruh kiriman berikutnya."
"Itu bukan jaminan," Dimas mengingatkan, jujur seperti selalu. "Dia bisa pindah pakai jalur lain. Tapi ini paling dekat kita ke akar yang pernah kita capai. Ini bukan nyelametin satu orang lagi. Ini motong rel."
Yusuf menarik selembar kertas kosong dan mulai menulis. "Kalau gitu," katanya, "kita butuh rencana. Dan kita butuh masuk gudang itu tanpa ada satu pun dari kita yang sendirian, bahkan sedetik."